Wednesday, May 9, 2007

Menjawab Doktrin Trinitas


Tanya-jawab ini ditulis (dalam perspektif Alkitab) guna menjawab klaim-klaim Doktrin Trinitas/Tritunggal hasil rumusan dari konsili-konsili Gereja yang sarat tekanan dan kepentingan politik tahun 300-400an Masehi, yang menyatakan bahwa: Allah yang Sejati terdiri dari tiga pribadi (Allah Bapa, Allah Anak/Yesus, dan Allah Roh Kudus) yang satu dalam hakikat. Dalam Catholic Encyclopedia diterangkan: "Tritunggal adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan doktrin utama agama Kristen. Sang Bapa adalah Allah, Sang Anak (Yesus) adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah, …dalam Tritunggal ini … pribadinya sama kekal dan setara, semuanya tidak diciptakan dan Mahakuasa".
Hasil rumusan doktrin Trinitas/Tritunggal telah menjadikan Yesus sebagai AllahSejati. Tampaknya itulah yang menjadi pemicu pergulatan dan pertikaian teologi mengenai keilahian Yesus Kristus selama ribuan tahun. Alkitab, oleh para penerus doktrin Trinitas, dianggap mengandung ayat-ayat yang membuktikan bahwa doktrin Trinitas itu Alkitabiah adanya. Sebaliknya kaum Unitarian atau kaum AntiTrinitas justru punya pemahaman yang berbeda, Trinitas dipandang sebagai tidak Alkitabiah!
Penulis (seorang Unitarian) ingin mengajak pembaca untuk bersama-sama menjawab klaim-klaim Trinitarian serta ingin membuktikan secara Alkitabiah bahwa doktrin Trinitas yang menyatakan Yesus sebagai AllahSejati (Pribadi kedua dari Allah Trinitas) itu benar-benar perlu dikaji ulang keabsahannya. Semoga tulisan ini berguna bagi setiap orang yang membacanya!

"Menjawab Trinitas"
Perihal ke-allah-an Yesus Kristus

Yohanes 1:1
Klaim Trinitarian:
Pada Frase terakhir ayat ini menyatakan bahwa Firman [yang mengacu pada Yesus] itu adalah Allah. Bukankah itu berarti Yesus sama dengan Allah?

Jawab: Istilah kata "Allah/allah" dalam Alkitab merupakan padanan kata elohyim (Ibrani), theos (Yunani), God (Inggris). Sebagai catatan: dalam bahasa Ibrani [teks asli Alkitab] tidak ada pembedaan huruf besar-kecil. Jadi Allah dan allah sama saja, tidak ada bedanya. Istilah "allah" [elohyim / theos] dalam Alkitab bisa berarti dua macam makna:
Pertama, "allah" menunjuk pada 'allah sejati' [The True God] yaitu Bapa / Yahweh, satu-satunya Allah yang benar (Yohanes 17:3).
Kedua, "allah" yang tertulis dalam Alkitab juga bisa berarti 'mahluk-mahluk ilahi/sorgawi' atau divinity (bukan menunjuk pada Allah Sejati). Seperti halnya kata theos di Yoh 1:1 yang oleh LAI diterjemahkan sebagai "allah" (Firman itu adalah Allah) tidak dengan sendirinya menunjuk kepada Allah Sejati, karena kata "allah" [elohyim/theos] di Alkitab digunakan secara umum dalam pengertian mahluk ilahi/sorgawi, atau bahkan nabi dan raja yang secara fungsional menjadi utusan AllahSejati juga bisa disebut sebagai "allah", sebagaimana tertulis dalam:
Keluaran 7:1. Musa, sebagai nabi/juru bicara/utusan dari Allah Sejati, dia juga disebut "allah"[elohyim].
Mazmur 82:6. Mahluk-mahluk sorgawi juga disebut sebagai "allah"[elohyim].
Ibrani 1:8 yang MENGUTIP Mazmur 45:7-8 yang berbicara tentang pernikahan raja ("…Tahtamu ya Allah…") dalam PerjanjianLama, raja juga disebut "allah/elohyim" (dalam arti 'hakim' atau orang yang diagungkan/sangat dihormati).
Yesaya 9:5, "Seorang anak telah lahir …namanya disebutkan orang Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, …". Ayat ini berbicara mengenai anak raja Ahaz dan juga bisa ditafsirkan sebagai nubuatan yang mengacu kepada Yesus. Anak Ahaz disebut orang sebagai Allah yang Perkasa (karena di dalam anak itu Allah-Yahweh menyatakan kehadiran dan pertolongan-Nya).
Yohanes 10:35 menegaskan bahwa 'penerima dan pembawa' Firman [kepada siapa Firman itu disampaikan] bisa disebut sebagai "allah" juga.
Nah, dengan demikian kita bisa memahami bahwa DI DALAM ALKITAB: Musa disebut allah, para malaikat disebut para allah, raja juga disebut allah, anak raja Ahaz juga disebut allah, Penerima & Pembawa Firman juga disebut allah. Maka tidak masalah jika Yesus [sebagai Penerima & Pembawa Firman, yang bergelar ho logos, Sang Firman] kemudian di Yoh 1:1 bisa juga disebut sebagai "allah" (kai theos en ho logos, sang firman adalah allah). Dan bisa dipahami, bahwa sekalipun Musa, mahluk-mahluk sorgawi, raja, anak raja, dan penerima-pembawa Firman [termasuk Yesus], mereka semua bisa disebut sebagai "allah", tetapi mereka semua tentu bukanlah AllahSejati.
Dalam Yohanes 1:1 terjemahan Indonesia (LAI) kita jumpai ada dua kata "allah", di frase kedua dan ketiga. Tanpa meneliti bahasa Yunaninya, maka pembacanya sering menangkap "allah" pada frase kedua dan ketiga dianggap sama. Namun, kalau kita meneliti bahasa aslinya, tampak jelas sekali bahwa "allah" pada frase "Firman itu bersama dengan Allah" mengandung perbedaan makna dengan "allah" pada frase "Firman itu adalah Allah".
Untuk lebih jelasnya, mari kita pahami Yohanes 1:1 dalam bahasa aslinya, Yunani:
a) "en arkhe en ho logos" (pada mulanya adalah sang firman)
b) "kai ho logos en pros ton theon" (sang firman itu bersama-sama dengan sang allah/the god)
c) "kai theos en ho logos" (sang firman itu adalah allah)
Di bahasa Yunaninya, untuk "allah" pada frase b) dan frase c) tertulis berbeda: 'ton theon' dan 'theos'. Yang pertama memakai kata sandang, sementara yang kedua tidak. Di sini ada kesenjangan makna yang fatal antara bahasa Yunani dan bahasa Indonesia jika tidak dipahami artinya.
Bahasa Yunani "theos" bisa bermakna sebagai kata benda dan bisa juga mengacu sebagai kata sifat. "ton" adalah kata sandang. Jadi "ton theon" (di Yohanes 1:1b) berarti The God atau Sang Allah, mengacu pada Allah Sejati. Akan tetapi, tanpa kata sandang "ton" maka "theos" (di Yohanes 1:1c) bisa berarti suatu "sifat ilahi" (a god). Sebagai perbandingan kata, sama halnya seperti 'si manis' tidak sama artinya dengan 'manis'. Tambahan kata sandang "si" membuat "si manis" menjadi kata benda, tetapi tanpa "si" maka "manis" adalah kata sifat.
Dengan pemahaman yang lazim, "theos" dalam penggalan Yohanes 1:1c (firman itu adalah allah; kai theos en ho logos) memiliki arti yang berbeda dengan "ton theon" dalam penggalan kedua (firman itu bersama-sama dengan allah; kai ho logos en pros ton theos). Penggalan Yohanes 1:1c terjemahan Indonesia yang saat ini terbaca "Firman itu adalah Allah", sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai: "Firman itu adalah ilahi" atau "firman itu bersifat ilahi".
Dalam berbagai terjemahan bahasa Inggris, Yohanes 1:1c menjadi sangat jelas bahwa Firman itu adalah suatu allah (a god, bersifat ilahi) - The word was a god. Namun, sayangnya banyak kaum Trinitarian mengklaim bahwa yang menterjemahkan frase terakhir Yohanes 1:1 "The Word was a god" itu hanyalah Alkitab New World Translation milik sekte Saksi Yehuwa [yang dianggap sesat], sementara Alkitab lainnya menerjemahkan sebagai The word was God (sang firman adalah Allah[sejati]). Tetapi argumentasi serta penyangkalan tersebut ternyata tidaklah benar, karena ternyata Yohanes 1:1c di dalam banyak versi Alkitab justru semakin jelas mencatat bahwa "sang firman itu adalah suatu allah/bersifat ilahi [a god/divine]", sama sekali bukan "sang firman itu adalah Allah sejati [the god]". Bukti-bukti akurat tersebut di antaranya tercatat dalam banyak sekali terjemahan berbagai versi Alkitab berikut ini:

"and the word was a god" (Newcome, 1808)
"the Word was God’s" (Crellius,as quoted in The New Testament in an Improved Version)
"and the Word was a divine being." (La Bible du Centenaire, L’Evangile selon Jean, by Maurice Goguel,1928)
"the Logos was a god (John Samuel Thompson, The Montessoran; or The Gospel History According to the Four Evangelists, Baltimore; published by the translator, 1829)
"the Word was divine" (Goodspeed’s An American Translation, 1939)
"the word was a god." (Revised Version-Improved and Corrected)
"and god[-ly/-like] was the Word." (Prof. Felix Just, S.J. - Loyola Marymount University)
"the Logos was divine" (Moffatt’s The Bible, 1972)
"the Word was God*[ftn. or Deity, Divine, which is a better translation, because the Greek definite article is not present before this Greek word] (International English Bible-Extreme New Testament, 2001)
"and the Word was a god" (Reijnier Rooleeuw, M.D. -The New Testament of Our Lord Jesus Christ, translated from the Greek, 1694)
"[A]s a god the Command was" (Hermann Heinfetter, A Literal Translation of the New Testament,1863)
"The Word was a God" (Abner Kneeland-The New Testament in Greek and English, 1822)
"[A]nd a God (i.e. a Divine Being) was the Word" (Robert Young, LL.D. (Concise Commentary on the Holy Bible [Grand Rapids: Baker, n.d.], 54). 1885)
"the Word was a god" (Belsham N.T. 1809)
"And the logos was a god" (Leicester Ambrose, The Final Theology, Volume 1, New York, New York; M.B. Sawyer and Company, 1879)
"the Word was Deistic [=The Word was Godly] (Charles A.L. Totten, The Gospel of History, 1900)
"[A]nd was a god" (J.N. Jannaris, Zeitschrift fur die Newtestameutlich Wissencraft, (German periodical) 1901, International Bible Translators N.T. 1981)
"[A] Divine Person." (Samuel Clarke, M.A., D.D., rector of St. James, Westminster, A Paraphrase on the Gospel of John, London)
"a God" (Joseph Priestley, LL.D., F.R.S. [Philadelphia: Thomas Dobson, 1794], 37).)
"a God" (Lant Carpenter, LL.D (in Unitarianism in the Gospels [London: C. Stower, 1809], 156).)
"a god" (Andrews Norton, D.D. [Cambridge: Brown, Shattuck, and Company, 1833], 74).)
"a God" (Paul Wernle,(in The Beginnings of Christianity, vol. 1, The Rise of Religion [1903], 16).)
"and the [Marshal] [Word] was a god." (21st Century Literal)
[A]nd (a) God was the word" (George William Horner, The Coptic Version of the New Testament, 1911)
"[A]nd the Word was of divine nature" (Ernest Findlay Scott, The Literature of the New Testament, New York, Columbia University Press, 1932)
[T]he Word was a God" (James L. Tomanec, The New Testament of our Lord and Savior Jesus Anointed, 1958)
"The Word had the same nature as God" (Philip Harner, JBL, Vol. 92, 1974)
"And a god (or, of a divine kind) was the Word" (Siegfried Schulz, Das Evangelium nach Johannes, 1975)
"and godlike sort was the Logos" (Johannes Schneider, Das Evangelium nach Johannes, 1978)
"the Word was a divine Being" (Scholar’s Version-The Five Gospels, 1993)
"The Divine word and wisdom was there with God, and it was what God was" (J. Madsen, New Testament A Rendering , 1994)
"a God/god was the Logos/logos" (Jurgen Becker, Das Evangelium nach Johannes, 1979)
"The Word/word was itself a divine Being/being." (Curt Stage, The New Testament, 1907)
"the Word was of divine kind" (Lyder Brun (Norw. professor of NT theology), 1945)
"was of divine Kind/kind" (Fredrich Pfaefflin, The New Testament, 1949)
"godlike Being/being had the Word/word" (Albrecht, 1957)
"the word of the world was a divine being" (Smit, 1960)
"God(=godlike Being/being) was the Word/word" (Menge, 1961)
"divine (of the category divinity)was the Logos" (Haenchen (tr. By R. Funk), 1984)
"And the Word was divine." (William Temple, Archbishop of York, Readings in St. John’s Gospel, London, Macmillan & Co.,1933)
The Word of Speech was a God" (John Crellius, Latin form of German, The 2 Books of John Crellius Fancus, Touching One God the Father, 1631)
"the word was with Allah[God] and the word was a god" (Greek Orthodox /Arabic Calendar, incorporating portions of the 4 Gospels, Greek Orthodox Patriarchy or Beirut, May, 1983)
"And the Word was Divine" (Ervin Edward Stringfellow (Prof. of NT Language and Literature/Drake University, 1943)
"and the Logos was divine (a divine being)" (Robert Harvey, D.D., Professor of New Testament Language and Literature, Westminster College, Cambridge, in The Historic Jesus in the New Testament, London, Student Movement Christian Press1931)
‘the word was a divine being.’ (Jesuit John L. McKenzie, 1965, wrote in his Dictionary of the Bible: "Jn 1:1 should rigorously be translated . . . ‘the word was a divine being.’)
"In a beginning was the Word, and the Word was with the God, and a god was the Word." (Interlineary Word for Word English Translation-Emphatic Diaglott)

Kesimpulan: Frase "Firman itu adalah Allah" di Yohanes 1:1c tidak bermakna bahwa Yesus itu adalah AllahSejati. Yohanes 1:1 tidaklah tepat untuk dijadikan dasar ayat guna membuktikan seolah-olah Yesus itu adalah AllahSejati (The true God) seperti klaim kaum Trinitarian. Yohanes 1:1 samasekali tidak menerangkan bahwa Yesus itu adalah Allah sejati/The true God. "Firman itu adalah Allah" (kai theos en ho logos) hanya akan tepat dipahami sebagai "sang firman itu adalah suatu allah/mahluk yang bersifat ilahi".

Filipi 2:6
Klaim Trinitarian:
Yesus, oleh Paulus, disebut "dalam rupa Allah". Bukankah itu artinya Yesus adalah AllahSejati?

Jawab: Terjemahan LAI untuk Filipi 2:6 adalah "(Yesus) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan". Penulis kitab Filipi adalah Paulus. Apakah benar Paulus menganggap Yesus setara dengan Bapa/Yahweh? Paulus tegas mengatakan bahwa "hanya ada satu Allah yaitu Bapa"(1korintus 8:6), dan kata Paulus, Bapa itu adalah Allah dari Yesus Kristus (Allah-nya Yesus). Hal itu tertulis di surat Paulus kepada jemaat Efesus: "..the God and father of our lord Jesus Christ [Sang Allah dan Bapa-nya tuan kita Yesus kristus]" (Efesus 1:3, bdkn Efesus 1:17).
Membandingkan dengan terjemahan bahasa Inggris akan tampak jelas bahwa Filipi 2:6 terjemahan LAI ternyata kurang tepat. Dalam Revised Stamdard Version dikatakan: "..thought it not robbery to be equal with God". Jadi terjemahan bahasa Indonesia oleh LAI sangat tidak tepat, karena sebenarnya samasekali tidak ada kata dipertahankan, melainkan yang ada kata perampasan (robbery). Maka terjemahan yang benar seharusnya: "..(Yesus) yang dalam bentuk ilahi, tidak memikirkan perampasan untuk menjadi setara dengan Allah". Kalau dibaca keseluruhan Filipi 2:5-11 mengungkapkan ketaatan dan kerendahan hati Yesus kepada Allah.
Paulus tidak menyebut Yesus sebagai Allah! Hal itu juga ditegaskan oleh Pembina Penerjemahan Alkitab dari Lembaga Alkitab Indonesia, Hortensius F. Mandaru, SSL, mengatakan: "Paulus tidak pernah menyebut Yesus kristus sebagai Allah!" (Crescendo 323, 2007, hlm. 49).

Yohanes 10:30
Klaim Trinitarian:
Di ayat ini Yesus berkata "Aku dan Bapa adalah satu". Satu artinya satu hakikat, berarti Yesus itu ya AllahSejati karena satu hakikat dengan Bapa.

Jawab: Apakah ayat itu semata-mata harus mutlak ditafsirkan bahwa Yesus dan Bapa [Allah] adalah satu hakikat? Tidak demikian. Memahami kata 'satu' di Yoh 10:30 tentu tidak bisa lepas dari konteks Yoh 10:25 [ayat sebelum Yoh 10:30] yang berbicara soal Yesus melakukan pekerjaan-pekerjaan dalam nama Bapa/Allah. Kata 'satu' tersebut sama halnya ketika Yesus memohon pada Bapa dalam Yoh 17:11, 21-23: "…Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku, supaya mereka menjadi satu sama seperti kita". Ayat 21: "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau ya Bapa, di dalam aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, ..". Ayat 22-23: "…supaya mereka menjadi satu, sama seperti kita adalah satu: Aku di dalam mereka, dan Engkau di dalam aku, supaya mereka sempurna menjadi satu …".
Dapat dipahami dengan tepat, makna kata 'satu' sesuai konteksnya adalah : Satu pekerjaan [baca Yoh 10:25 Yesus melakukan pekerjaan-pekerjaan dalam nama Bapa], satu visi, satu spirit, satu hati satu pikir. Bukan satu hakikat! Karena kalau diartikan sebagai satu hakikat, apakah ini berarti orang-orang percaya yang hidup "di dalam Yesus dan di dalam Bapa" mereka menjadi satu hakikat pula dengan Allah atau mereka menjadi Allah semua?! Tentu tidak.

Matius 28:19
Klaim Trinitarian:
"Baptislah dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus". Bukankah ayat ini mengajarkan adanya tiga pribadi Allah (Trinitas)?

Jawab: Memang ayat itu menyebutkan Bapa, Anak dan Roh Kudus, tapi samasekali tidak mengatakan 'Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus'. Jadi jelas sekali, tanpa ditambahi embel-embel kata 'Allah', ayat itu tidak menerangkan tentang adanya tiga pribadi Allah / Trinitas.

Ulangan 6:4
Klaim Trinitarian:
Di Ul 6:4 "TUHAN itu Allah (elohyim) kita, TUHAN itu Esa (echad)!" Kata "esa" (Ibrani: echad) itu artinya satu kesatuan atau himpunan dan bukan satu dalam pengertian matematis. Juga halnya dengan kata "elohyim"[allah] itu juga bisa berarti jamak, lebih dari satu.

Jawab: Echad bukan kesatuan [himpunan]. Echad adalah numerik, satu benar-benar satu. Echad muncul dalam penerjemahan sebagai satu numerik, hanya satu (only), sendiri (alone), tunggal (undivided), satu-satunya (one single) (Theological Dictionary of the Old Testament, Grand Rapids: Erdmans, 1974, Jilid 1:194). Sebagai bukti: kata 'echad' dipakai pula dalam Yosua 12:9-24 "Raja negeri Yerikho, satu[echad]; raja negeri Yerusalem, satu[echad]; raja negeri Hebron, satu[echad]; raja negeri Yarmut, satu[echad];… jadi jumlah semua raja itu tiga puluh satu orang". Di sini jelas kata 'echad' dipakai untuk merinci daftar raja yang dikalahkan Yosua, maka jelas di situ kata 'echad' memiliki arti 'satu' dalam numerik/matematis hingga bisa disebutkan jumlah keseluruhan raja-raja tersebut 'tigapuluh satu orang'. Memang kata 'echad' dapat dipakai untuk menunjukkan himpunan, misalnya: "satu suku" yang artinya terdiri dari beberapa manusia, tetapi [kita harus teliti dan cermat] di situ yang dimaksudkan 'satu' adalah "satu suku", bukan dua suku atau tiga suku. Sukunya sendiri cuma satu. Dalam "satu suku" tidak mungkin terdiri dari beberapa suku. Demikian halnya dalam kasus "satu allah" tidaklah terdiri dari beberapa allah. Dan bagi orang Yahudi yang mempunyai pola pikir kongkret, satu ya satu, tidak ada ide abstrak tiga tapi satu - satu tapi tiga seperti doktrin Trinitas.
Soal kata "elohyim", secara umum akhiran -im merupakan bentuk plural. Apakah ini tidak menunjukkan bahwa Allah itu lebih dari satu? Secara umum benar bahwa akhiran -im biasanya mengindikasikan kemajemukan tetapi ada akhiran -im yang tidak mengacu pada kemajemukan melainkan keagungan (kebesaran), misalnya akhiran -im pada Panim (wajah), atau Shamayim (langit). Jadi bentuk -im yang mengacu pada keagungan (majestic pluralistic) adalah bentuk plural yang bermakna tunggal. Sebagai bukti pula, Musa di Keluaran 7:1 disebut sebagai elohyim (allah) dan tentu tidak berarti seorang Musa terdiri dari beberapa orang Musa, bukan?

1 Yohanes 5:7
Klaim Trinitarian:
1 Yoh 5:7 jelas mengatakan ada kesaksian di sorga: "Bapa, Firman dan Roh Kudus, dan ketiganya adalah satu". Bukankah ayat ini jelas sekali menyatakan adanya Allah Trinitas?

Jawab: Memang seolah-olah ayat itu ingin menegaskan bahwa di sorga ada 3 pribadi ke-Allah-an alias Trinitas. Tetapi setelah diselidiki, ternyata ayat itu adalah ayat sisipan (tambahan) yang ditambahkan oleh oknum-oknum yang tampaknya berupaya mengajarkan doktrin Trinitas. Padahal sebenarnya pada naskah aslinya ayat tersebut tidak ada!
Pakar Alkitab, Romo Tom Jacobs, Guru Besar Emeritus Tafsir Kitab Suci, Sanata Dharma - Yogya dan juga Hortensius F. Mandaru, SSL. dari Lembaga Alkitab Indonesia, keduanya [di Seminar Keilahian Yesus, 28 April 2007 di Semarang] sama-sama tegas menyatakan bahwa pada naskah asli Alkitab tidak ada ayat tersebut! Dan juga teolog terkenal Charles C. Ryrie dalam bukunya Teologi Dasar I halaman 70, menuliskan bahwa 1Yoh 5:7: jelas bukan bagian dari teks asli Kitab Suci. Teolog Dr. Herbert W. Amstrong memaparkan bahwa ayat ini ditambahkan ke Alkitab edisi Vulgata Latin ketika terjadi kontroversi panas antara Roma, Arius [pelopor Arianisme], dan umat Allah. Dua teolog ternama lain, Edward Gibbon dan Richard Porson, dari penelitian mereka sama-sama sepakat bahwa ayat 1Yoh 5:7 baru pertama kali dimasukkan oleh Gereja ke dalam Alkitab tahun 400 Masehi (Secrets of Mount Sinai, James Bentley, hlm. 30-33). Karena kuatnya bukti-bukti 'pemalsuan' ayat ini, maka dalam edisi-edisi Alkitab baru bahasa Inggris seperti The Revised Standart Version, The New Revised Standard Version, The New American Standard Bible, The New English Bible, The Philips Modern English Bible, dan lain-lain, para sarjana Alkitab meniadakan ayat itu dalam terjemahan mereka. Hanya King James Version yang masih mencantumkan ayat 'palsu' tersebut.

Kejadian 1:26
Klaim Trinitarian:
Kej 1:26 "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut rupa dan gambar Kita.." Bukankah ayat ini adalah bukti bahwa Allah / elohyim itu adalah jamak[kesatuan]?

Jawab: Allah yang sejati [Yahweh / Bapa] memang tidak seorang diri ketika menciptakan langit dan bumi. Kita bisa bandingkan Amsal 8:27 dimana Hikmat (Hikmat: gelar untuk Yesus, 1Korintus 1:24) berkata: "Ketika Ia[Allah] mempersiapkan langit, aku ada di sana, ketika Ia menggaris kaki langit ….aku ada sertaNya sebagai anak kesayangan, serta setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya".
Anak (pra eksistensi manusia Yesus) memang ikut aktif dalam peristiwa penciptaan, bahkan Allah mencipta segala sesuatu melalui perantaraan Anak, bandingkan dengan Yoh 1:3, Kolose 1:15-17, Ibrani 1:2. tetapi hal ini tidak berarti dengan sendirinya bahwa Anak adalah setara dengan Bapa. Bapa tetap lebih besar dari pada Yesus (Yoh 14:28).

Ibrani 1:2, Kolose 1:16, Yohanes 1:3
Klaim Trinitarian:
Ayat-ayat tersebut menyebut Yesus sebagai pencipta, bukankah artinya dia adalah AllahSejati?

Jawab: Yesus pencipta alam semesta, langit dan bumi serta manusia? Itu benar. Yesus memang adalah pencipta manusia, langit dan bumi, tapi tunggu dulu, jangan keburu menyimpulkan Yesus sebagai Allah sejati. Dalam Wahyu 3:14 Yesus yang bergelar Amin adalah awal dari ciptaan Allah, Kolose 1:15 Yesus disebut sebagai ciptaan yang sulung (=ciptaan awal). Nah, selanjutnya, Yesus sebagai ciptaan Allah yang awal, kemudian Ia memang terlibat proses penciptaan-penciptaan yang lainnya. Yesus sangat luar biasa! Dia adalah mahluk ilahi yang diberi kuasa oleh Allah untuk menciptakan manusia dan isi dunia, sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci:
"Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia [Allah] telah berbicara kepada kita DENGAN PERANTARAAN anak-Nya [Yesus], yang telah Ia [Allah] tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia [oleh Yesus], Allah telah menjadikan alam semesta" (Ibrani 1:1-2)
"Ia [Yesus] adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam dialah [Yesus] telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan ada di bumi, yang kelihatan dan tidak kelihatan,… segala sesuatu diciptakan oleh dia [Yesus] dan untuk dia" (Kolose 1:15-17)
"Segala sesuatu dijadikan oleh dia dan tanpa dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang dijadikan… Ia [Yesus] telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehnya, tetapi dunia tidak mengenalnya" (Yohanes 1:3, 10)
Menarik sekali memang! menurut Alkitab Yesus ternyata adalah pencipta manusia dan semesta alam! Tetapi dalam ayat yang lain yang biasa disebut sebagai Sang Pencipta adalah Yahweh "Tidakkah kau tahu, dan tidakkah kau dengar? Yahweh ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung …Akulah Yahweh yang menciptakan semuanya ini. Akulah yang menjadikan bumi dan yang menciptakan manusia di atasnya; tangan-Kulah yang membentangkan langit, dan Akulah yang memberi perintah kepada seluruh tentaranya" (Yesaya 40:28; 45:8,12). Jadi ada dua premis. Yahweh adalah Pencipta dan Yesus adalah Pencipta, maka tidak heran jika muncul kesimpulan bahwa Yesus itu Yahweh sendiri atau Allah yang sejati. Kesimpulan yang wajar saja menurut logika, sekalipun masih bisa dipertanyakan. Apakah jika dua Pribadi melakukan pekerjaan yang sama, maka keduanya pasti Pribadi yang sama atau kedudukan keduanya pasti setara dan sehakikat? Jawaban kami: belum tentu! Dalam hidup keseharian, khususnya di dunia hukum, ada yang namanya "bertindak untuk dan atas nama". Seorang advokat, misalnya, berwenang untuk melakukan tindakan atas nama orang lain asalkan diberi kuasa penuh oleh orang itu.
Unsur "bertindak untuk dan atas nama" ini juga bisa kita lihat ada pada relasi antara Yahweh [Allah sejati] dan Yesus Kristus [utusan Allah] dalam kasus penciptaan. Mari kita perhatikan kata sambung 'oleh' (through) yang kelihatannya sepele, namun sebenarnya sangat penting sekali pada Kolose 1:16 : " .. segala sesuatu diciptakan oleh dia dan untuk dia [RSV: All things were created through him and for him]" .Melalui (Through) Yesus Kristus, segala sesuatu telah dijadikan.
Kesaksian kitab suci tentang keberadaan Yesus sebagai 'pencipta manusia dan semesta alam' inilah yang telah membuat banyak orang 'tergiring' pada suatu kesimpulan bahwa dia adalah Allah yang sejati. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Memang Yesus adalah pencipta, tetapi dengan meneliti ayat-ayat Alkitab lebih seksama, kita akan mendapat pemahaman yang lebih jernih bahwa sebagai pencipta manusia dan semesta alam, Yesus ternyata tidak menciptakan segala sesuatunya itu dengan kuasanya sendiri, tetapi satu hal penting yang harus kita pahami adalah ternyata: KUASA KEMAMPUAN YESUS DALAM MENCIPTAKAN SEMESTA ALAM DAN MANUSIA SEBENARNYA ADALAH BUKAN BERASAL DARI DIRINYA SENDIRI, MELAINKAN YESUS BISA PUNYA KUASA UNTUK MENCIPTA KARENA IA TELAH DIBERI KUASA OLEH ALLAHNYA! Hal itu tertulis jelas dalam Matius 28:18 "…Kepadaku [kepada Yesus] telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi".
Kisah 2:22 "Yesus dari Nasaret, seorang yang ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang DILAKUKAN OLEH ALLAH DENGAN PERANTARAAN DIA di tengah-tengah kamu" Luar biasa bukan? Jelas sekali Para Rasul pun sangat paham bahwa Yesus adalah MEDIATOR (PERANTARA) Allah dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Yesus sebagai Mediator/Perantara juga dijelaskan oleh ayat yang lain: "Karena Allah itu Esa dan Esa pula Dia yang menjadi PENGANTARA antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus" (1Timotius 2:5). "…kita mempunyai seorang PENGANTARA pada Bapa, yaitu YESUS Kristus, yang adil" (1Yohanes 2:1b). "Tidak ada seorang pun yang datang pada Bapa, kalau tidak melalui aku"(Yoh 14:6).
Yesus adalah saluran atau sarana/perantara penciptaan, tetapi bukan sumber kuasanya. Allah, Bapalah, asal-usul segala kuasa dan kehidupan yang diwujudkan oleh/melalui Kristus. "Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tu[h]an saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehnya [through =melaluinya] segala sesuatu telah dijadikan dan karena dia kita hidup" (1 Korintus 8:6). Allah sebagai Sumber Kehidupan telah memberikan kuasa kepada Yesus Kristus, sehingga Ia berkuasa pula memberikan hidup kepada ciptaannya. Yesus menciptakan bukan hanya bumi, tetapi juga mahluk-mahluk hidup, termasuk manusia. "Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam dirinya sendiri … Dalam dia ada hidup, dan hidup itu adalah terang bagi manusia" (Yohanes 5:26; 1:3). Oleh karena itu, dalam salah satu perumpamaannya, Yesus menggambarkan hubungan antara Allah, dirinya, dan manusia seperti hubungan antara Pengusaha anggur, pokok anggur, dan ranting-ranting anggur itu: "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapakulah pengusahanya … Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam aku dan aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa"(Yohanes 15:1,5). Tanpa "Kuasa" dari Allah - menurut pengakuannya sendiri - Yesus jelas tidak sanggup melakukan apa-apa "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak (Yesus) TIDAK DAPAT MENGERJAKAN SESUATU DARI DIRINYA SENDIRI, jikalau ia tidak melihat Bapa (Allah) mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu pula yang dikerjakan Anak" (Yohanes 5:19).

Roma 9:5
Klaim Trinitarian:
Roma 9:5 "Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!" Bukankah di ayat ini Mesias yaitu Yesus adalah Allah yang harus dipuji selamanya?

Jawab: Ayat ini bermasalah. (Penjelasan berikut dikutip berdasar komentar Hortensius F. Mandaru, SSL dari LAI): Roma 9:5 merupakan salah satu ayat yang paling diperdebatkan dalam tafsir PerjanjianBaru. Terjemahan formal dari LAI berbunyi seperti tersebut di atas. Beberapa terjemahan modern juga bermakna seperti itu (meski memakai "koma", bukan "titik", misalnya: NRSV, NIV dan NJB). Menurut terjemahan-terjemahan ini, yang dimaksud dengan "Ia" dalam ayat ini adalah: Yesus. Terjemahan ini terasa paling wajar dari segi style bahasa Yunaninya dan cocok juga dengan style Paulus di tempat lain (Roma 1:25; Galatia 1:5; 2Korintus 11:31). Satu-satunya keberatan yang paling serius terhadap terjemahan ini adalah fakta bahwa Paulus tidak pernah menyebut Yesus Kristus sebagai Allah! Maka, aneh jika tiba-tiba di satu ayat ini dia membuat suatu kecualian dan dengan tegas menyebutkannya sebagai "Allah". Oleh karena itu, beberapa terjemahan lain berkeyakinan bahwa "Ia" disini adalah "Allah(Bapa)" bukan Yesus!.
Persoalannya memang rumit, sebab naskah tertua Yunani tidak memiliki tanda baca, padahal penempatan tanda "titik" atau "koma" dalam teks ini amat krusial untuk tafsiran/terjemahan. Konteks ayat ini sedikit lebih mendukung terjemahan yang menafsirkan "Ia" sebagai Allah Bapa. Setelah rentetan berkat bagi umat Israel ditampilkan (yang berpuncak pada anugerah seorang Mesias!), terasa logis bila Allah (Israel) itu dipuji. Namun ini pun belum meyakinkan, sebab secara psikologis rasanya tidak pas Paulus memuji Allah di ayat ini, sebab dia sebenarnya tengah mengungkapkan kekecewaannya atas ketidakpercayaan Israel. Memang dapat dikatakan bahwa dalam semua "berkat/pujian", Paulus umumnya memakai rumusan yang jelas mereservir "Allah" hanya untuk Bapa: "Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus" (bnd. 2Korintus 1:3;11:31; Efesus 1:3). Akan tetapi, dalam rumusan-rumusan 'berkat/pujian' seperti ini, kata "Terpujilah" selalu ditempatkan pada awal kalimat, padahal dalam Roma 9:5 kata tersebut menjadi kata ke-6 dalam kalimat, jelas ini sebuah konstruksi yang 'aneh' secara gramatikal! Jadi, menyangkut teks ini pandangan para ahli masih amat berimbang! Secara gramatikal, tafsiran pertama di atas sedikit lebih kuat, sedangkan dari sudut teologi Paulus, pendapat kedua lebih kuat. Terjemahan dinamis dari LAI (BIMK, juga TEV, NEB, NAB, dll.) menganut penafsiran kedua: "Terpujilah Allah untuk selama-lamanya. Amin". Perlu diketahui bahwa komite tekstual United Bible Society lebih mendukung tafsiran yang kedua juga.

Yohanes 20:28
Klaim Trinitarian:
Thomas, murid Yesus, menyapa Yesus sebagai Tuhan dan Allah, dan Yesus membiarkannya, bukankah itu artinya bahwa memang dia adalah AllahSejati?

Jawab: Perhatikan konteks ayat Yohanes 20:28 itu. Dalam keadaan tidak percaya pada kabar berita kebangkitan Yesus, tiba-tiba Thomas melihat di depan mata kepalanya sendiri bahwa Yesus benar-benar bangkit sehingga Thomas seketika terkejut dan berkata "Ya Tuhan dan Allahku!". Saat orang terkejut melihat Tsunami yang sangat dahsyat, orang itu berkata "Ya Tuhan dan Allahku!" bukan berarti gelombang Tsunami itu adalah Tuhan atau Allahnya, bukan? Ucapan "Ya Tuhan dan Allahku" itu adalah sebuah ekspresi keterkejutan.
Seperti dikemukakan Profesor Guru Besar Teologi, Thomas Mc Elwain, dapat dipahami dengan menyidik dari segi bahasa akan lebih jelas. Pada bahasa Yunani yang dipakai pada frase "Ya Tuhan dan Allahku" atau "My Lord and My God" di Yohanes 20:28 itu adalah "kurios" dan "theos". Teks Yunani pada frase "My Lord and My God" adalah frase yang menggunakan bentuk nominatif, baik pada kata Lord [kurios] maupun kata God [theos]. Karena kedua kata tersebut berasal dari deklensi kedua tunggal, maka dalam bahasa Yunani terdapat kasus vokatif yang bentuknya berbeda. (Vokatif [kata bentuk sapaan] dalam linguistik adalah bentuk kata yang menunjukkan seseorang/pihak yang diajak bicara). Bentuk vokatif dari "kurios" adalah "kurie" sedangkan bentuk vokatif dari "theos" adalah "thee". Jadi, apabila mengacu pada orang yang diajak bicara (dalam konteks ayat tersebut yaitu Yesus), maka kata-kata tersebut ("kurios" dan "theos") haruslah dalam bentuk vokatif yaitu: "Kurie" untuk kurios dan "thee" untuk theos. Tetapi apabila kata-kata itu mengacu pada orang / pihak yang bukan diajak bicara, maka bentuknya haruslah nominatif. Nah sekarang ternyata kata-kata itu berbentuk nominatif bukan vokatif! ini berarti bahwa kata-kata itu dimaksudkan bagi pihak lain, bukan pihak atau orang yang diajak bicara, yang dalam konteks ini adalah Yesus. Jadi, dengan tidak perlu ragu lagi, kita, paling tidak bisa mengetahui dengan pasti bahwa Yesus bukanlah "Lord" dan "God" yang dimaksud oleh Thomas dalam keterkejutannya itu. Thomas bukan menyapa Yesus. Jika pada saat terkejut, di depan orang yang anda serukan kepadanya "ya Tuhan dan Allahku!" begitu saja orang di depan anda itu menjadi Allah, saya kawatir akan ada ribuan orang yang mengklaim dirinya sebagai Allah setiap harinya, bukan?
Seruan keterkejutan Thomas "Ya Tuhan dan Allahku!" hal itu mengungkapkan keyakinan baru Thomas mengenai kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus itulah yang awalnya dia ragukan kebenarannya. Bagi Thomas tidak pernah ada pertanyaan apakah Yesus itu Allah sejati atau bukan. Yang ada hanyalah pertanyaan apakah Yesus itu bangkit atau tidak. Kebangkitan inilah yang diragukan oleh Thomas. Kebangkitan inilah yang Thomas akhirnya benar-benar lihat dengan mata kepalanya sendiri dan rasakan dengan jari-jari tangannya sendiri. Yesus tidak pernah mendapat pengakuan Thomas terhadapnya sebagai Allah karena memang Thomas tidak pernah mengakui Yesus sebagai Allahnya, dia hanya mengakui bahwa Yesus yang telah mati disalib itu benar-benar bangkit hidup kembali.

Yesaya 63:8-9
Klaim Trinitarian:
",, maka Ia (TUHAN ALLAH) menjadi juruselamat mereka dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan melainkan Ia (Allah) sendirilah yang menyelamatkan mereka, Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya". Bukankah ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa yang menjelma menjadi manusia Yesus adalah Allah sendiri dan bukan duta atau utusan?

Jawab: Terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia [terbitan di atas tahun 1980-sekarang] terhadap ayat tersebut tidak tepat! Dalam versi bahasa Inggris Holy Bible King James Version tertulis: "So He [The God] became their Savior in all their affliction He was afflicted. And the Angel of His Presence saved them, in His love and His pity He redeemed them". (Maka Ia[Allah] menjadi juru selamat mereka dalam kesesakkan mereka. Dan MALAIKAT YANG DI HADIRAT-NYA menyelamatkan mereka, dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya Dia menebus mereka".
Frase "Malaikat di hadirat-Nya" ternyata [mungkin oleh oknum-oknum dalam upaya mengajarkan Trinitas] telah diubah menjadi "bukan seorang duta atau utusan melainkan Ia (Allah) sendiri". Pada Alkitab LAI terbitan 1958-70 tertulis: "…Malak alhadiratnya (malaikat di hadirat Allah) memeliharakan mereka…". Perbedaan terjemahan tersebut jelas sangat fatal dan memiliki arti yang bertolak belakang, terjemahan LAI yang lama mengatakan bahwa yang memelihara adalah "Malak (Malaikat, Angel, utusan)" sementara terjemahan yang baru mengatakan "bukan utusan" ini jelas sangat bertentangan! Jadi jelas ayat aslinya tidak mengindikasikan bahwa Allah sendirilah yang menjelma menjadi Yesus seperti klaim Trinitarian.

Ibrani 1:8
Klaim Trinitarian:
Ayat ini mengacu pada Yesus, dan Bapa sendiri menyebut Anak sebagai Allah ("…Tahtamu ya Allah .."), itu berarti Anak/Yesus itu Allah sejati.

Jawab: Ayat ini jelas kutipan dari Perjanjian Lama - Mazmur 45:7-8 yang berbicara tentang pernikahan raja, maka tentu saja ayat ini harus dimengerti dalam arti PerjanjianLama yaitu dimana raja disebut sebagai "allah".

Yesaya 9:5
Klaim Trinitarian:
"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita …dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa [ElGibor], Bapa yang Kekal, Raja Damai.." Bukankah ayat ini jelas menunjuk pada Yesus, berarti Yesus adalah Allah yang Perkasa?

Jawab: Sekalipun umumnya orang yang menafsirkan ayat ini sebagai ramalan tentang Yesus, namun sebenarnya ayat itu tidak hanya berbicara mengenai Yesus, tetapi juga mengenai anak raja Ahaz. Anak Ahaz bisa disebutkan orang sebagai "Allah yang Perkasa, Raja Damai" karena di dalam anak itu Allah (Yahweh) menyatakan kejadiran dan pertolongan-Nya. Maka kalau pun ayat ini ditafsirkan mengacu pada Yesus, ya tidak masalah juga. Yesus - sama seperti anak Ahaz - mau disebutkan orang sebagai Allah yang Perkasa? tidak masalah, karena di dalam Yesus, Allah juga menyatakan kehadiran dan pertolongan-Nya.

Kolose 1:19
Klaim Trinitarian:
"Seluruh kepenuhan Allah ada di dalam Yesus", Bukankah itu artinya dia adalah benar-benar Allah sepenuhnya?

Jawab: Surat Kolose adalah tulisan 'bahasa' Paulus. Jika Paulus menuliskan frase "Seluruh kepenuhan Allah diam di dalam Yesus" itu tidak sertamerta berarti Yesus adalah AllahSejati. Buktinya di Surat Efesus 3:19b, Paulus juga menulis bahwa orang-orang percaya juga bisa "dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah".

Melihat Yesus = Melihat Allah
Klaim Trinitarian:
Yesus sering berbicara tentang dirinya sebagai satu dengan Allah Bapa dalam esensi atau zat dan sifat. Yesus dengan yakin mengatakan "jikalau sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga Bapa-Ku" (Yohanes 8:19). "Dan barangsiapa yang melihat Aku, ia melihat Dia [Bapa] yang telah mengutus Aku (Yohanes 12:45). "Barang siapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku" (Yoh 15:23). "Supaya semua orang menghormati Anak [Yesus] sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia" (Yoh 5:23). Ayat-ayat tersebut jelas sekali dengan pasti mengindikasikan bahwa Yesus adalah sama, setara dengan Allah Bapa. Buktinya: kenal Yesus dikatakan = kenal Bapa, melihat Yesus = melihat Bapa, membenci Yesus = membenci Bapa, tidak hormat pada Yesus = tidak hormat pada Bapa. Berarti jelas seperti yang tertulis di Yoh 1:30 tadi "Yesus dan Bapa adalah satu".

Jawab: Yesus tidak pernah dalam ayat-ayat tersebut mengklaim dirinya satu, sama dan setara dengan Bapa dalam esensi zat dan sifat. Yesus justru mengaku sebagai utusan Bapa dan hamba Allah, dan dia bilang "seorang hamba atau utusan tidaklah sama dengan tuannya yang mengutus"(Yoh 13:16), karena "Bapa [yang mengutus] lebih besar daripada Yesus, yang diutus oleh Bapa" (Yoh 14:28). Sebagai utusan yang sah, Yesus datang dalam nama Allahnya (Yoh 5:43a) dan mempunyai misi memperkenalkan Bapa/Allahnya, maka - sebagai jalan menuju Allah - bila sekiranya ada orang yang mau mengenal dan mendengarkan Yesus, mereka pasti kemudian akan bisa mengenal Bapa. Orang yang melihat kuasa-kuasa yang dilakukan Yesus itu artinya melihat kuasa-kuasa Bapa yang telah dinyatakan melalui Yesus (Matius 28:18, Kisah 2:22). Barangsiapa membenci Yesus, padahal Yesus adalah utusan sah dari Allah Bapa, maka artinya orang tersebut juga membenci dan menghina Bapa yang mengutus Yesus. Yesus sama sekali tidak mengaku setara atau satu zat dengan Bapa, dia mengaku bahwa dia adalah wakil / utusan dari Bapa. Dan karena sebagai utusan yang sah dan telah diberi kuasa, maka dari itu Yesus berhak atas loyalitas dan kepatuhan yang mutlak, seolah-olah dia adalah Allah itu sendiri. Namun dia tidak mengakui dirinya sebagai Allah sejati, tetapi sebagai hamba dan utusan Allah. Alkitab tegas bersaksi Yesus adalah hamba Allah yang dimuliakan dan diurapi oleh Allah sendiri (Matius 12:18, Kisah 3:13,26, 4:27, 30).

Yesus Disembah
Klaim Trinitarian:
Dalam beberapa ayat Alkitab tercatat bahwa Yesus disembah (Matius 2:2, 8:2, 9:18, 14:33, 15:25 dll.), bukankah hanya Allah saja yang boleh disembah?

Jawab: Yesus "disembah"? memang benar itu! tapi disembah dalam makna apa? apakah Yesus disembah seperti orang menyembah Allah yang sejati? Dalam bahasa Yunani, kata menyembah yang sering dipakai itu adalah "proskuneo", nah, kata "proskuneo" ini mengandung arti menyembah bisa dalam makna "MENGHORMAT". "Proskuneo" biasa digunakan untuk "menghormat/menyembah" Allah sejati dan juga orang-orang yang berkedudukan tinggi. Sedangkan untuk untuk penyembahan yang hanya kepada Allah sejati, kata yang digunakan adalah "latruo". Jadi jelas Yesus sebagai orang yang berkedudukan tinggi dan wakil Allah yang diurapi oleh Allah sendiri maka Yesus boleh mendapat "proskuneo" dari banyak orang. Karena Yesus sudah dipilih khusus dan diurapi oleh Allah sendiri, Yesus sudah menjadi pemimpin yang diberi kuasa di sorga dan bumi (Matius 28:18) maka, seperti tertulis di Ibrani 1:6 malaikat-malaikat di sorga juga tentu harus "proskuneo"(hormat) pada Yesus. Maka hal "penyembahan" yang berarti "menghormat" (proskuneo) itu tidaklah membuktikan bahwa Yesus adalah Allah sejati. Masalah tersebut hanyalah kesalahpahaman penafsiran pada makna "menyembah" itu saja, dan sebagai catatan: LAI dalam menerjemahkan "proskuneo" dan "latruo" sama-sama menerjemahkan dengan kata "menyembah".

Yesus Maha Tahu & Berkuasa Membuat Mujizat
Klaim Trinitarian:
Kitab suci menunjukkan bahwa Yesus mempunyai sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Allah sendiri. Di Matius 9:4, Matius 12:25, Yoh 2:24-25, Yoh 6:64 Di ayat-ayat itu jelas terbukti Yesus bisa mengetahui pikiran dan hati orang. Kalau dia bukan Allah sejati tentu Yesus tidak bisa Mahatahu seperti itu, bukan? Yesus juga Mahakuasa, buktinya dia dapat membangkitkan orang mati dan melakukan banyak mujuzat-mujizat yang luarbiasa.

Jawab: Tidaklah tepat kalau dikatakan Yesus itu Mahatahu. Yesus memang tahu banyak hal di sorga dan bumi [karena dia sudah diberi kuasa sorga dan bumi] tetapi dia jelas tidak Mahatahu, buktinya tentang hari kedatangannya yang kedua kali dia mengaku tidak tahu, hanya Bapa yang tahu (Matius 24:36, Markus 13:32). Kemudian kalau Yesus bisa tahu pikiran dan hati orang dan hal itu sertamerta dijadikan bukti bahwa dia Allah sejati, lantas bagaimana dengan Petrus di Kisah Rasul 5 dia juga bisa mengetahui hati dan pikiran Ananias dan Safira, apakah itu artinya Petrus juga adalah Allah sejati karena dia tahu hati dan pikiran orang? tentu tidak, bukan? Kemudian soal mujizat, itu adalah karena telah diberi kuasa oleh Allah, Petrus juga bisa menghidupkan orang mati (Kisah 9:40) dan membuat mujizat. Demikian juga Elisa, mayat-mayat yang kena tulang-tulangnya bisa hidup kembali (2Raja 13:20-21). Kuasa dan mujizat sumber-asalnya dari Allah (Mazmur 62:12).

Mengampuni Dosa
Klaim Trinitarian:
Di Matius 9:2-7Yesus bisa berkuasa mengampuni dosa, bukankah yang berkuasa mengampuni dosa hanya Allah sendiri? Dan Yesus juga menghakimi pada akhir zaman (Matius 25:31-32, Yoh 5:22,27) bukankah Hakim yang sejati adalah Allah sendiri? Jika Yesus = Hakim, itu artinya Yesus = Allah sendiri!

Jawab: Ya, di Matius 9:6 Yesus mengaku bahwa dia berkuasa mengampuni dosa. Yesus juga mengaku sebagai Hakim akhir zaman, itu benar. Mengapa Yesus bisa berkuasa mencipta? mengapa Yesus bisa berkuasa buat berbagai mujizat? Mengapa Yesus bisa bekuasa mengampuni dosa? mengapa Yesus bisa berkuasa menjadi Hakim? mengapa Yesus bisa berkuasa mengusir setan, mengapa Yesus berkuasa, berkuasa dan sangat berkuasa di sorga dan bumi? Apakah semua hal itu dikarenakan dia adalah Allah yang sejati? Tidak!! Yesus bisa hebat dan sangat berkuasa, baik di sorga maupun di bumi, semua itu adalah bukan karena dia AllahSejati. Semua kuasa milik Yesus adalah bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan karena "Kepada Yesus telah DIBERIKAN SEGALA KUASA DI SORGA DAN BUMI" oleh Bapa/Allahnya (Matius 29:18). Maka jangan heran jika Yesus dapat berkuasa melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah, semua itu karena "Dia telah diberi kuasa!". Semua mujizat dan hal ajaib yang dilakukan Yesus adalah bukan berasal dari kuasanya sendiri, melainkan Allah-lah yang melakukannya dengan memakai Yesus sebagai mediator. Hal itu jelas seperti tertulis di Kisah 2:22 "…Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan KEKUATAN-KEKUATAN DAN MUJIZAT-MUJIZAT DAN TANDA-TANDA YANG DILAKUKAN OLEH ALLAH DENGAN PERANTARAAN DIA di tengah-tengah kamu..". Yesus adalah mediator/pengantara dan Allah-lah sumber kuasanya.

Gelar Alfa Omega
Klaim Trinitarian:
Di kitab Wahyu 22:13, Yesus disebut sebagai Alfa dan Omega, bukankah "Alfa dan Omega" adalah nama atau gelar milik Allah (Yahweh) sendiri?

Jawab: Memang nama (gelar) "Alfa dan Omega" itu sebutan untuk Yahweh (AllahSejati). Nah, pertanyaannya: kalau Yesus bukanlah Yahweh itu sendiri, mengapa nama Alfa Omega bisa pula disebutkan pada Yesus? Jawabannya adalah jelas dan terang benderang seperti tertulis di Injil Yohanes 17:11,12 dalam perkataan (doa)nya Yesus sendiri berkata "Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu YANG TELAH ENGKAU BERIKAN KEPADA-KU, supaya mereka menjadi satu sama seperti kita adalah satu. Selama aku bersama mereka, aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu NAMA-MU YANG TELAH ENGKAU BERIKAN KEPADAKU;.." Di ayat itu dalam perkataan doanya kepada Allahnya Yesus sangat terang menjelaskan bahwa nama [gelar/sebutan] yang sebenarnya adalah milik Yahwe itu, seperti Alfa dan Omega, gelar itu memang telah diberikan atau dikenakan juga kepada Yesus yang mempunyai misi sebagai utusan Yahweh. Jadi jikaYesus disebut dengan nama Alfa dan Omega itu artinya adalah: Nama gelar milik Allah diberikan pada Yesus. Dan dalam Wahyu 3:12 juga membuktikan bahwa nama milik Yahwe bukan cuma diberikan pada Yesus saja tapi kata Yesus "Barangsiapa menang,…padanya akan kutuliskan[diberi] Nama Allah-ku [nama Yahwe],..". Jelas umat-umat Allah yang benar kelak akan mendapatkan nama / gelar milik Yahwe juga, sama seperti Yesus.

Anak Allah = Allah Anak
Klaim Trinitarian:
: Alkitab tegas mengatakan Yesus adalah Anak Allah atau Allah Anak, jelas dia adalah Allah. Memang di Alkitab orang-orang murid Yesus juga bisa disebut Anak-anak Allah, tapi Yesus disebut secara khusus sebagai "Anak Tunggal Allah" atau "Allah Anak" artinya dia betul-betul Allah sejati, Allah Anak, The True God.

Jawab: Istilah "Allah Anak" itu hanya ada di doktrin Trinitas. Di Alkitab jelas dari kitab Kejadian sampai Wahyu tidak ada istilah "Allah Anak", yang ada istilah "Anak Allah". Jadi kalau kaum Trinitarian bilang bahwa ada "Allah Anak", nah, itu jelas tidak Alkitabiah karena memang istilah itu jelas tidak ada di Alkitab! Jangan asal menyamakan antara istilah "Anak Allah" dengan "Allah Anak" itu jelas dua istilah yang sangat beda, seperti halnya "Anak Dokter" dengan "Dokter Anak" bukankah jelas sangat beda maknanya?! Tapi tentang istilah "Anak Allah" dan "Anak Tunggal Allah" itu memang ada banyak di Alkitab. Dan ingat dalam bahasa asli Alkitab tidak ada perbedaan huruf besar kecil, jadi sebenarnya istilah "Anak Allah" atau "anak Allah" atau "anak allah" jelas sama maknanya, dan semua orang bisa saja diberi kuasa menjadi "anak-anak Allah" (Yoh 1:12, Galatia 3:26, 1Yoh 3:1, dllnya). Dan lebih anehnya jika kaum Trinitas bisa-bisanya bilang "Anak Allah" artinya = Allah, berarti kalau Yesus sebagai Anak Allah=Allah sejati, maka saudara-saudaranya Yesus (Roma 8:29), umat-umat Allah, orang-orang pembawa damai, rasul-rasul, murid-murid Yesus - yang mana mereka semua disebut sebagai "Anak-anak Allah" juga (Roma 8:14-16) - apakah mereka = Allah-Allah sejati semua??? wah jadi banyak sekali Allah-Allahnya ya!? jadi Allah Sejati bukan lagi tiga Pribadi atau Trinitas, tapi Allah sejati ada jutaan pribadi bahkan mungkin miliyaran pribadi! ??? Itulah sebabnya musti hati-hati dengan istilah "Anak Allah" Jangan asal disamakan dengan Allah sejati, apalagi Allah Anak.

Kebangkitan Yesus
Klaim Trinitarian:
Yesus mati tetapi bisa hidup kembali bangkit sendiri, itu adalah bukti bahwa dia adalah AllahSejati. Yesus bangkit dengan kekuatan kuasanya sendiri.

Jawab: Beberapa Pendeta/teolog Trinitarian mengklaim bahwa salah satu bukti Yesus sebagai Allah sejati adalah Yesus telah bangkit dari kematian dengan kuasanya sendiri. Benarkah hal itu? Bagaimana dengan kesaksian kitab suci tentang hal tersebut? Mari kita selidiki:
Matius 16:21 " ..Yesus mulai menyatakan pada murid-muridnya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga."
Lukas 9:22 kata Yesus sendiri: " Anak Manusia …. dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga."
Kisah 2:24 "tetapi Allah membangkitkan dia [Yesus] dengan melepaskan dia dari sengsara maut, .."
Kisah 2:32 "Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi"
Kisah 3:15 "Demikianlah Ia [Yesus], pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan dia dari antara orang mati, dan tentang hal itu kami adalah saksi"
Kisah 4:10 "…Yesus Kristus, orang Nazaret, yang kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati…"
Kisah 5:30 "Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh."
Kisah 10:40 "Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, …"
Kisah 13:30 "Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati."
Kisah 13:34 "Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan tidak akan diserahkan kembali kepada kebinasaan."
Kisah 13:37 "Tetapi Yesus dibangkitkan Allah, .."
Roma 6:4 "Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, .."
Roma 7:4b "..Dia yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, .."
Roma 8:11 "Dan jika Roh Dia [kuasa Allah], yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia[Allah], yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh[kuasa]-Nya, yang diam di dalam kamu."
Roma 10:9b "… bahwa Allah telah membangkitkan Dia[Yesus] dari antara orang mati, .."
1Korintus 15:4 "Bahwa Ia telah dikuburkan, bahwa Ia telah dibangkitkan pada hari ketiga, sesuai kitab suci, "
1Korintus 15:12 "Jadi bilamana kami beritakan bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, .."
1Korintus 15:20 "tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari antara orang yang telah meninggal."
2Korintus 4:14 "Karena kami tahu, bahwa Ia[Allah], yang telah membangkitkan Tuan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus."
Galatia 1:1b "…Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia[Yesus] dari antara orang mati"
Efesus 1:19-20 "dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan dia dari antara orang mati dan mendudukkan dia di sebelah kanan-Nya di Sorga"
Kolose 2:12 "..kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia[Yesus] dari antara orang mati"
1Tesalonika 1:10 ".. Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus,.."
1Petrus1:21 "..Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati.."
1Petrus3:18 "Sebab juga Kristus telah mati .., tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh[kuasa]."
Ayat-ayat tersebut di atas sangat akurat dan jelas mencatat bahwa Yesus jelas tidak bangkit oleh kuasanya sendiri, melainkan ia bisa hidup kembali dari kematian karena Ia DIBANGKITKAN oleh Allahnya. Tidak ada satupun ayat Alkitab yang tegas mengatakan dengan jelas bahwa Yesus bangkit atas kuasanya sendiri seperti sering diklaim oleh golongan Trinitarian. Yang Alkitabiah adalah:Yesus DIBANGKITKAN oleh Allah. Allah-lah yang MEMBANGKITKAN Yesus!

NB: Penjabaran di atas hanya jawaban-jawaban singkat. Untuk kajian yang lebih lengkap dan tak terbantahkan, silakan simak buku: MENJAWAB DOKTRIN TRITUNGGAL, 2007, 2008

4 comments:

marwan said...

Yesus sendiri berkata “Akulah jalan dan kebenaran dan HIDUP. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)sehingga apapun persebsi manusia tentang Yesus, tidak pernah merubah Yesus sebagai satu-satunya jalan keselamatan dan kebenaran, tafsir dan terjemahan boleh diterima oleh otak kita secara berbeda, karena akal dan pemikiran kita sangat terbatas.

Anastasius said...

Setelah membaca blog ini saya sangat curiga kristen unitarian ini sebenarnya orang muslim yang menyamar jadi kristen.
Alasannya:
1. Penggunaan istilah Bible,hampir tdk pernah saya mendengar orang kristen menggunakan istilah Bible bila menjelaskan imannya kepada sesama kristen. Biasanya kata yang umum dipakai adalah Alkitab.
2. Istilah kristen tauhid, istilah tauhid tidak dipakai orang kristen bila berbicara dengan sesama kristen. Istilah ini hanya dimengerti oleh orang muslim dan orang kristen yang belajar islamology.

Nah ketahuan kedokmu hai srigala berbulu domba.

Budi3 said...

Beberapa Apologetika Trinitarian buat Frans Donald:

1. Mengenai Yohanes 1:1
Argumen Frans Donald :

1. "kai ho logos en pros ton theos" = "the word was with God"

2. "kai theos en ho logos" = "the word was God"


Karena di no.2 tidak ada "ton"-nya, maka "theos" di no.2 itu sifatnya lebih umum. Toh kata "theos" juga tidak eksklusif dipakai kepada Allah yang satu itu (misalnya 1Kor 8:5; Yoh 10:34-35; Kis 12:22; 2Kor 4:4). Jadi tidak bisa dipastikan bahwa Yesus itu Allah dari Yoh 1:1 (karena "theos" untuk sang Firman, alias Yesus, di Yoh 1:1 tidak ada "ton"-nya).


Beberapa JAWABAN (Apologetika) ada di:

http://www.ntgreek.org/answers/answer-john1_1.htm
http://www.hcm2.org/studies/essentials/ ..ty/understand.htm
link

Kemungkinan yang paling besar kenapa no.1 menggunakan artikel (jadi seakan-akan terjemahan "sang Allah") sementara yang no.2 tidak (hanya "Allah") adalah supaya jelas bahwa yang di-acu di no.1 adalah Bapa. Karena no.1 mengatakan bahwa sang firman itu "bersama-sama." Bersama-sama dengan siapa? Tentunya dengan pribadi yang lain, dalam hal ini adalah Bapa. Oleh karena itu pada no.2 tidak ad artikel, sehingga hanya ditulis "Allah" tanpa "sang Allah" (sebagai pembanding, coba saja no.1 dan no.2 digunakan "sang Allah." rasanya akan kaku).

Link-link diatas tersebut juga mengungkapkan ketidakkonsistenan (alais ketidakjujuran) para unitarian (terutama Saksi Yehuwa) dalam memperjuangkan bahwa "theos" di no.2 bukan "sang Allah" tapi "suatu Allah" atau "suatu yang mempunyai sifat ilahi." Ketidakkonsistenan mereka terlihat pada fakta bahwa ada tempat lain di Kitab suci dimana "theou" dan "theon" (variasi "theos," dalam bahasa Yunani [juga Latin] kata yang sama bisa berubah menurut kalimatnya) tidak ada artikelnya (ex. Yoh 1:6, 12, 13, 18; Mat 5:9; Luk 1:35 etc). Tapi toh para unitarian ini tetap saja memahami teks-teks tersebut sebagai sang Allah yang satu itu.

2.Filipi 2:6

Si unitarian punya dua argumen di dua paragraph yang dia tulis. Argumen pertama [di paragraph pertama] cukup aneh. Dia menyangkal bahwa Fil 2:6 mengajarkan keilahian Kristus dengan membandingkannya dengan tulisan-tulisan Paulus lainnya (ie. 1Kor 8:6; Ef 1:3,17) yang menurutnya menunjukkan bahwa Paulus hanya mengimani Bapa sebagai Allah. Ke-aneh-an yang aku maksud adalah, argumen semacam ini tidak secara spesifik meng-counter ayat tertentu (misalnya ayat Fil 2:6 yang rencananya akan dia counter), tapi secara umum menyangkal semua tulisan Paulus yang di-klaim trinitarian membuktikan keilahian Kristus.

Yah biarlah... justru dengan kerangka pikir seperti itu, maka sekali kayuh dua tiga pulau terlampaui. Si unitarian telah menyajikan argumennya atas beberapa ayat Paulus yang diklaim trinitarian menunjukkan keilahian Yesus (Rom 5:9; Kol 1:19 etc). Nah, rencananya tentu saja, aku akan mematahkan argumen-argumen tersebut. Dengan begitu disamping argumen atas ayat-ayat tersebut (Rom 5:9, Kol 1:19 etc) patah, klaim umumnya bahwa Paulus hanya mengimani Bapa sebagai Allah otomatis juga terpatahkan.


Sekarang mengenai argumen kedua. Si unitarian mengklaim bahwa terjemahan "dipertahankan" di Fil 2:6 di Alkitab Indonesia kurang tepat, yang lebih tepat adalah terjemahan "robbery" yaitu "perampasan. Si unitarian kemudian mengutip Alkitab bahasa Inggris yaitu Revised Standard Version (aku gak tahu Revised Standard Version yang mana, punyaku yang juga RSV tulisannya gak seperti itu) yang menulis "...thought it not robbery to be equal with God" yang kemudian dia terjemahkan "...tidak memikirkan perampasan untuk menjadi setara dengan Allah."

Kita bisa tanya si unitarian ini, "mengapa kok Yesus tidak memikirkan kesetaraan dengan Allah sebagai suatu perampasan?"

Aneh bukan. Kalau memang Yesus itu bukan Allah maka pemikiran bahwa Dia itu setara dengan Allah JUSTRU MERUPAKAN PERAMPASAN. Yesus telah merampas sesuatu yang bukan hakNya [ie. kesetaraan dengan Allah]. Tidak hanya hal tersebut merupakan perampasan tapi juga suatu penghujatan, suatu dosa yang amat berat.

Justru fakta bahwa Yesus tidak merasa bahwa kesetaraan dengan Allah itu bukanlah sesuatu yang perlu Dia rampas, menunjukkan bahwa pada hakekatnya dia itu setara dengan Allah. Pada hakekatnya yang Dia miliki adalah kesetaraan dengan Allah. Oleh karena itu hakNya, itu milikNya, itu hakekatNya, maka Dia tidak merampasnya.

3.Yohanes 10:30

Basically si unitarian menyanggah bahwa kesatuan di Yoh 10:30 adalah kesatuan substansial antara Yesus dengan Bapa. Untuk menyanggahnya si unitarian mengacu kepada Yoh 17:11, 21-23 dimana pada ayat itu Yesus beroa kepada Bapa agr murid-muridNya juga menjadi satu sebagaimana Dia dan Bapa adalah satu. Nah, karena kesatuan para murid pastilah bukan kesatuan substansial, maka kesatuan Yesus dan Bapa juga bukan kesatuan substansial, toh Yesus memodelkan kesatuan para murid dengan kesatuan antara Dia dan BapaNya.

Aku sudah membuat apologi yang cukup panjang atas pembandingan Yoh 10:30 dengan Yoh 17:11, 21-23. . Berikut apologetikanya :
Bukti bahwa kesatuan di Yohanes 10:30 PASTILAH kesatuan substansi.



John 10:24 - RSV
24 So the Jews gathered round him and said to him, "How long will you keep us in suspense? If you are the Christ [NAB: Messiah], tell us plainly."

Para Yahudi berkata kepada Yesus agar Dia menjawab dengan gamblang pada mereka apakah Dia itu Mesiah atau bukan. Ayat 24-30 merupakan jawaban Yesus terhadap pertanyaan para Yahudi tersebut. Ayat 30 adalah kesimpulan, inti, punchline dari jawaban Yesus atas pertanyaan apakah Yesus adalah Mesiah.

Nah, Perjanjian Lama menunjukkan bahwa sang Mesiah adalah Allah sendiri:

Terjemahan CE: The Blessed Trinity di topik Apologi atas Trinitas: Kontra Moslem

Beberapa [dari Bapa Gereja Awal yang berpandangan bahwa tidak ada penjelasan spesifik akan ajaran Trinitas di Perjanjian Lama] mengakui bahwa suatu pengetahuan akan misteri tersebut (ie. Trinitas) diberikan kepada Nabi-Nabi dan para Kudus dari Dispensasi Lama (maksudnya Perjanjian Lama) (Epiph., "Haer.", viii, 5; Cyril Alex., "Con. Julian.," I). Dapat segera diakui bahwa cara pewahyuan [akan Trinitas] dipersiapkan dalam beberapa nubuat. Nama Imanuel (Yesaya 7:14) dan Allah yang Perkasa (Yesaya 9:6, atau di penomoran lain Yesaya 9:5) yang menegaskan [nubuat] akan Mesiah menyebutkan Kodrat Ilahi dari sang pembebas (ie. Mesiah) yang dijanjikan. Namun tampaknya wahyu dari Injil diperlukan untuk mengerti secara penuh makna dari perikop-perikop [nubuat di Perjanjian Lama]. Bahkan gelar-gelar agung ini tidak menuntun para Yahudi untuk mengenali sang Penyelamat yang akan datang adalah Allah sendiri. Penerjemah Septaguinta bahkan tidak berusaha untuk menerjemahkan kata Allah yang Perkasa secara literer, tapi [menerjemahkannya] "sang malaikat pembimbing agung."



Terjemahan dari CE: Incarnation di topik Apologi atas Trinitas: Kontra Moslem

(c) KESAKSIAN DARI BUKU-BUKU NABI

Para nabi jelas menyebutkan bahwa sang Mesiah adalah Allah. Yesaya berkata "Allah sendiri akan datang dan menyelamatkan kamu" (xxxv, 4); "Bukalah jalan untuk Yahwe" (xl, 3) (catatan: ini dikutip Yohanes Pembaptis dan diaplikasikannya kepada Yesus); "Lihatlah itu Tuhan Yahwe akan datang dengan kekuatan” (xl, 10). Bahwa Yahwe disini adalah Yesus Kristus sudah jelas dari penggunaan ayat di [injil] St. Markus (i 3). Nabi-nabi besar Israel memberikan kepada sang Kristus sebuah nama ilahi yang spesial dan baru "Dia akan dipanggil Imanuel" (Yes., vii, 14). Nama Ilahi baru yang disebut St. Matius ini terpenuhi dalam Yesus, dan ditafsirkan dalam artian Keilahian Yesus. "Meraka akan menamakan Dia Imanuel – yang berarti: Allah menyertai kita." (Mat., i, 23.) Juga di ix, 5, Yesaya menyebut Mesiah sebagai Allah: "Seorang anak telah lahir bagi kita . . . namanya akan disebut: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa dunia yang akan datang, Pangeran Kedamaian." [Umat] Katolik menjelaskan bahwa anak yang sama tersebut adalah Allah yang Perkasa (ix, 5) dan Imanuel (vii. 14); terkandungnya anak tersebut dinubuatkan di ayat-ayat sebelumnya. Nama Imanuel (Allah menyertai kita) menjelaskan nama yang kita terjemahkan "Allah yang Perkasa." Adalah sesuatu yang tidak kritis dan berprasangka bagi para rationalist untuk keluar dari Yesaya dan mencari di Yehezkiel (xxxii, 21) arti "orang-orang berkuasa yang gagah perkasa" untuk sebuah kata yang ditempat mana saja di Yesaya adalah nama dari "Allah yang Perkasa" (lihat Yes., x, 21) (catatan: maksudnya para rationalist ini mencoba mencari artian kata "perkasa" yang diterapkan pada pribadi selain Allah sehingga gelar "Allah yang Perkasa" tidak mengacu pada sesuatu yang Ilahi). Theodotion menerjemahkan secara literal theos ischyros; Septuaginta [menerjemahkan] "utusan". Penafsiran kami adalah [penafsiran] yang diterima oleh Katolik dan Protestant yang sealiran dengan Delitzsch ("Messianic Prophecies", p. 145). Yesaya juga menyebut sang Mesiah "cabang Yahwe" (iv, 2), i. e. yang bercabang dari Yahwe dalam arti punya kodrat yang sama dengan Yahwe. Sang Mesiah adalah "Allah Raja kita" (Yesaya., lii, 7), "sang Penyelamat dikirim oleh Allah kita" (Yes., 1ii, 10, dimana kata 'Penyelamat' adalah bentuk abstrak dari kata 'Yesus' (catatan: kata "Yesus" sendiri dalam bahasa Ibrani berbunyi kira-kira "yehoshuwa" yang berarti "Allah adalah keselamatan")); "Yahwe Allah Israel" (Yes., lii, 12): "Dia yang menjadikan engkau, Allah (Yahwe) semesta alam nama-Nya" (Yes., liv, 5)".

Para nabi lain juga sejelas Yesaya, meskipun tidak begitu terperinci dalam ramalan mereka akan Keilahian dari sang Mesiah. Kepada Yeremia, Dia adalah "Yahweh sang Adil kita" (xxiii, 6; juga xxxiii, 16). Mikha berbicara akan dua-lapis kedatangan sang Anak, kelahiranNya di Bethlehem dan prosesiNya yang abadi dari Bapa (v, 2). Nilai ke-Mesiah-an dari ayat ini dibuktikan dari tafsiran Injil Matius atas ayat tersebut (Mat ii, 6). Zakharia menulis Yahwe menyebut sang Mesiah sebagai "orang yang paling karib kepadaKu"; namun seorang yang paling karib adalah seseorang yang derajatnya sama dengan Yahweh (xiii, 7). Maleakhi berkata: "Lihat, Aku menyuruh utusanKu, supaya ia mempersiapkan jalan dihadapanKu! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke baitNya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman Tuhan semesta alam.” (iii, 1). Utusan yang disebut disini tentunya adalah St. Yohanes Pembaptis. Kata-kata Nabi Malaekhi akan adanya satu utusan [ie. Yohanes Pembaptis] ditafsirkan oleh Tuhan Kita sendiri, Yesus (Mat., xi, 10). Tapi sang Pembaptis (ie, Yohanes Pembaptis) menyiapkan jalan dihadapan Yesus Kristus. Oleh karena itu Kristus adalah pembicara kata-kata Malaekhi. Namun kata-kata Malaekhi diutarakan oleh Yahweh Allah Agung Israel. Oleh karena itu Kristus atau Mesiah dan Yahwe adalah Pribadi Ilahi yang satu dan sama. Argumen ini menjadi lebih kuat oleh fakta bahwa tidak hanya sang pembicara [dari kata-kata Mal., iii, 1] adalah Yahwe Allah Semesta Alam, yang satu dan sama dengan sang Mesiah yang jalannya dipersiapkan sang Pembaptis (ie, Yohanes Pembaptis); tapi [dari] nubuat akan kedatangan Tuhan ke kuil [terbaca adanya] peng-aplikasian kepada Mesiah sebuah nama yang hanya diberikan kepada Yahwe sendiri (catatan: maksudnya nama atau gelar "Allah semesta Alam." Gelar ini biasanya dipakaikan kepada Yahwe sendiri tapi di Mal., iii, 1 gelar tersebut dipakaikan juga kepada Mesiah. Ini menandakan bahwa Mesiah dan Yahwe adalah satu.). Nama itu muncul tujuh kali (Ex., xxiii, 17; xxxiv, 23; Is., i, 24; iii, 1; x, 16 and 33; xix, 4) diluar buku Malaekhi, dan jelas mengacu kepada Allah Israel. Nabi-nabi terakhir Israel memberikan kesaksian yang jelas bahwa Mesiah adalah Allah Israel itu sendiri. Argumen dari para nabi akan Keilahian sang Mesiah ini sangat meyakinkan bila dimengerti dalam terang wahyu Kristen, seperti yang telah kami sajikan. Daya kumulatif dari argumen ini disuguhkan dengan baik di buku "Christ in Type and Prophecy", oleh Maas.

Orang Yahudi memang tidak tahu bahwa Mesiah itu Allah sendiri (meskipun PL menyiratkan demikian) tapi Yesus memang sering memberi jawaban berdasarkan penafsiran yang benar atas ayat Perjanjian Lama bukan berdasarkan atas penafsiran yang kurang tepat atasnya (sebagai contoh baca Yoh 2:18-22).

Kepada para Yahudi, Yesus seakan-akan memberi jawaban, "Kamu bertanya apakah Aku ini Mesiah. Mesiah itu Allah. Aku dan Bapa adalah satu. Kami adalah Allah yang satu. Aku adalah Allah sebagaimana Bapa. Karena sang Mesiah hanyalah seorang Allah, maka Aku yang Allah inilah sang Mesiah."


Ini adalah bukti pertama bahwa Yesus berbicara tentang kesatuan substansi di Yoh 10:30. Bukti berikutnya:

Selanjutnya di Yoh 10:31 para Yahudi melempari Yesus karena merasa bahwa Yesus yang hanya manusia, membuat diriNya sebagai Allah.

Nah, darimana para Yahudi ini mendapatkan kesan bahwa Yesus membuat diriNya sebagai Allah? Kan mereka sendiri tidak mengerti nubuat Perjanjian Lama bahwa sang Mesiah adalah Allah. Disini kita harus memahami bahwa pengetahuan kita akan kejadian di Yohanes bab 10 ini hanya kita dapatkan dari pembacaan Alkitab. Sementara itu para Yahudi mendengar suara Yesus dan juga melihat bahasa tubuh Yesus saat menjawab pertanyaan mereka. Dan mereka memahami bahwa kesatuan yang dimaksudkan Yesus adalah kesatuan substansi. Karena itulah mereka berkata bahwa Yesus membuat diriNya menjadi Allah.


Atas bukti kedua ini biasanya mereka yang tidak meyakini bahwa Yesus adalah Allah mengajukan keberatan:

''Tidak. Yesus tidak membuat diriNya menjadi Allah. Para Yahudi memang mengatakannya, tapi mereka keliru. Maksud Yesus sebenarnya adalah bahwa hubunganNya dengan Allah adalah seperti hubungan umat Israel dengan Allah. Dia itu allah sama seperti bagaimana umat Israel lainnya adalah allah-allah. Karena itulah Yesus mengutip Mzm 82:6 di Yoh 10:34. dia mengkoreksi kekeliruan para Yahudi.''

Ya, memang Yesus mengacu kepada Mzm 82:6. Tapi Dia tidak mengelompokkan diriNya bersama semua orang Israel. Ini terlihat jelas di Yoh 10:36 ketika Dia membedakan diriNya sebagai orang yang "telah dikuduskan oleh Bapa dan telah diutusNya kedalam dunia." Sementara orang Israel tidak dikuduskan dan diutus kedalam dunia oleh Bapa.

Jadi di Yoh 10:34-36, Yesus seakan-akan berkata, "Kamu menuduhku menghujat? Padahal sembarang orang Yahudi bisa menyebut diri mereka allah ['a' kecil] dan tidak dituduh menghujat. Jadi kenapa Aku, yang dikuduskan oleh Bapa dan telah diutusNya kedalam dunia, dituduh menghujat? Kalau orang Yahudi biasa saja boleh menyebut dirinya allah ['a' kecil] dan tidak dianggap menghujat apalagi Aku yang jelas-jelas Allah. Aku adalah Allah. Jadi kalau Aku menyebut diriKu Allah, Aku tidak menghujat."

4. Matius 28:19

Si unitarian mengatakan bahwa karena tidak ada kata tambahan "Allah" untuk dua pribadi yang lain ("Putra" dan "Roh Kudus," sementara pribadi "Bapa" tidak perlu tambahan Allah karena sudah jelas) maka tidak bisa disimpulkan bahwa ayat tersebut menerangkan adanya tiga pribadi.

Nah, dari sini tampaknya terlihat bahwa si unitarian ini mungkin adalah seorang yang bahasa ibunya (lingua franca) Indonesia.

Bagi seorang dengan bahasa ibu Yunani, Inggris, Jerman etc akan cukup jelas adanya satu keanehan atas ayat Mat 28:19. Kita pakai bahasa Ingris saja:

Mat 28:19
19* Go therefore and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit,


Keanehannya apa? Keanehannya terletak pada kata "name."

Keanehan yang apa? Sesuai aturan bahasa Inggris, karena ada tiga nama yang mana si calon baptis harus dibaptis (ie. "Bapa," "Putra" dan "Roh Kudus") maka tentunya tidak boleh digunakan kata "name" yang sifatnya tunggal (singular) harus digunakan kata "names" yang sifatnya jamak (plural). Tapi yang digunakan adalah "name" yang sifatnya tunggal (singular). Mengapa? Tentunya karena ketiga nama-nama pribadi-pribadi tersebut adalah Allah yang satu itu!

Hal ini juga berlaku dalam bahasa Yunani aslinya, sebagaimana ditulis dalam Catholic Encyclopedia: The Blessed Trinity:

Finally after His resurrection, He revealed the doctrine in explicit terms, bidding them "go and teach all nations, baptizing them in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Ghost" (Matthew 28:18). The force of this passage is decisive. That "the Father" and "the Son" are distinct Persons follows from the terms themselves, which are mutually exclusive. The mention of the Holy Spirit in the same series, the names being connected one with the other by the conjunctions "and . . . and" is evidence that we have here a Third Person co-ordinate with the Father and the Son, and excludes altogether the supposition that the Apostles understood the Holy Spirit not as a distinct Person, but as God viewed in His action on creatures.

The phrase "in the name" (eis to onoma) affirms alike the Godhead of the Persons and their unity of nature. Among the Jews and in the Apostolic Church the Divine name was representative of God. He who had a right to use it was invested with vast authority: for he wielded the supernatural powers of Him whose name he employed. It is incredible that the phrase "in the name" should be here employed, were not all the Persons mentioned equally Divine. Moreover, the use of the singular, "name," and not the plural, shows that these Three Persons are that One Omnipotent God in whom the Apostles believed. Indeed the unity of God is so fundamental a tenet alike of the Hebrew and of the Christian religion, and is affirmed in such countless passages of the Old and New Testaments, that any explanation inconsistent with this doctrine would be altogether inadmissible.


Kebetulan dalam rangka mengerjakan "Apologi atas Trinitas: Kontra Moslem" kutipan tersebut sudah aku terjemahkan:

Pada akhirnya setelah kebangkitanNya, Dia mewahyukan ajaran tersebut secara eksplisit, dengan berpesan kepada mereka "pergi dan ajaralah semua bangsa, baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putra dan Roh Kudus" (Matius 28:18). Kekuatan dari perikop ini sangat berketetapan. Bahwa "Bapa" dan "Putra" adalah Pribadi yang berbeda dapat disimpulkan dari kalimat itu sendiri, yang [bersifat] mutually exclusive. Penyebutan Roh Kudus dalam seri yang sama, dimana namanya dihubungkan dengan kata penghubung "dan. . . dan" adalah bukti bahwa kita punya seorang Pribadi Ketiga yang ber-koordinasi dengan Bapa dan Putra, dan ini mengecualikan anggapan bahwa para rasul memahami Roh Kudus tidak sebagai pribadi yang berbeda, tapi [para rasul malahan menganggap Roh Kudus] sebagai Allah dipandang dari tindakanNya atas mahkluk-mahkluk

Frase "dalam nama" (eis to onoma) mengkonfirmasi ke-Allah-an dari pribadi-pribadi dan kesatuan mereka dalam kodrat. Diantara para umat Yahudi (ie. penganut Yudaisme) dan dalam Gereja Rasuli, nama Ilahi adalah perwalian dari Allah. Dia yang punya hak untuk menggunakannya (nama Ilahi) diberi kekuasaan yang sangat besar: karena dia bersenjatakan kuasa adikodrati (supernatural) dari dia yang namanya diwakilkan. Adalah sangat menakjubkan bahwa frase "dalam nama" dipergunakan disini, kalau tidak dimaksudkan bahwa semua Pribadi sama-sama Ilahi. Terlebih, penggunaan kata tunggal "nama," dan bukan kata jamak, menunjukkan bahwa Tiga Pribadi ini adalah Satu Allah yang Maha Kuasa yang dipercayai semua Rasul. Dan memang kesatuan Allah adalah satu ciri fundamental dari orang Ibrani dan agama Kristen, dan dikonfirmasi oleh banyak perikop dari Perjanjian Lama dan Baru, sehingga sembarang penjelasan yang tidak konsisten dengan ajaran ini (ie. ajaran akan kesatuan Allah) sama sekali tidak bisa diterima.


Hal lain yang ditunjukkan kutipan dari Catholic Encyclopedia: The Blessed Trinity diatas adalah bahwa paralelisme Bapa, Putra dan Roh Kudus dengan menggunakan kata penghubung "dan" yang mengindikasikan suatu penyejajaran. Nah, siapakah yang bisa disejajarkan dengan Sang Allah Bapa? Tentunya sang Putra dan Roh Kudus yang juga Allah. Bila ditambah fakta penggunaan bentuk tunggal dari "name" maka sudah terlalu jelas pengakuan iman yang Katolik dan Apostolik akan Trinitas.

Sumber: http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=5896

(Silahkan kunjungi alamat web tersebut)

PS: Saya tantang anda, Frans Donald, untuk bisa berdiskusi dan mempertahankan argumen anda yg menunjukan kesalahan Trinitas, di alamat web di atas.
Dan anda juga bisa belajar, dan berdiskusi banyak tentang iman Kristen yg benar di web: www.ekaristi.org/forum
dgn salah satu sub menu:Forum Terbuka, dgn alamat:
http://www.ekaristi.org/forum/viewforum.php?f=1&sid=62f7cc6e84513e9556f62456718745b0

Salam.

EENS said...

Ehmmm... diragukan kalo Bung Frans Donald berani berargumen ^_^

Biasanya maen lempar dan langsung hilang mah kalo yang beginian ^_^