Tuesday, July 8, 2008

Menjawab Klaim Penganut Ortodoks Syria

Menjawab Klaim Penganut Ortodoks Syria

Seseorang yang mengaku penganut Ortodoks Syria (sepertinya anak buahnya Bambang Noorsena) pernah menghubungi saya. Hal-hal berikut inti pembicaraannya serta tanggapan Saya:

Klaim: Frans Donald, anda tidak mengerti soal Tritunggal adalah karena anda tidak ahli bahasa Ibrani dan Yunani. Coba anda memahami Alkitab bahasa Ibrani-Yunani dan bahasa Arab seperti Bambang Noorsena, tentu anda bisa memahami kebenaran Tritunggal.

Jawab: Kalau anda (si penganut paham Ortodoks Syria atau anak buahnya Noorsena) menganggap saya tidak mengimani doktrin Tritunggal hanya dikarenakan (atau gara-gara) saya bukan ahli bahasa Ibrani-Yunani atau Arab, pandangan anda tersebut jelas terlalu sempit dan tidak realistis. Karena pada kenyataannya fakta-fakta riilnya justru telah banyak orang-orang yang ahli atau paham betul bahasa Ibrani dan Yunani yang malahan jelas-jelas tidak percaya pada doktrin Tritunggal. Misal: Profesor Tomas Mc Elwain, penulis buku Bacalah Bibel (ada di Gramedia); juga di Indonesia ada misal: Guru Besar Emeritus Romo Tom Jacobs, SJ lulusan Roma, ada juga Hortensius SSL, Pembina Penerjemah Alkitab L.A.I; Profesor Banawiratma; Ioanes Rahmat, dosen STT Jakarta, dllnya. Terlebih lagi jika bahasa Arab mau ikut-ikutan dijadikan alasan, begitu banyak sarjana ahli bahasa Arab yang justru sangat tegas menolak Tritunggal, bung!
Saya serta rekan-rekan saya (Unitarian) yang dulunya kami adalah penganut Tritunggal di mana saat itu kami belum mempelajari bahasa Ibrani-Yunani, tapi, justru dengan mulai mempelajari beberapa kata bahasa Ibrani-Yunani justru semakin menuntun kami menjadi tidak lagi percaya pada rumusan doktrin Tritunggal!
Faktanya sangat jelas, ahli tidaknya seseorang dalam bahasa Ibrani / Yunani / Arab samasekali bukan jaminan atau menjadi dasar mutlak apakah orang itu beriman pada Tritunggal atau tidak. Pada kenyataannya begitu banyak orang gereja awam yang menjadi percaya Tritunggal tanpa mereka memahami bahasa Ibrani / Yunani, sementara sebaliknya orang-orang yang ahli atau paham Ibrani / Yunani / Arab malah tidak sedikit yang menolak tegas rumusan doktrin Tritunggal! Tapi ada juga orang yang mengaku mahir bahasa Ibrani-Yunani-Arab (seperti Bambang Noorsena) yang memilih beriman pada Tritunggal.
Jadi intinya, teori orang yang bilang bahwa Frans Donald (Unitarian) tidak mengimani Tritunggal disebabkan Frans Donald bukan ahli Ibrani / Yunani / Arab, itu jelas hanyalah suatu teori yang omong kosong dan sangat lemah faktanya! Karena justru begitu banyak ahli atau orang yang paham bahasa Ibrani / Yunani / Arab yang jelas-jelas menolak Tritunggal!


Klaim: Anda (Frans Donald) kan belum baca tulisan-tulisan Targum Yahudi dan tulisan Bapa-Bapa Gereja pra konsili Nicea, juga tulisan-tulisan murid-murid Yohanes seperti Polycarpus, Ignatius, Yustin Martyr, Irenaeus, Clement, Tertulianus, yang jelas mereka menuliskan bahwa Yesus itu ilahi atau Allah dan bukan ciptaan!

Jawab: Kalau anda (serta Bambang Noorsena) mendasari konsep Tritunggal dari tulisan-tulisan selain Alkitab, seperti tradisi Yahudi (Targum) dan bapa-bapa gereja yang pro Nicea, maka hal itu sesungguhnya samasekali tidak kuat untuk dijadikan dasar argumen bahwa rumusan doktrin Tritunggal itu benar Alkitabiah adanya. Dasar argumen saya, karena:
Pertama. Tulisan tradisi bapa gereja yang sekarang ada yang mungkin mengesankan pro Tritunggal adalah tidak layak dijadikan standar tulisan yang sejajar keabsahannya dengan kitab-kitab yang telah terkanonisasi (terukur keabsahannya) di Alkitab. Mengapa? Lha wong tulisan Yohanes di 1 Yoh 5:7 (ayat yang seolah mengajarkan adanya Tritunggal) itu saja bisa sukses ditambahkan (dipalsukan!) oleh orang-orang yang pro Tritunggal dalam upaya memasukkan konsep Tritunggal ke dalam Alkitab pada tahun 400-an. Nah, apalagi sebagian tulisan-tulisan tradisi bapa-bapa gereja yang tidak banyak diperhatikan / dipedulikan orang dan tanpa mengalami kanonisasi ketat, maka sangat besar potensinya mengalami distorsi / penyelewengan / penambahan / perubahan makna dalam terbitan-terbitannya di kemudian hari.
Misal, mengingat teks Alkitab saja bisa dipalsukan, maka bisa jadi tulisan beberapa bapa gereja yang tadinya menuliskan: “Yesus itu ilahi (devine)” kemudian oleh penggagas Tritunggal yang gencar, tulisan tersebut dicetak / ditulis ulang dengan disusupi tambahan menjadi “Yesus itu ilahi dan bukan ciptaan”, agar terkesan bahwa Yesus itu Allah sejati. Ingat kasus 1Yoh 5:7 yang adalah ayat palsu, telah cukup sukses hingga kini masih tercantum dalam Alkitab. Lha tulisan Yohanes saja bisa ditambahi / dipalsukan, maka tulisan-tulisan bapa-bapa gereja akan terlebih lagi sangat mungkin untuk dipalsukan! Sebagai contoh, anda silakan baca juga fitnah dan pemalsuan fakta sejarah / dusta besar yang telah dilakukan Bambang Noorsena terhadap kami (Unitarian), pada tulisan saya yang berjudul “Ternyata Bambang Noorsena adalah Saksi Dusta”. Di situ menjadi contoh nyata bahwa untuk sejarah peristiwa yang baru terjadi dan dekat di Indonesia saja seorang Noorsena berani berdusta, apalagi untuk sejarah-sejarah ribuan tahun yang lalu dan jauh dari Indonesia, sangat mungkin Noorsena akan lebih berani lagi mengumbar dusta-dustanya guna membela doktrinnya!
Kedua. Namun seandainya, sekali lagi saya tegaskan, andaikata, tulisan-tulisan asli orang-orang yang sempat berkuasa menduduki kursi bapa-bapa gereja (murid-murid setelah Yohanes) di abad-abad awal itu memang benar-benar mengajarkan konsep “Yesus Allah sejati” atau “Yesus Bukan Mahluk Ciptaan” itupun tidaklah menjamin bahwa pandangan mereka (para tokoh gereja) di abad I-II itu pasti benar adanya. Karena sekalipun mereka adalah murid-murid penerus Yohanes, namun status murid-guru samasekali tidak menjamin bahwa pandangan mereka mutlak sama adanya. Fakta-fakta sejarah diberbagai belahan dunia membuktikan dengan kuat dan akurat. Misal:
Plato dan Aristoteles, hubungannya adalah guru dan murid, dan kenyataannya pandangan-pandangan / pikiran-pikiran antara guru-murid itu terdapat perbedaan paham yang akhirnya melahirkan 2 golongan aliran berbeda. Di Indonesia, Soekarno dan muridnya, faktanya murid-murid Soekarno berbeda prinsip / paham dengan pahamnya Soekarno, bahkan ada muridnya yang justru berkhianat pada Soekarno. Frans Donald dengan gurunya, gurunya (Pdt. Tomas, Pdt. Tobing, Pdt. Kristiyono dllnya) adalah penganut dan pengajar Tritunggal, tapi kenyataannya jelas Frans Donald (sebagai murid) tidak mengimani Tritunggal. Hubungan guru-murid samasekali bukan jaminan!
Contoh lain, di Alkitab: Nabi Daud dengan Salomo, bahkan bukan Cuma status guru-murid, tapi anak Daud sendiri yaitu Salomo bisa sangat bertentangan dengan kepercayaan Daud (baca 1 Raja 11:5-6). Juga Imam Eli, anak-anaknya sendiri berbeda dengan Imam Eli, mereka malahan menghujat Allah (baca 1Samuel 2:12). Juga Gideon dengan seisi rumahnya, setelah menang malahan justru menyembah Efod emas (Hakim 8:27).
Nah, fakta-fakta sangat jelas, bahwa hubungan guru-murid bahkan bapak-anak, samasekali bukan jaminan kesamaan paham / pikiran antara mereka. Maka demikian pula dalam kasus status hubungan kemuridan seperti Polycarpus, Ignatius dllnya, juga tidak jaminan bahwa mereka sepaham 100% dengan guru mereka yaitu Yohanes. Artinya, kalau andaikata benar Ignatius dllnya (orang-orang yang dianggap sebagai penerus Yohanes) itu betul-betul meyakini konsep Tritunggal seperti anggapan yang diyakini oleh Bambang Noorsena, tidaklah jaminan atau berarti mutlak Yohanes dan para rasul penulis Alkitab juga percaya Tritunggal, tidak!
Ketiga. Karena dasar iman kekristenan yang telah diakui oleh seluruh Kristen adalah Alkitab dan bukan tradisi-tradisi targum Yahudi atau pun tulisan-tulisan orang yang disebut sebagai “bapa-bapa gereja”, maka kalau anda (sebagai penganut Ortodoks Syria) mau dialog / debat dengan komunitas Kristen selain organisasi anda (Ortodoks Syria), maka seyogyanya standar yang dipakai ya musti Alkitab saja. Beda halnya kalau anda mau khusus dialog / diskusi di komunitas anda (Ortodoks Syria) yang ternyata –seperti diakui oleh Bambang Noorsena sendiri- mendasarkan imannya dari tulisan-tulisan selain Alkitab (tulisan Targum, bapa gereja dllnya.) itu hak anda, tapi kalau lintas komunitas Kristen maka standar dasar yang layak dipakai ya harus Alkitab saja yang jadi acuannya.
Setelah beberapa kali berhubungan dengan orang-orang yang mengaku Ortodoks Syria atau simpatisan Noorsena, Saya makin yakin bahwa sebenarnya mereka tahu betul bahwa doktrin Tritunggal yang mereka dirikan itu lemah jika ditinjau dari dasar Alkitab. Itu pula sebabnya, seorang kawan yang pernah hadir di seminarnya Bambang Noorsena mengatakan bahwa Bambang Noorsena pernah bilang: “gobloknya orang Kristen kalau mau diajak adu ayat Alkitab!”. Di situ tampak sekali Noorsena menghindari dialog yang hanya berdasar ayat-ayat Alkitab. Beberapa orang memang pernah memberitahu Saya bahwa Noorsena selalu menghindari dialog / debat Alkitab dan lebih suka membahas targum-targum atau tulisan-tulisan lainnya. Mengapa Noorsena terkesan takut / menghindari debat Alkitab? Kemungkinan besar adalah karena ayat-ayat Alkitab memang jelas-jelas tidaklah mendukung argumen / teori-teorinya tentang Tritunggal!

23 comments:

Mau Uang & Makanan said...

Bambang Noersena itu manusia organisasi, bukan manusia illahi. Sebaiknya Bambang ini harus berulang-ulang berani bicara atas nama Allah, bukan atas nama diri atau kelompoknya. Emang yang masuk Sorga hanya Ortodok Syria ?
Ha3... ini salah satu Otak Kodok Ati Kebo.

edwin said...

test

edwin said...

test

edwin said...

test

edwin said...

unitarian eh..??? he..he..,

edwin said...

FD.., selamat atas buku2 lo yg laris manis.., he.., he...., Tuhan tidak hanya memberkati orang benar saja.., tapi juga MEMBERKATI ORANG2 YG TIDAK BENAR..., he...he...,

JALAN PASAR said...

si edwin ini nggak njelasin, orang nggak bener itu yang gimana ? Orang yang benar itu giman ?
Edwin orang benar ?

JALAN PASAR said...

si edwin ini nggak njelasin, orang nggak bener itu yang gimana ? Orang yang benar itu gimana ?
Edwin orang benar ?

JALAN PASAR said...

si edwin ini nggak njelasin, orang nggak bener itu yang gimana ? Orang yang benar itu gimana ?
Edwin orang benar ?

Mendung said...

wah nanti saya cari dech buku na om.....bagus juga nih buat rujukan pemikiran saya orang muslim....
terima kasih....
klo boleh tau buku2 na om apa ajh judul na...jadi saya bisa satu2 buku na.....maklum anak kuliahan harus pintar2 ngirit uang, lagian saya juga mahasiswa perantau

DHIEDHO said...

SAYA MEMILIKI BUKU BUNG KARNO, YG JUDULNYA "DIBAWAH BENDERA REVOLUSI" EDISI1 CETAKAN KE2. TH.1963. HUB 085246335119,, JIKA BERMINAT

Leonard Panjaitan said...

Saudaraku Frans Donald Ytk,

Anda terjebak dalam belantara rasionalisme yang memikat sesaat. Iman dan akal harus saling melengkapi sebab itulah Sang Logos lahir dan hadir. Mengandalkan akal saja hanya membawa anda menjadi budak dari sebuah prinsip. Akal tanpa pedoman menjadikan anda seorang “paus” bagi pemikiranmu. Oleh sebab itu perlu membuka hati, menimbang segala kesaksian orang-orang kudus dan para martir yang menjadi saksi-kurban dari Dia Yang Maha Tinggi - Sang Pantocrator Yesus Kristus -. Dengan demikian iman berperan mengisi relung hati dan pikiran kita. Iman memancarkan RohNya yang murni yang mengarahkan kita kepada Sang Kebenaran Sejati.

Tidak akan ada habis-habisnya menyimpulkan Ke-Misteri-an Trinitas Maha Kudus. Sebab kalau kita tahu segala-galanya tentang Tritunggal itu maka apa gunanya Misteri. Biarlah Misteri tetap menjadi suatu misteri. Sama seperti mahluk hidup di dunia ini : manusia memiliki trinitasnya sendiri - yakni : tubuh, jiwa dan roh. Begitupun cahaya, ia memiliki trinitasnya sendiri yakni : terang, gelombang dan materi. Oleh sebab itu cahaya memiliki energi krn dia memiliki massa. Begitu pun binatang amuba, dia memiliki trinitasnya sendiri, yakni : sbg entitas mahluk, bersel satu, berkembang biak dgn membelah diri. Oleh sebab itu, layakkah kita menanyakan kepada si amuba mengapa dia tidak kawin ?

Oleh sebab itu, sebagai mahluk fana, manusia ibarat periuk yang dibentuk oleh Sang Artis, maka layakkah kita memprotes kepadaNya mengapa Engkau membentuk aku ? Layakkah kita bertanya kepadaNya mengapa engkau membagi DiriMu menjadi Tiga ???

Jadi Trinitas-isme adalah realitas baik bersifat misteri-teologis maupun realitas kehidupan mahluk hidup di bumi ini. Jadi dimana kesulitannya ??

Rgds,

Leo

Mau Uang & Makanan said...

Semua ada jelas di alkitab. Kalo ikut Leonard dkk, SEBAIKNYA alkitab yang sekarang ini dibakar semua aja !

Kemudian semua ikut 3nitas.
Lagian di pintu sorga nggak ada pertanyaan Anda 3nitas bukan ?

Banyak aktivis tolol2, makin belajar makin kosong !

Hero said...

Pusing juga saya membaca blog yg isinya eker-2an...... Tolong negara kita saat ini lagi kolaps di berbagai hal. Moral, etika bangsa kita payah. Marilah kita sbg anak-2 NYA saling bahu-membahu agar bangsa kita bangkit, jangan berkutat pada saling jatuhkan aliran2 kekristenan yg ada. ok. GBU

anton said...

Saya sudah lihat hasil debat Frans Donald dan kawan-kawan VS Budi Asali. Nampaknya Frans Donald dkk harus lebih banyak meningkatkan pengetahuan alkitab dan mohon pimpinan Roh Kudus. Sebaiknya Frans Donald kembali manantang Budi Asali dengan tatap muka. Jangan lewat blog kaya gini, karena bersifat satu arah. Mudah-mudahan anda bukan seorang pengecut !

blihko said...

saloom. aku masih tidak melihat kelebihan unitarian ataupun kebenaran trinitarian. keduanya masih m,enyembunyikan 'bible' yang menentang pendirian mereka masing-masing. Saya yakin jika mereka telah membaca bible dari A-Z, maka mereka akan tahu bahwa apa yang mereka pertahankan tidak lebih dari pendapat atas reka-reka dari beberapa Ayat bible. saja. Nah saya hanya mengharapkan janganlah perpecahan menjadi keniscayaan untuk setiap akhir dari debat antara Unitarian melawan Trinitarian.! Saloom. dalam kebenaran dan kasih sayang!

blihko said...

saloom. aku masih tidak melihat kelebihan unitarian ataupun kebenaran trinitarian. keduanya masih m,enyembunyikan 'bible' yang menentang pendirian mereka masing-masing. Saya yakin jika mereka telah membaca bible dari A-Z, maka mereka akan tahu bahwa apa yang mereka pertahankan tidak lebih dari pendapat atas reka-reka dari beberapa Ayat bible. saja. Nah saya hanya mengharapkan janganlah perpecahan menjadi keniscayaan untuk setiap akhir dari debat antara Unitarian melawan Trinitarian.! Saloom. dalam kebenaran dan kasih sayang!

blihko said...

BUKU: "BIBLE THEOLOGY AND TRINITY SCANDAL"

Oh, ya.adakah diantara para penghuni forum ini yang memiliki buku' Bible theology and trinity Scandal'? saya mendapat kabar dari teman di Malaysia. kalau ada aku mau mengcopynya dong, Thank.

Abah Aish dan Ibrahim said...

Sdr.Frans ..
Semoga Allah Yang Tinggi memberimu petunjukNya..
Sesungguhnya Allah telah menurunkan Nabi terakhir...
Nabi yang dikatakan oleh Yesus Kristus sebagai batu penjuru...
Batu yang diremehkan oleh para tukang itu..
Akan menjadi batu penjuru..
Yakni Bani Ishmael yang telah diremehkan oleh bani Ishrael..
Karena berasal dari keturunan budak..
Akan menjadi Bani yang Allah muliakan..
Dengan dibangkitkannya seorang Nabi akhir zaman..
Nabi yang membenarkan Kitab-kitab sebelumnya..
Wahai Ahli Kitab..
MAsuklah ke dalam Islam..

the_drummer said...

mas kenapa testi saya dihapus? ini saya kirim data buat referensi sampeyan :

Tentang Penulis Herbert W. Armstrong (1892-1986)
Herbert W. Amstrong yang sangat dihormati di kalangan pejabat, pebisnis, industriawan dan ilmuwan di seluruh dunia ini adalah seorang Pastur Worldwide Church of God yang berkedudukan di Amerika Serikat. Dia juga sebagai kepala editor majalah Kristen “Plain Truth” yang bertiras sekitar 8 juta eksemplar tiap bulan.
Majalah ini didirikan pada tahun 1934, dan beredar ke seluruh dunia. Pada tahun 1947, Amstrong mendirikan Ambassador College yang sekarang memiliki dua kampus besar di Pasadena California dan di Big Sandy Texas . Juga mendirikan dan sebagai kepala Ambassador International Cultural Foundation, yang bergerak di bidang kebudayaan, bantuan pada masyarakat miskin, dan gerakan kemanusiaan.
Dia sudah mengunjungi sekitar 70 negara untuk memberitakan Injil sebagai Kerajaan Tuhan. Bahkan Amstrong mendapatkan kehormatan dari kepala negara yang memiliki perbedaan keyakinan dengannya seperti di Jepang , India , Afrika Selatan , China , Israel dan Mesir. Pada usianya yang sudah mencapai 90 tahun, Amstrong masih aktif menulis, ceramah di televisi dan di depan publik. Di antara buku hasil tulisannya adalah: The Wonderful World Tomorrow, What it Will be Like dan The United State and Britain in Prophecy.
Kenangan Natal Dimasa Kecilku
Ketika saya masih kecil, di saat malam Natal , saya biasa diajari dan disuruh menggantungkan kaos kaki di dinding dekat ruangan perapian. Esok harinya, kaos kaki tersebut penuh dengan hadiah-hadiah berupa mainan atau kotak makanan kesenangan saya. Selain hadiah tersebut, juga terdapat sebatang pohon Natal yang dihiasi bunga-bunga kertas berwarna perak dan emas. Di pohon ini pula, aneka rupa hadiah untuk anak-anak bergelantungan di dahannya dan berserakan di bawahnya.
Menurut para orang tua, semua hadiah Natal itu dibawa oleh Sinterklas atau Santa Clause yang telah datang di malam hari, melalui cerobong asap perapian. Seperti anak-anak lainnya, semua cerita itu saya telah begitu saja dengan penuh keyakinan. Tentu anda pun demikian. Sebab kita dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan kehidupan yang penuh dengan adat kebiasaan yang harus kita … terima, tanpa bertanya-tanya, yang dapat menimbulkan suasana yang tidak menyenangkan.
Mengapa kita bersikap demikian?
Instink hewanikah, sehingga kita ikut-ikutan dengan apa saja yang dilakukan oleh kebanyakan orang? Kambing memang akan tetap mengikuti kelompoknya, walaupun digiring untuk … dipotong sekalipun. Tetapi sebagai manusia, seharusnya bersikap kritis dengan menggunakan akal sehat.
Sebagai orang Kristen yang baik, kita tidak pernah menyelidiki, mengapa kita melakukan semua itu dan mengapa semua orang percaya bahwa yang mereka kerjakan itu benar. Seharusnya, sebagai umat Kristen yang ingin melaksanakan ajaran-ajaran Tuhan, kita harus bertanya, apakah upacara natal itu benar-benar ajaran Kristen? Apakah cara-cara merayakan Natal itu tidak mengajarkan kebohongan kepada masyarakat, yang merupakan … larangan Tuhan? Adakah firman Tuhan yang Hidup maupun firman tertulisNya yang memerintahkan kita untuk melakukannya? Apakah Yesus dan para Rasul juga melakukan seperti apa yang kita meriahkan selama ini? Apakah kebiasaan tukar-menukar hadiah Natal dengan teman dan kerabat dekat, juga betul-betul mengikuti ajaran Tuhan di dalam Bibel? Dan seterusnya … dan seterusnya …
Hampir semua orang berpendapat dan mengira bahwa semua upacara dan kebiasaan itu berasal dari ajaran Gereja. Tetapi betulkan semua pendapat dan perkiraan itu?
Mudah-mudahan fakta yang saya tulis dalam buku ini dapat meluruskan semua pendapat yang dapat menyesatkan dan merusak ajaran Tuhan yang sebenar-benarnya. Mungkin tulisan saya yang berdasarkan pada kenyataan ini akan mengejutkan orang Kristen, termasuk anda sendiri.
SEJARAH NATAL
Kata Christmas ( Natal ) yang artinya Mass of Christ atau disingkat Christ-Mass, diartikan sebagai hari untuk merayakan kelahiran “Yesus”. Perayaan yang diselenggarakan oleh non-Kristen dan semua orang Kristen ini berasal dari ajaran Gereja Kristen Katolik Roma. Tetapi, dari manakah mereka mendapatkan ajaran itu? Sebab Natal itu bukan ajaran Bible (Alkitab), dan Yesus pun tidak pernah memerintah para muridnya untuk menyelenggarakannya. Perayaan yang masuk dalam ajaran Kristen Katolik Roma pada abad ke empat ini adalah berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala.
Karena perayaan Natal yang diselenggarakan di seluruh dunia ini berasal dari Katolik Roma, dan tidak memiliki dasar dari kitab suci, maka marilah kita dengarkan penjelasan dari Katolik Roma dalam Catholic Encyclopedia, edisi 1911, dengan judul “Christmas”, anda akan menemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut:
“Christmas was not among the earliest festivals of Church … the first evidence of the feast is from Egypt. Pagan customs centering around the January calends gravitated to christmas.”
” Natal bukanlah diantara upacara-upacara awal Gereja … bukti awal menunjukkan bahwa pesta tersebut berasal dari Mesir. Perayaan ini diselenggarakan oleh para penyembah berhala dan jatuh pada bulan Januari ini, kemudian dijadikan hari kelahiran Yesus.”
Dalam Ensiklopedi itu pula, dengan judul “Natal Day,” Bapak Katolik pertama, mengakui bahwa:
“In the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Paraoh and Herod) who make great rejoicings over the day in which they were born into this world.”
“Di dalam kitab suci, tidak seorang pun yang mengadakan upacara atau menyelenggarakan perayaan untuk merayakan hari kelahiran Yesus. Hanyalah orang-orang kafir saja (seperti Firaun dan Herodes) yang berpesta pora merayakan hari kelahirannya ke dunia ini.”
Encyclopedia Britannica, yang terbit tahun 1946, menjelaskan sebagai berikut:
“Christmas was not among the earliest festivals of the church… It was not instituted by Christ or the apostles, or by Bible authority. It was picked up of afterward from paganism.”
” Natal bukanlah upacar - upacara awal gereja. Yesus Kristus atau para muridnya tidak pernah menyelenggarakannya, dan Bible (Alkitab) juga tidak pernah menganjurkannya. Upacara ini diambil oleh gereja dari kepercayaan kafir penyembah berhala.”
Encyclopedia Americana terbitan tahun 1944 juga menyatakan sebagai berikut:
“Christmas…It was, according to many authorities, not celebrated in the first centuries of the Christian church, as the Christian usage in general was to celebrate the death of remarkable persons rather than their birth…” (The “Communion,” which is instituted by New Testament Bible authority, is a memorial of the death of Christ.) “…A feast was established in memory of this event (Christ’s birth) in the fourth century. In the fifth century the Western Church ordered it to be celebrated forever on the day of the old Roman feast of the birth of Sol, as no certain knowledge of the day of Christ’s birth existed.”
“Menurut para ahli, pada abad-abad permulaan, Natal tidak pernah dirayakan oleh umat Kristen. Pada umumnya, umat Kristen hanya merayakan hari kematian orang-orang terkemuka saja, dan tidak pernah merayakan hari kelahiran orang tersebut..” (”Perjamuan Suci” yang termaktub dalam Kitab Perjanjian Baru, hanyalah untuk mengenang kematian Yesus Kristus.) “…Perayaan Natal yang dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, mulai diresmikan pada abad keempat Masehi. Pada abad kelima, Gereja Barat memerintahkan kepada umat Kristen untuk merayakan hari kelahiran Yesus, yang diambil dari hari pesta bangsa Roma yang merayakan hari “Kelahiran Dewa Matahari.” Sebab tidak seorang pun yang mengetahui hari kelahiran Yesus.”
Sekarang perhatikan! Fakta sejarah telah membeberkan kepada kita bahwa mulai lahirnya gereja Kristen pertama sampai dua ratus atau tiga ratus tahun kemudian - jarak waktu yang lebih lama dari umur negara Amerika Serikat - upacara Natal tidak pernah dilakukan oleh umat Kristen. Baru setelah abad keempat, perayaan ini mulai diselenggarakan oleh orang-orang Barat, Roma dan Gereja. Menjelang abad kelima, Gereja Roma memerintahkan untuk merayakannya sebagai hari raya umat Kristen yang resmi.
Yesus tidak lahir pada 25 Desember
Sungguh amat mustahil jika Yesus dilahirkan pada musim dingin! (Di wilayah Yudea, setiap bulan Desember adalah musim salju dan hawanya sangat dingin) Sebab Injil Lukas 2:11 menceritakan suasana di saat kelahiran Yesus sebagai berikut:
“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, di kota Daud.”
Tidak mungkin para penggembala ternak itu berada di padang Yudea pada bulan Desember. Biasanya mereka melepas ternak ke padang dan lereng-lereng gunung. Paling lambat tanggal 15 Oktober, ternak tersebut sudah dimasukkan ke kandangnya untuk menghindari hujan dan hawa dingin yang menggigil. Bibel sendiri dalam Perjanjian Lama, kita Kidung Agung 2: dan Ezra 10:9, 13 menjelaskan bahwa bila musim dingin tiba, tidak mungkin pada gembala dan ternaknya berada di padang terbuka di malam hari.
Adam Clarke mengatakan:
“It was an ancient custom among Jews of those days to send out their sheep to the field and desert about the Passover (early spring), and bring them home at commencement of the first rain.” (Adam Clarke Commentary, Vol.5, page 370, New York ).
“Adalah kebiasaan lama bagi orang-orang Yahudi untuk menggiring domba-domba mereka ke padang menjelang Paskah (yang jatuh awal musim semi), dan membawanya pulang pada permulaan hujan pertama).”
Adam Clarke melanjutkan:
“During the time they were out, the sepherds watch them night and day. As…the first rain began early in the month of Marchesvan, which answers to part of our October and November (begins sometime in october), we find that the sheep were kept out in the open country during the whole summer. And, as these sepherds had not yet brought home their flocks, it is a presumptive argument that october had not yet commenced, and that, consequently, our Lord was not born on the 25th of December, when no flock were out in the fields; nor could He have been born later than September, as the flocks were still in the fields by night. On this very ground, the Nativity in December should be given up. The feeding of the flocks by night in the fields is a chronological fact…See the quotation from the Talmudists in Lightfoot.”
“Selama domba-domba berada di luar, para penggembala mengawasinya siang dan malam. Bila…hujan pertama mulai turun pada bulan Marchesvan, atau antara bulan Oktober dan November, ternak-ternak itu mulai dimasukkan ke kandangnya. Kita pun mengetahui bahwa domba-domba itu dilepas di padang terbuka selama musim panas. Karena para penggembala belum membawa pulang domba-dombanya, berarti bulan Oktober belum tiba. Dengan demikian dapatlah diambil kesimpulan bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember, ketika tidak ada domba-domba berkeliaran di padang terbuka di malam hari. Juga tidak mungkin dia lahir setelah bulan September, karena di bulan inilah domba-domba masih berada di padang waktu malam. Dari berbagai bukti inilah, kemungkinan lahir di bulan Desember itu harus disingkirkan. Memberi makan ternak di malam hari, adalah fakta sejarah…sebagaimana yang diungkapkan oleh Talmud (kitab suci Yahudi) dalam bab “Ringan Kaki”.
Di ensiklopedi mana pun atau juga di kitab suci Kristen sendiri akan mengatakan kepada kita bahwa Yesus tidak lahir pada tanggal 25 Desember. Catholic Encyclopedia sendiri secara tegas dan terang-terangan mengakui fakta ini.
Tidak seorang pun yang mengetahui, kapan hari kelahiran Yesus yang sebenarnya. Jika kita meneliti dari bukti-bukti sejarah dan kitab suci Kristen sendiri, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa Yesus lahir pada awal musim gugur - yang diperkirakan jatuh pada bulan September - atau sekitar 6 bulan setelah hari Paskah.
Jika Tuhan menghendaki kita untuk mengingat-ingat dan merayakan hari kelahiran Yesus, niscaya dia tidak akan menyembunyikan hari kelahirannya
Proses Natal Masuk Gereja
New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge dalam artikelnya yang berjudul “Christmas” menguraikan dengan jelas sebagai berikut:
“How much the date of the festival depended upon the pagan Brumalia (Dec.25) following the Saturnalia (Dec.17-24), and celebrating the shortest day of the year and the ‘new sun’… can not be accurately determined. The pagan Saturnalia and Brumalia were too deeply entrenched in popular custom to be set aside by Christian influence…The pagan festival with its riot and merrymaking was so popular that Christians were glad of an excuse to continue its celebration with little change in spirit and in manner. Christian preachers of the West and the Near East protested against the unseemly frivolity with which Christ’s birthday was celebrated, while Christians of Mesopotamia accused their Western brethren of idolatry and sun worship for adopting as Christian this pagan festival.”
“Sungguh banyak tanggal perayaan yang terkait pada kepercayaan kafir Brumalia (25 Desember) sebagai kelanjutan dari perayaan Saturnalia (17-24 Desember), dan perayaan menjelang akhir tahun, serta festival menyambut kelahiran matahari baru. Adat kepercayaan Pagan Brumalia dan Saturnalia yang sudah sangat populer di masyarakat itu diambil Kristen…Perayaan ini dilestarikan oleh Kristen dengan sedikit mengubah jiwa dan tata caranya. Para pendeta Kristen di Barat dan di Timur Dekat menentang perayaan kelahiran Yesus Kristus yang meniru agama berhala ini. Di samping itu Kristen Mesopatamia menuding Kristen Barat telah mengadopsi model penyembahan kepada dewa Matahari.”
Perlu diingat! Menjelang abad pertama sampai pada abad keempat Masehi, dunia dikuasai oleh imperium Romawi yang paganis politeisme. Sejak agama Kristen masih kecil sampai berkembang pesat, para pemeluknya dikejar-kejar dan disiksa oleh penguasa Romawi. Setelah Konstantin naik tahta menjadi kaisar, kemudian memeluk agama Kristen pada abad ke-4 M. dan menempatkan agama sejajar dengan agama kafir Roma, banyak rakyat yang berbondong-bondong memeluk agama Kristen.
Tetapi karena mereka sudah terbiasa merayakan hari kelahiran dewa-dewanya pada tanggal 25 Desember, mengakibatkan adat tersebut sulit dihilangkan. Perayaan ini adalah pesta-pora dengan penuh kemeriahan, dan sangat disenangi oleh rakyat. Mereka tidak ingin kehilangan hari kegembiraan seperti itu. Oleh karena itu, meskipun sudah memeluk agama Kristen, mereka tetap melestarikan upacara adat itu. Di dalam artikel yang sama, New Schaff-Herzog Encyclopedia of Religious Knowledge menjelaskan bagaimana kaisar Konstantin tetap merayakan hari “Sunday” sebagai hari kelahiran Dewa Matahari. (Sun = Matahari, Day = Hari - dalam bahasa Indonesia disebut hari Minggu — pen.) Dan bagaimana pengaruh kepercayaan kafir Manichaeisme yang menyamakan Anak Tuhan (Yesus) identik dengan Matahari, yang kemudian pada abad ke-4 Masehi kepercayaan itu masuk dalam agama Kristen. Sehingga perayaan hari kelahiran Sun-god (Dewa Matahari) yang jatuh pada tanggal 25 Desember, diresmikan menjadi hari kelahiran Son of God (Anak Tuhan - Yesus).
Demikianlah asal usul “Christmas - Natal ” yang dilestarikan oleh dunia Barat sampai sekarang. Walaupun namanya diubah menjadi selain Sun-day, Son of God, Christmas dan Natal , pada hakikatnya sama dengan merayakan hari kelahiran dewa Matahari. Sebagai contoh, kita bisa saja menamakan kelinci itu dengan nama singa, tetapi bagaimanapun juga fisiknya tetap kelinci.
Marilah kita kembali membaca Encyclopaedia Britannica yang mengatakan sebagai berikut:
“Certain Latins, as early as 354, may have transferred the birthday from January 6th to December, which was then a Mithraic feas … or birthday of the unconquered SUN … The Syrians and Armenians, who clung to January 6th, accused the Romans of sun worship and idolatry, contending… that the feast of December 25th, had been invented by disciples of Cerinthus…”
“Kemungkinan besar bangsa Latin/Roma sejak tahun 354 M. telah mengganti hari kelahiran dewa Matahari dari tanggal 6 Januari ke 25 Desember, yang merupakan hari kelahiran Anak dewa Mitra atau kelahiran dewa Matahari yang tak terkalahkan. Tindakan ini mengakibatkan orang-orang Kristen Syiria dan Armenia marah-marah. Karena sudah terbiasa merayakan hari kelahiran Yesus pada tanggal 6 Januari, mereka mengecam bahwa perayaan tanggal 25 Desember itu adalah hari kelahiran Dewa Matahari yang dipercayai oleh bangsa Romawi. Penyusupan ajaran ini ke dalam agama Kristen, dilakukan oleh Cerinthus…”
Asal Usul Natal
Kita mewarisi Natal berasal dari Gereja Katolik Roma, dan gereja itu mendapatkannya dari kepercayaan pagan (kafir) Politeisme, lalu dari manakah agama kafir itu mendapatkan ajaran itu? Dimana, kapan, dan bagaimana bentuk asli ajaran itu?
Bila kita telusuri mulai dari ayat-ayat Bible (Alkitab) sampai pada sejarah kepercayaan bangsa Babilonia kuno, niscaya akan ditemukan bahwa ajaran itu berasal dari kepercayaan berhala yang dianut oleh masyarakat Babilonia di bawah raja Nimrod (Namrud - di masa inilah nabi Ibrahim lahir). Jelasnya, akar kepercayaan ini tumbuh setelah terjadi banjir besar di masa nabi Nuh.
Nimrod, cucu Ham, anak nabi Nuh, adalah pendiri sistem kehidupan masyarakat Babilonia. Sejak itulah terdapat dasar-dasar pemerintahan dan negara, dan sistem ekonomi dengan cara bersaing untuk meraih keuntungan. Nimrod inilah mendirikan menara Babel , membangun kota Babilonia, Nineweh dan kota-kota lainnya. Dia pula yang pertama membangun kerajan di dunia. Nama “Nimrod” dalam bahasa Hebrew (Ibrani) berasal dari kata “Marad” yang artinya “dia membangkang atau murtad” (Karena bahasa Ibrani serumpun dengan bahasa Arab, silahkan anda membandingkan kata “Marad” dengan kata Arab “Ridda” atau “murtad”. Pen)
Dari catatan-catatan kuno, kita mengetahui perjalanan Nimrod ini, yang mengawali pemurtadan terhadap Tuhan dan menjadi biang manusia pembangkang di dunia sampai saat ini. Jumlah kejahatannya amat banyak, diantaranya, dia mengawini ibu kandungnya sendiri yang bernama Semiramis. Setelah Nimrod meninggal dunia, ibu yang merangkap sebagai istri tersebut menyebarkan ajaran bahwa Roh Nimrod tetap hidup selamanya, walaupun jasadnya telah mati. Dia membuktikan ajarannya dengan adanya pohon Evergreen yang tumbuh dari sebatang kayu yang mati, yang ditafsirkan oleh Semiramis sebagai bukti kehidupan baru bagi Nimrod yang sudah mati. Untuk mengenang hari kelahirannya, Nimrod selalu hadir di pohon evergreen ini dan meninggalkan bingkisan yang digantungkan di ranting-ranting pohon itu. 25 Desember itulah hari kelahiran Nimrod. Dan inilah asal usul pohon Natal .
Melalui pengaruh dan pemujaannya kepada Nimrod, Semiramis dianggap sebagai “Ratu Langit” oleh rakyat Babilonia. Dengan berbagai julukan, akhirnya Nimrod dipuja sebagai “Anak Suci dari Sorga”. Melalui perjalanan sejarah dan pergantian generasi dari masa ke masa, dari satu bangsa ke bangsa lainnya, penyembahan berhala versi Babilonia ini berubah menjadi Mesiah Palsu yang berupa dewa Baal, anak dewa Matahari. Dalam sistem kepercayaan Babilonia ini, “Ibu dan anak” (Semiramis dan Nimrod yang lahir kembali) menjadi obyek penyembahan. Ajaran penyembahan kepada ibu dan anak ini menyebar luas sampai di luar Babilonia dengan bentuk dan nama yang berbeda-beda, sesuai dengan bahasa negara-negara yang ditempatinya. Di Mesir dewa-dewi itu bernama Isis dan Osiris. Di Asia bernama Cybele dan Deoius. Dalam agama Pagan Roma disebut Fortuna dan Yupiter. Bahkan di Yunani , China , Jepang , Tibet bisa ditemukan adat pemujaan terhadap dewi Madonna, jauh sebelum Yesus lahir!
Sampai pada abad ke-4 dan ke-5 Masehi, ketika dunia pagan (penyembah banyak dewa) Romawi menerima agama baru yang disebut “Kristen,” dengan membawa adat dan kepercayaan pagan mereka yang lama. Akibatnya kepercayaan kepada Dewi Madonna, Ibu dan Anak juga menjadi populer, terutama di waktu hari Natal . Di setiap musim Natal kita selalu mendengar lagu-lagu atau hymne: “Silent Night” atau “Holy Night” yang sangat akrab dengan tema pemujaan terhadap Ibu dan Anak.
Kita yang sejak lahir diwarnai oleh alam budaya Babilonia, telah diajarkan untuk mengagungkan dan memuliakan semua tradisi yang berasal dari jaman jahiliyah kuno itu. Kita tidak pernah bertanya untuk mengetahui dari manakah asal usul adat seperti itu - Apakah ia berasal dari ajaran Bible (Alkitab), ataukah ia berasal dari kepercayaan penyembah berhala yang sesat?
Kita terperangah seakan-akan tidak mau menerima kebenaran ini, karena seluruh dunia terlanjur telah melakukannya. Lebih aneh lagi, sebagian besar meremehkan dan mencemooh kebenaran ini. Namun Tuhan telah berfirman kepada para utusannya yang setia:
“Katakan dengan lantang,
dan jangan menghiraukan penghinaan mereka!
Kumandangkan suaramu seperti terompet!
Dan tunjukkan di depan umatKu tentang kesesatan mereka!”
Memang kenyataan ini sungguh sangat mengejutkan bagi mereka, meskipun ini adalah fakta sejarah dan berdasarkan kebenaran dari Bibel (Alkitab).
Natal adalah acara ritual yang berasal dari masa Babilonia kuno yang belum mengenal agama yang benar. Tradisi ini diwariskan puluhan abad yang lampau sampai kepada kita.
Di Mesir , ia dipercayai bahwa Dewi Isis (Dewi Langit) melahirkan anaknya yang tunggal pada tanggal 25 Desember. Hampir semua orang-orang penyembah berhala (paganis) di dunia waktu itu, merayakan ulang tahun ( Natal ) anak dewi Isis ini jauh sebelum kelahiran Yesus.
Dengan demikian, sudah jelas bagi kita bahwa 25 Desember itu bukanlah hari kelahiran Yesus Kristus. Para murid Yesus dan orang-orang Kristen abad pertama tidak pernah menyelenggarakan Natal , meskipun hanya sekali. Tidak ada ajaran atau pun perintah perayaan Natal di dalam Bibel. Sekali lagi, perayaan Natal atau Christmas itu adalah ulang tahun anak dewa yang dianut oleh para paganis, dan bukan dari ajaran Kristen. Percaya atau tidak, terserah anda!
Upacara ini berasal dari cara-cara pemujaan yang dikenal dengan “Chaldean Mysteries” (Misteri Kaldea) berasal dari ajaran Semiramis, isteri Nimrod. Kemudian adat ini dilestarikan oleh para penyembah berhala secara turun-temurun hingga sekarang dengan wajah baru yang disebut Kristen.
Asal Usul Pohon Natal
Sekarang dari manakah kita mendapatkan kebiasaan memasang pohon Natal itu? Di antara para penganut agama Pagan kuno, pohon itu disebut “Mistletoe” yang dipakai pada saat perayaan musim panas, karena mereka harus memberikan persembahan suci kepada matahari, yang telah memberikan mukjizat penyembuhan. Kebiasaan berciuman di bawah pohon itu merupakan awal acara di malam hari, yang dilanjutkan dengan pesta makan dan minum sepuas-puasnya, sebagai perayaan yang diselenggarakan untuk memperingati kematian “Matahari Tua” dan kelahiran “Matahari Baru” di musim panas.
Rangkaian bunga suci yang disebut “Holly Berries” juga dipersembahkan kepada dewa Matahari. Sedangkan batang pohon Yule dianggap sebagai wujud dari dewa matahari. Begitu pula menyalakan lilin yang terdapat dalam upayara Kristen hanyalah kelanjutan dari kebiasaan kafir, sebagai tanda penghormatan terhadap dewa matahari yang bergeser menempati angkasa sebelah selatan.
Encyclopedia Americana menjelaskan sebagai berikut:
“The Holly, the Mistletoe, the Yule log …are relics of pre-Christian times.”
“Rangkaian bunga Holly, pohon Mistletoe dan batang pohon Yule…yang dipakai sebagai penghias malam Natal adalah warisan dari zaman sebelum Kristen.”
Sedangkan buku Answer to Question yang ditulis oleh Frederick J. Haskins menyebutkan bahwa:
“The use of Christmas wreath is believed by authorities to be traceable to the pagan customs of decorating buildings and places of worship at the feast which took place at the same time as Christmas. The Christmas tree is from Egypt, and its origin date from a period long anterior to the Christian Era.”
“Hiasan yang dipakai pada upacara Natal adalah warisan dari adat agama penyembah berhala (paganisme), yang menghiasi rumah dan tempat peribadatan mereka yang waktunya bertepatan dengan malam Natal sekarang. Sedangkan pohon Natal berasal dari kebiasaan Mesir Kuno, yang masanya lama sekali sebelum lahirnya agama Kristen.”
Siapa Santa Claus /Sinterklas itu?
Santa Claus bukan ajaran yang berasal dari paganisme, tetapi juga bukan ajaran Kristen. Sinterklas ini adalah ciptaan seorang pastur yang bernama “Santo Nicolas” yang hidup pada abad ke empat Masehi. Hal ini dijelaskan oleh Encyclopedia Britannica, volume 19 halaman 648-649, edisi kesebelas, yang berbunyi sebagai berikut:
“St. Nicholas, bishop of Myra, a saint honored by the Greek and Latins on the 6th of December… A Legent of his surreptitious bestowal of dowries on the three daughters of an improverrished citizen… is said to have originated the old custom of giving presents in secret on the Eve of St. Nicholas (Dec.6), subsequently transferred to Christmas day. Hence the association of Christmas with Santa Claus…”
“St. Nicholas, adalah seorang pastur di Myra yang amat diagung-agungkan oleh orang-orang Yunani dan Latin setiap tanggal 6 Desember…Legenda ini berawal dari kebiasaannya yang suka memberikan hadiah secara sembunyi-sembunyi kepada tiga anak wanita miskin… untuk melestarikan kebiasaan lama dengan memberikan hadiah secara tersembunyi itu digabungkan ke dalam malam Natal. Akhirnya tarkaitlah antara hari Natal dan Santa Claus…”
Sungguh merupakan kejanggalan! Orang tua menghukum anaknya yang berkata bohong. Tetapi di saat menjelang Natal , mereka membohongi anak-anak dengan cerita Sinterklas yang memberikan hadiah di saat mereka tidur. Bukankah ini suatu keanehan, ketika anak-anak menginjak dewasa dan mengenal kebenaran, pasti akan beranggapan bahwa Tuhan hanyalah mitos atau dongeng belaka?
Dengan cara ini tidak sedikit orang yang merasa tertipu, dan mereka pun mengatakan:
“Ya, saya akan membongkar pula tentang mitos Yesus Kristus!” Inikah ajaran Kristen yang mengajarkan mitos dan kebohongan kepada anak-anak? Padahal Tuhan sudah mengatakan:
“Janganlah menjadi saksi palsu. Dan ada cara yang menurut manusia betul, tetapi sebenarnya itu adalah ke jalan kematian dan kesesatan.” Oleh karena itu, upacara “Si Santa Tua” itu juga merupakan Setan.
Di dalam kitab suci telah dijelaskan sebagai berikut:
“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi itu bukanlah hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.” (II Korintus 11:14)
Dari bukti-bukti nyata yang telah kita ungkap tadi dapatlah diambil kesimpulan, bahwa perayaan Natal atau Christmas itu bukanlah ajaran Kristen yang sebenarnya, melainkan kebiasaan para penyembah berhala (Paganis). Ia warisan dari kepercayaan kuno Babilonia ribuan tahun yang lampau.
Kata Bible Tentang Natal
Bagaimana Bibel berbicara tentang Natal , atau mencatat pandangan para murid Yesus atau bapak-bapak geraja awal. Jawabannya sungguh sangat mengejutkan bagi kalangan Kristen sendiri. Sebagaimana yang dikatakan Bibel (Alkitab) pada kitab Yeremia 10:2-4 yang berbunyi sebagai berikut:
“Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan.”
“Bukankah berhala itu pohon yang ditebang orang dari hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu?
Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang.”
Itulah keterangan yang jelas dari Bibel tentang pohon Natal . Kita dilarang mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa penyembah berhala. Sebab hal itu merupakan perbuatan yang sesat menyekutukan Tuhan. Pada ayat kelima dijelaskan bahwa:
“Pohon itu tidak bisa berbicara, dan orang harus mengangkatnya, karena ia tidak bisa berjalan sendiri.”
“Janganlah takut kepadanya, sebab ia tidak dapat berbuat jahat, juga tidak dapat berbuat baik.”
Sebab mereka bukanlah dewa yang harus ditakuti. Bagi mereka yang tidak pernah membaca atau yang melupakan ayat ini, beranggapan bahwa tidak ada larangan untuk membuat pohon Natal . Tetapi jika telah membacanya, apa yang harus dikatakan?
Hadiah Natal
Acara yang paling penting dari seluruh kegiatan Natal adalah “The Christmas Shopping Season - Musim Belanja Natal” yang dilakukan dengan cara membeli dan tukar menukar hadiah. Mungkin banyak orang yang mengecam kami sambil berkata:
“Bukankah Bibel (Alkitab) telah menceritakan kepada kita untuk ditiru? Lupakah kita kisah 3 orang dari timur yang datang ke Betelhem untuk memberikan hadiah ketika Yesus lahir?”
Memang, kami mengetahui cerita itu di dalam Alkitab. Tetapi, silahkan anda melihat keterangan kami yang mengejutkan ini. Marilah menengok sejarah asal usul tukar menukar hadiah itu, kemudian kita bandingkan dengan ayat Alkitab.
Pada Bibliothica Sacra, volume 12, halaman 153-155, kita dapat membaca sebagai berikut:
“The interchange of presents between friends is alike characteristic of Christmas and the Saturnalia, and must have been adopted by Christians from the Pagan, as the admonition of Tertullian plainly shows.”
“Tukar menukar hadiah antar teman di hari Natal serupa dengan adat agama Saturnalia. Kemungkinan besar, kebiasaan ini diadopsi oleh orang-orang Kristen dari agama Pagan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Tertulianus.”
Dari bukti yang jelas ini, ternyata kebiasaan pertukaran hadian sesama teman dan famili pada hari Natal itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan kisah dalam Alkitab tersebut. Acara Natal bukanlah merayakan ulang tahun Yesus Kristus, juga bukan untuk menghormatinya.
Sebagai contoh, seorang teman yang sangat anda cintai sedang merayakan ulang tahunnya. Bila ingin membahagiakannya di hari kelahirannya itu, apakah anda membeli hadiah untuk teman yang lain? Membeli lagi dan tukar menukar hadiah dengan teman-teman dan kekasih anda, tetapi tidak memberi hadiah apa pun kepada teman yang anda cintai, yang sedang anda rayakan hari ulang tahunnya? Tidakkah disadari keganjilan seperti itu?
Sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri yang selalu dilakukan oleh hampir semua orang di seluruh dunia. Mereka menghormati “sebuah hari” - yang sebenarnya bukan hari kelahiran Yesus Kristus - dengan berbelanja dan membeli hadiah sebanyak-banyaknya untuk ditukarkan kepada teman-teman dan kerabatnya. Dari pengalaman saya selama bertahun-tahun, begitu pula pengalaman para pastur dan pendeta; Apabila bulan Desember tiba, hampir semua orang yang mengaku Kristen lupa memberi hadiah kepada Yesus Kristus yang mereka cintai.
Desember adalah bulan yang paling sulit untuk menghidupkan ajaran Yesus. Sebab semua orang terlalu disibukkan untuk membeli dan menukar hadiah daripada mengingat Yesus dan menghidupkan ajarannya. Peristiwa melupakan Yesus ini terus berlangsung sampai bulan Januari bahkan Pebruari. Sebab mereka harus melunasi biaya pengeluaran yang dibelanjakan pada waktu Natal . Sehingga mereka sulit mengabdi kepada Yesus kembali sebelum bulan Maret.
Sekarang, perhatikan apa kata Bibel tentang tiga orang dari timur yang memberikan hadiah kepada Yesus, yang berbunyi sebagai berikut:
“Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Di manakah dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-bintang di timur dan kami datang untuk menyembah dia.” Ketika raja Herodes mendengar tentang hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yudea, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yudea, karena daripadamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umatKu Israel . Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang Majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai anak itu dan segera sesudah kamu menemukan dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah dia.” Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya, lalu sujud menyembah dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadanya, yaitu emas, kemenyan dan mur. Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.”
Hadiah Untuk Yesus
Perhatikanlah dengan teliti. Ayat bibel tersebut menceritakan bahwa pada mulanya orang-orang Majus tersebut menanyakan tentang Bayi Yesus yang lahir sebagai Raja Yahudi. Lalu, mengapa mereka memberi hadiah kepadanya? Apakah karena hari kelahirannya?
Jawabannya adalah “Tidak.” Sebab mereka memberi hadiah beberapa hari bahkan beberapa minggu setelah hari kelahirannya.
Bisakah peristiwa ini dipakai pedoman bagi kita untuk melakukan kebiasaan memberi atau saling menukar hadiah di antara kita? Jelas tidak bisa. Sebab orang-orang Majus tersebut tidak saling menukar hadiahnya, tetapi mereka memberi hadiah kepada Yesus. Bukan tukar menukar hadiah sesama teman atau kerabatnya.
Mengapa? Silahkan anda membaca buku Adam Clarke Commentary, volume 5, halaman 46 yang berbunyi sebagai berikut:

“Verse 11. (They presented unto him gifts.) The people of the east never approach the presence of kings and great personages, without a present in their hands. The custom is often noticed in the Old Testament, and still prevails in the east, and in some of the newly discored South Sea Islands.”
“Ayat 11. (Mereka memberi hadiah kepadanya.) Adalah kebiasaan orang-orang timur, apabila menghadap raja atau orang-orang terkemuka, mereka selalu membawa hadiah. Kebiasaan seperti ini juga tercantum dalam kitab Perjanjian Lama, dan masih berlaku di timur, juga dapat ditemuka di South Sea Islands (Kepulauan Laut Selatan).”
Dari keterangan Adam Clarke ini, jelaslah bagi kita, bahwa peristiwa tersebut tidak bisa dipakai pedoman atau dikaitkan dengan kebiasaan Kristen baru dengan menukar hadiah kepada temannya untuk menghormati ulang tahun Yesus. Sebaliknya, mereka mengikuti adat orang-orang timur kuno yang memberi hadiah ketika mengharap raja. Mereka mendatangi Yesus, yang lahir sebagai Raja Yahudi. Sebagaimana ratu Sheba (Balqis) membawa hadiah kepada raja Salomo (Sulaiman). Bahkan seperti sekarang ini, para tamu negara pasti membawa hadiah atau cindera mata apabila datang ke White House (Gedung Putih) untuk menemui presiden.
Jadi kebiasaan menukar hadiah ini bukanlah dari ajaran Kristen, melainkan hanya merupakan pelestarian tradisi lama yang dilakukan oleh orang-orang pagan (penyembah berhala). Di saat menjelang Natal atau Christmas yang katanya untuk menghormati Kristus dan menghidupkan ajarannya, justru orang-orang Kristen bertambah set back (jauh) dari ajaran Yesus.
Natal Memuliakan Tuhan ?
Ada dua alasan yang dipakai dasar oleh orang-orang yang menyelenggarakan Natal , sebagai cara untuk menghormati Yesus Kristus, meskipun mereka mengetahui bahwa perayaan itu warisan kepercayaan Paganisme:
1. Banyak yang mengajukan alasan: “Walaupun kita tidak mengetahui secara tepat hari kelahiran Yesus, apa salahnya kita memilih hari untuk merayakan ulang tahunnya.”
Kami akan menjawab dengan pasti “Tidak bisa”. Sebab dalam Catholic Encyclopedia (Eksiklopedi Katolik) telah dijelaskan:
“Sinners alone, not saints, celebrate their birthday = Hanya orang kafir, bukan orang-orang suci, yang merayakan hari ulang tahun mereka.”
Perayaan ulang tahun bukan berasal dari agama Kristen, melainkan dari ajaran agama kafir.
2. Ada pula yang beralasan: “Walaupun Natal itu kebiasaan orang-orang kafir (pagan) yang menyembah dewa matahari, tetapi kita tidak menyembah dewa tersebut, melainkan untuk menghormati Yesus Kristus.”
Tetapi sudahkah kita mendengarkan jawaban Tuhan melalui firmannya yang berbunyi sebagai berikut:
“Maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari hadapanmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang tuhan mereka dengan berkata: “Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada tuhan mereka? Aku pun mau berlaku begitu.” Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap Tuhanmu. Sebab segala yang menjadi kekejian bagi Tuhan, apa yang dibenciNya, itulah yang dilakukan mereka bagi tuhan mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi tuhan mereka.” (Ulangan 12:30-31)
Tuhan berfirman dengan jelas dalam kitab suciNya, bahwa Dia tidak mau menerima dalam bentuk penyembahan yang menyerupai atau meniru cara penyembahan orang-orang kafir kepada tuhannya. Cara penyembahan seperti itu sangat menjijikkan bagi Tuhan. BagiNya, pemujaan yang demikian itu tidak layak untukNya, melainkan hanya pantas untuk memuja berhala. Sebagaimana yang sering kita dengar, Tuhan melarang kita menyembahNya hanya dengan “menurut kata hati kita sendiri.” Yesus telah bersabda:

“Allah itu Roh, dan barang siapa yang menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.” (Yohanes 4:24)
Dan apa yang dimaksud dengan kebenaran itu? Firman Tuhan atau Kitab suci Bibel itulah kebenaran. Sebagainya sabda Yesus yang berbunyi sebagai berikut:
“Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; FirmanMu adalah kebenaran.” (Yohanes 17:17)
Di Dalam Bibel sendiri, secara jelas Tuhan berfirman bahwa Dia tidak mau menerima penyembahan kepadaNya, dengan meniru cara penyembahan para penyembah berhala. Begitu pula cara yang dipakai untuk mengagungkan dan memuliakan Yesus Kristus.
Ingatlah sekali lagi, peringatan Yesus yang berbunyi:
“Percuma mereka beribadah kepadaku, sedangkan ajaran yang mereja ajarkan ialah perintah manusia.”
Natal atau Christmas adalah tradisi dan ajaran manusia, sedangkan ajaran Tuhan telah melarangnya. Selanjutnya Yesus bersabda lagi:
“Sungguh kamu telah menolak ajaran Tuhan, tetapi kamu mengikuti ajaran tradisimu sendiri.”
Alangkah tepat firman-firman Tuhan yang dilontarkan kepada berjuta-juta orang yang melakukan Natal itu. Mereka mengabaikan ajaran Tuhan. Tuhan melarang pemujaan yang meniru adat kaum kafir penyembah berhala, tetapi dengan senang hati kita melanggarnya. Tuhan berfirman:
“Janganlah kamu berbuat demikian terhadap Tuhanmu.”
Ternyata hampir semua orang menganggap ringan larangan itu. Atau karena tidak memiliki dasar agama yang kuat, akhirnya mereka mengikuti tradisi kebanyakan orang-orang untuk merayakan Natal .
Jangan salah! Tuhan membiarkan anda untuk berbuat semaunya dan tidak mengikuti petunjukNya. Tuhan membiarkan kita tenggelam dalam keramaian dan mengikuti tradisi orang-orang. Bahkan Dia akan membiarkan kita berlumuran dosa. Tetapi, Tuhan juga telah memerintahkan kita tentang datangnya hari perhitungan atau pembalasan. Jika kamu menanam, niscaya kamu akan memetik hasilnya. Yesus adalah firman Tuhan yang hidup, sedangkan Bibel adalah firman Tuhan yang tertulis. Dan kita akan diadili sesuai dengan ketetapan yang telah digariskan dalam firman tersebut. Kita pun tidak bisa mengelak dan mengabaikannya.
Sumber : “THE PLAIN TRUTH ABOUT CHRISTMAS “ By Herbert W. Armstrong Terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh Masyhud SM dalam buku “Misteri Natal” Tentang Seluk beluk perayaan Natal dikupas secara lengkap oleh Herbert W. Armstrong kepala editor majalah Kristen “Plain Truth” yang bertiras sekitar 8 juta eksemplar tiap bulan. Sumber ini diperoleh dari www.pakdenono.com

Teknik Pengujian Bible Kristen
Ada banyak teknik/cara untuk menguji keabsahan wahyu atau pun kebenaran laporan dalam Alkitab. Namun demikian, di sini kami hanya akan menampilkan salah satu teknik pengujian kebenaran berita yang dilansir dalam Alkitab.
Konon, menurut bualan Matius, ketika Yesus masih bayi, beberapa orang Israel mendatangi Maria untuk melihat bayi Yesus, dan ketika mereka melihat bayi Yesus, mereka MENYEMBAHNYA. Ayat-ayat Matius selengkapnya dikutip di bawah ini:
2:9. Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.
2:10 Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.
2:11 Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.
2:12 Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.
Bagaimana kita menguji kebenaran ayat-ayat Matius di atas? Marilah kita perhatikan bukti-bukti di bawah ini:
1. Injil Matius ditulis sekitar tahun 85 Masehi1 dan tidak ada bukti sama sekali tentang siapa yang menulisnya dan kapan waktu persisnya. Sementara itu, Yesus diduga dilahirkan pada tahun 2 Sebelum Masehi. Hal ini didasarkan pada keterangan Injil Lukas yang menempatkan pembaptisan Yesus pada tahun ke-15 pemerintahan Kaisar Roma Tiberius, dan saat Pontius Pilatus menjadi pejabat gubernur Yudaea (Lukas 3:1), dan bahwa Kaisar Tiberius menggantikan Kaisar Agustus pada tahun 14 Masehi,2 maka Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis pada tahun 29 Masehi, yakni ketika Yesus berumur kira-kira 30 tahun (Lukas 3:23). Jika kita menerima keterangan Lukas ini, maka Yesus dilahirkan pada tahun 2 Sebelum Masehi. Dengan demikian, maka terdapat kurun waktu kira-kira 86 tahun antara waktu kelahiran Yesus dengan waktu penyusunan Injil Matius. Laporan Matius yang ditulis kira-kira 86 tahun kemudian tentang peristiwa penyembahan terhadap bayi Yesus oleh beberapa orang Israel dengan tanpa adanya bukti atau sandaran sama sekali ini menunjukkan betapa lemahnya kebenaran ayat-ayat Matius di atas.
2. Tidak ada sama sekali keterangan dalam Perjanjian Lama yang meramalkan kedatangan seseorang yang kedudukannya setara dengan Tuhan. Bahkan, secara tegas Perjanjian Lama menyatakan bahwa tidak ada tuhan-tuhan lain bagi umat Israel selain Tuhan yang Esa, sebagaimana pernyataan Kitab Ulangan berikut ini:
4:35 Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.
5:6. Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
5:7 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
6:4. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
3. Umat Israel/Yahudi mempunyai keyakinan paralel, yaitu bahwa sebelum Mesias datang, Elia akan datang terlebih dahulu. Namun demikian, Mesias, atau Kristus dalam bahasa Yunani, sama sekali bukanlah seseorang yang memiliki kesetaraan dengan Tuhan. Ia hanyalah seorang tokoh yang sangat diidam-idamkan kedatangannya oleh bangsa Israel yang diharapkan mampu membawa mereka menuju kejayaan. Sebagaimana dapat dibaca dalam Perjanjian Lama, umat Israel telah memiliki beberapa orang Mesias, seperti: Mesias Daud (Mazmur 2:2), Mesias Koresh (Yesaya 45:1), Mesias Saul (1 Samuel 10:1), Mesias Harun (Imamat 8:12), Mesias Elisa (1 Raja-raja 19:16), dan Mesias Salomo (1 Raja-raja 1:39). Dengan demikian, konsep Mesias dalam pandangan umat Israel/Yahudi sama sekali tidak ada hubungannya dengan derajat ketuhanan.
Dari ketiga uraian ini, kemudian kita hubungkan dengan ayat-ayat Matius yang dikutip di atas, maka tampak jelas bahwa laporan Matius yang menyatakan bahwa beberapa orang Israel menyembah bayi Yesus, tidak lain hanyalah BUALAN dan OMONG KOSONG belaka. Bagaimana mungkin umat Israel menyembah bayi Yesus sementara mereka tidak memiliki keyakinan tentang kedatangan Tuhan Manusia? Lebih jauh, umat Israel tidak pernah mengakui Yesus, baik sebagai mesias maupun nabi. Bahkan, mereka menganggap Yesus sebagai anak haram jadah yang lahir dari hasil perzinahan Maria!
Keterangan:
1. A) Duncan GB (1971) B) Sundberg AC (1971) C) Kee HC (1971) D) Leon Dufour X (1983) E) Mack BL (1996) F) Fenton JC (1973) G) Jerald F. Dirks (2001).
2. A) Josephus F (1998) B) Asimov I (1969) C) Braid W (1971) D) Duncan GB (1971) E) Leon-Dufour X (1983) F)
Menyoal Doktrin Trinitas
28 02 2007
oleh: Tim FAKTA (Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan)
“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Mereka juga mempertuhankan Almasih putera Mayam. Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” [Qs. At Taubah 31].
Sorotan Al Qur’an terhadap Trinitas Dr. R. Soedarmo mengakui Trinitas memang tidak dapat dimengerti. Alban Douglas menyatakan barangsiapa mencoba untuk mengerti Tritunggal secara tuntas dengan daya akal manusiawi akan jadi tidak waras. Adolf Heuken Sj. menyimpulkan Trinitas adalah dasar dan puncak dari misteri iman mutlak. Dan masih banyak lagi tokoh gereja Kristen yang jujur mengakui doktrin Trinitas adalah keimanan yang semu dan tidak teruji kebenarannya.
Jauh sebelumnya, keganjilan doktrin Trinitas itu telah disinggung Al Qur’an, dengan menyatakan bahwa semua nabi dan rasul dari Adam sampai Muhammad saw. (termasuk Nabi Isa as.) mengajarkan Tauhid/ monotheisme, yaitu penghambaan kepada satu-satunya Tuhan yang benar dan berhak disembah. Tuhan tidak pernah berubah baik sifat maupun jumlahnya. Tak satu pun yang membawa ajaran Trinitas. Ayat-ayat tersebut, di antaranya:
Tauhid Nabi Nuh “Sesungguhnya Kami mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah tidak ada bagi kamu Tuhan selain Dia” (Qs. 23 Al Mukminuun 23).
Tauhid Nabi Hud, Shalih dan Syu’aib “Dan kepada kaum ‘Ad (Kami mengutus) saudara mereka, Hud. Dia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah tidak ada bagi kamu Tuhan selain Dia” (Qs. 11 Huud 50).
“Dan kepada kaum Tsamud (Kami mengutus) saudara mereka, Shalih. Dia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah tidak ada bagi kamu Tuhan selain Dia” (Qs. 11 Huud 61).
“Dan kepada kaum Madyan (Kami mengutus) saudara mereka, Syu’aib. Dia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah tidak ada bagi kamu Tuhan selain Dia”(Qs. 11 Huud 84).
Tauhid Nabi Isa as. “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Almasih putera Maryam,” Padahal Almasih sendiri telah berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya Allah mengharamkan surga atasnya, dan tempatnya di neraka, dan tidaklah ada penolong bagi orang-orang yang zalim. “Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata bahwa Allah itu salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Maha Esa……”(Al Maa-idah 5: 72-73).
Tauhid Nabi Muhammad saw. “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah”(Qs. 47 Muhammad 19). Ayat lainnya: As Syuuraa 42: 11, Al An’aam 6: 163, Al Mukminuun 23: 91, An Nahl 16: 51, An Nisaa 4: 35 dan lain-lain.
Penolakan Bibel terhadap doktrin Trinitas
Sorotan Al Qur’an terhadap kepalsuan doktrin Trinitas itu makin terbukti kebenarannya dengan masih banyaknya ayat-ayat dalam Bibel yang mengajarkan konsep Tauhid (monoteisme) yang diajarkan para nabi.
Tauhid Nabi Musa:
- “Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia” (Ulangan 4: 35).
- “Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain” (Ulangan 4: 39).
- “Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa Tuhanlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain” (Ulangan 6: 4).
- “Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku” (Ulangan 32: 39).
- Tauhid Nabi Daud: “Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau dan tidak ada Allah selain Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami” (II Samuel 7: 22).
- “Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaubuat” (Mazmur 86: 8).
- Tauhid Nabi Sulaiman: “Ya Tuhan, Allah Israel ! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah” (I Raja-raja 8: 23).
- Tauhid Nabi Yesaya: “Demikian firman TUHAN: “Dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah Tuhan dan tidak ada juruselamat selain daripada-Ku” (Yesaya 43: 10-11).
- “Beginilah firman Tuhan, Raja dan Penebus Israel, Tuhan semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain daripada-Ku” (Yesaya 44: 6).
- “Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah” (Yesaya 45: 5-6).
- “Sebab beginilah firman Tuhan, yang menciptakan langit, “Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain” (Yesaya 45: 18).
- “Bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku” (Yesaya 46: 9).
- Tauhid Nabi Isa as: “Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa” (Markus 12: 29).
- “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yohanes 17: 3).
Bukti keganjilan doktrin Trinitas
Doktrin Trinitas terdiri dari tiga pribadi yang setara, sehakekat, sekehendak, satu zat, tidak bercampur, tidak berpisah dan tidak berasal mula yaitu Allah Bapak, Allah Anak (Yesus) dan Allah Roh Kudus.
Tanpa banyak komentar, fakta-fakta berikut sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa Allah Bapa, Allah Anak (Yesus) dan Roh Kudus itu tidak sama (berbeda) satu sama lainnya.
Pertama. Menghujat Allah Bapa dan Allah Anak (Yesus) masih bisa diampuni, tapi menghujat Roh Kudus tak berampun. Ini membuktikan bahwa Allah Bapa dan Yesus tidak sama dengan Roh Kudus.
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal” (Markus 3: 28-29).
“Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni” (Lukas 12: 10).
Kedua. Ketika Yesus dibaptis di sungai Yordan, Roh Kudus turun seperti burung merpati dan Allah berfirman dari langit. Di sini ada tiga ujud pribadi yang berbeda, yaitu manusia Yesus, burung merpati Roh Kudus dan suara Allah. Jelaslah bahwa Allah, Yesus dan Roh Kudus bukan pribadi yang sama, sezat dan sehakekat.
“Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan dia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atasnya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan:
“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan” (Matius 3: 17; Markus 1: 11 dan Lukas 3:22).

Ratman said...

WAH MAS DRUMMER BANYAK BANGET KOMENNYA YA...TENGKIYU FERI MUCH....HEHE...

SETAHUKU EMANG GAK ADA TRINITAS TO...
TRINITAS HANYA KONSEP MADE IN BAPAK2 GEREJA KARENA BINGUNG SOAL HUBUNGAN YESUS DENGAN ALLAH.
KARENA BINGUNG, SAMPE LAHIR KONSEP HOMOAUSIOS (100% TUHAN 100% MANUSIA).
SUSAH YA???

mp3 nusantara said...

konsep trinitas sulit diterima oleh akal sehat om..;
Download Lagu Terbaru

Edo Spane said...

Roh Kudus adalah PENOLONG.
Gitu saja ko repot (hehehe pinjam istilah Gusdur).
Semoga tdk pada bingung.