Thursday, November 27, 2008

SERIGALA BERBULU DOMBA

MENYINGKAP TABIR DUSTA PENDETA BUDI ASALI M. Div & ESRA ALFRED SORU S.Th. BESERTA CSnya.

Pengantar:
Salam. Sudah setahun ini pasca Debat Unitarian vs Trinitarian di Surabaya, beberapa email dan SMS serta telpon sempat pernah saya (Frans Donald) terima dari beberapa orang yang menanyakan sekaligus meminta klarifikasi dari saya berkenaan adanya kabar dari pihak Budi Asali & Esra Alfred Soru yang intinya mengatakan bahwa:
“TIM UNITARIAN (FRANS DONALD, BENNY IRAWAN, OKTINO IRAWAN, TIRTO SUJOKO) TELAH KALAH TELAK OLEH TIM TRINITARIAN (Pdt. BUDI ASALI M. Div & ESRA ALFRED SORU S Th.) DALAM PERDEBATAN YANG BERLANGSUNG TAHUN 2007 DI SURABAYA”
Nah, teman-teman yang budiman, setelah setahun berlalunya perdebatan di Surabaya yang ternyata seiring jalannya waktu, makin banyak membuahkan ‘pertobatan’ para penganut Trinitas hingga kini banyak yang telah menjadi Unitarian (tegas menolak Trinitas / ke-allah-an Yesus), maka tulisan ini adalah pernyataan singkat serta beberapa klarifikasi dari saya (Frans Donald) seputar kabar dusta dari pihak Budi Asali dan Esra Alfred Soru cs yang intinya menyiarkan kabar bahwa ‘Unitarian kalah telak’ tersebut. Waktu satu tahun (12 bulan, 365 hari) adalah waktu yang kami pandang sebagai kesempatan yang lebih dari cukup telah kami (unitarian) berikan bagi Budi Asali, Esra Soru dan csnya untuk sadar atas dusta-dusta+fitnah yang selama ini disebarkannya. Satu tahun sudah kami berikan kesempatan pada mereka, bisa saja mungkin mereka dulu khilaf dan seiring waktu akan sadar diri, tapi ternyata tidak samasekali. Satu tahun adalah waktu yang sudah terlalu cukup (bahkan lebih dari cukup untuk sadar diri!) maka kini setelah setahun berlalu, ijinkanlah saya menuliskan artikel SERIGALA BERBULU DOMBA ini.

Sekilas Kronologi Debat di Surabaya
Acara debat yang berlangsung 9 bulan (Maret-Nopember 2007) awalnya bermula dari Esra Alfred Soru (Penginjil dari Gereja Reformed di NTT) yang pada Nopember 2006 selama 5 hari berturut-turut menyerang buku saya yang berjudul ALLAH DALAM ALKITAB DAN ALQURAN dengan mempublikasikan serangannya itu melalui Koran TIMOR EXPRESS (Jawa Pos Grup) di NTT. Kemudian Esra dan juga Pimpinan Redaksi TIMOR EXPRESS memohon saya untuk menanggapi tulisan Esra Soru tersebut. Semula saya (Frans Donald) samasekali tidak berminat menggubris tulisan-tulisan Esra yang saya nilai penuh kecurangan itu. Tetapi oleh karena satu alasan lain, yaitu ketika kabar keberadaan tulisan Esra saya ceritakan pada rekan-rekan Unitarian di Semarang, akhirnya saya tahu bahwa Esra Alfred Soru ternyata adalah teman baik dari kawan saya yang bernama Pendeta Teddy (Pdt. Unitarian yang adalah mantan penganut Trinitas), maka saya pikir adalah sangat baik kalau saya dan TIM UNITARIAN bisa berjumpa / berkenalan langsung / temu darat dengan Esra agar bisa ‘duduk bareng’ alias ‘debat sehat-cerdas bersahabat’ membahas perihal perbedaan paham (soal Trinitas, ke-Allah-an Yesus) yang dipermasalahkan. Dimana saya pikir meskipun sangat beda paham tapi tentu tetap bisa menjadi teman, begitu harapan dan pikiran saya kala itu. Saya berpikir demikian sebab kami memang memiliki beberapa kawan dan keluarga yang beda paham dengan kami tanpa harus bermusuhan. Walau beda doktrin secara intelektual tapi menjadi sahabat secara sosial, itu adalah baik, pikir saya. Ajakan untuk perjumpaan tatap muka / temu darat guna ‘debat terbuka’ pun saya tekankan dalam tanggapan saya menanggapi tulisan Esra Nopember 2006 itu dengan mengirimkan tanggapan balik yang intinya berisi ajakan ‘debat temu darat’ dan dimuat oleh Koran Timex pada awal 2007 (di muat 2 hari) yang kemudian ditanggapi lagi oleh Esra dengan tulisan sepanjang 5 seri / hari lagi dengan nada-nada “pongah” yang tetap sama seperti tulisannya terdahulu. Singkat cerita akhirnya TIM TRINITARIAN (yaitu Tim Esra yang dipimpin Budi Asali) sepakat bertemu dalam ‘debat terbuka’ dengan TIM UNITARIAN (Tim saya) pada bulan Maret 2007. Tapi ternyata keadaan / suasana perjumpaan dengan Esra tak seperti harapan kami yaitu harapannya bisa terciptanya ‘Debat Sehat-Cerdas’ dan bersahabat, mengingat hal tersebut harusnya bisa terjadi sebab Esra Soru adalah juga rekan (kawan lama) dari Pdt. Teddy (Pdt. Unitarian, mantan Trinitarian), debat sehat-cerdas sangat layak dilakukan terlebih nota bene Budi Asali dan Esra Soru adalah bukan ‘preman bayaran’ melainkan keduanya adalah orang-orang tokoh gereja (M Div. dan S Th.). Tetapi ternyata kami sangat terkejut atas fakta yang terjadi kemudian!

Frans Donald Cuma Tertawa dan Termangu.
Di awal perdebatan kami dengan Budi Asali dan Esra Alfred Soru, saya sungguh dikejutkan oleh gaya / style / cara Budi Asali & Esra dalam mengemukakan perbedaan pahamnya terhadap kami. Waktu itu kata-kata dan kalimat-kalimat pedas yang bernada sangat tidak bersahabat (samasekali tidak mencerminkan sikap-sikap kristiani) keluar dari mulut Budi Asali yang padahal adalah bergelar Pendeta dan M. Div. Sangat kami sayangkan, di depan teman-teman Islam yang saat itu banyak hadir, Budi Asali yang nota bene menjabat sebagai tokoh pendeta Kristen, benar-benar tampil memalukan ‘dunia Kristen’ yang katanya terkenal dengan ‘kasih’ itu. Beberapa kawan muslim bahkan sangat terkejut melihat gaya penampilan Budi Asali yang sangat kasar seperti preman dan sangat menyakiti iman orang lain (waktu itu Budi Asali sempat melontarkan kata-kata bahwa “siapa saja yang tidak percaya Trinitas pasti masuk neraka!” Hal itu tentu sangat menghina iman kawan-kawan muslim yang jelas-jelas tidak bisa menerima doktrin Trinitas). Melihat gaya mereka yang sangat kasar, kala itu semangat ‘adu argumen intelektual’ saya mendadak hilang seketika, tapi ke 3 kawan saya (anggota Tim Unitarian yang lain, yang lebih berpengalaman dari saya dalam hal dimaki-maki oleh tokoh-tokoh Gereja) masih berbaik hati mau melayani mereka, sementara saya lebih memilih untuk diam, tersenyum, tertawa saja, sambil geleng-geleng dalam hati, karena saya pikir waktu itu adalah ternyata kami benar-benar bukan sedang menghadapi kawan-kawan Kristen (apalagi salah satunya adalah jelas-jelas kawan lama dari Pdt. Teddy) yang berbeda paham yang bisa diajak debat yang sehat dan cerdas, melainkan KAMI SEDANG MENGHADAPI ‘MANUSIA SERIGALA BERWUJUD MANUSIA BERBULU DOMBA BERWATAK ULAR BELUDAK’!* (*Istilah ‘serigala berbulu domba’ dan ‘ular beludak’ ini saya pinjam dari istilah Alkitab berbicara tentang guru-guru palsu. Dalam hal ini sikap karakter Budi Asali M. Div dan Esra Alfred Soru, S.Th. sangat sesuai menyandang predikat tersebut). Saya (Frans Donald, jemaat biasa, bukan teolog) bukan ahli bicara yang cukup lihai untuk menghadapi serigala-serigala bertubuh manusia berwatak ular beludak seperti mereka berdua (PENDETA Budi Asali M. Div dan PENGINJIL Esra Alfred Soru, SARJANA TEOLOGI) yang ganas sangat licik berkelit memelintir ayat dan ahli menipu banyak orang dengan ajaran Trinitasnya. Saya waktu itu benar-benar kalah, yaitu kalah oleh ke-galak-an dan keganasan dua serigala berwatak ular itu, kalah oleh gaya kekasaran serigala itu, kalah oleh kelicikan ular itu, saya tidak mau melayani gaya ‘serigala berbulu domba berkepala ular beludak’ yang mereka tampilkan. Rekan (Tim saya) yang sudah berpengalaman sebelumnya menghadapi serigala-serigala dan ular-ular Gereja, waktu itu mereka bertiga (Aryanto Nugroho, Benny Irawan, Oktino Irawan) mencoba tetap sabar menghadapi dua serigala Gereja yang sangat galak dan licik ini. Saya (yang memang belum terlalu berpengalaman menghadapi serigala-serigala gereja berkepala ular seperti Budi Asali dan muridnya, Esra Alfred Soru) cuma tertawa, tersenyum-senyum, geleng-geleng dalam hati kala itu sambil terus menulis apa-apa yang saya perlu catat dan ingat. Dan oleh karena suasana dalam perdebatan saat itu dipandang sangat tidak baik (sangat tidak sehat) oleh pemimpin (Moderator, yaitu Bapak Drs. H. Sahid, seorang muslim moderat, dosen IAIN), maka debat yang samasekali belum tuntas tersebut segera dihentikan.

Debat Berlanjut 8 kali lagi
Setelah perdebatan yang belum tuntas tersebut, meskipun saya merasa bahwa Esra (yang adalah kawan dari sahabat saya pendeta Teddy, yang semula saya sangka Esra bisa jadi kawan saya juga meskipun harus beda paham) ternyata samasekali bukanlah seorang yang bersemangat kristiani, namun, Benny Irawan, sahabat saya (Tim Unitarian), ternyata masih berbaik hati dan bersedia melanjutkan ke pertemuan perdebatan berikutnya. Benny Irawan membuat janji kesepakatan dengan ‘sang serigala berbulu domba’ (Budi Asali) untuk lanjut melakukan debat pada bulan-bulan berikutnya. Hingga akhirnya debat (yang dilaksanakan 1 kali dengan moderator dan 7 kali tanpa moderator) itu terjadi. Budi Asali selalu tampil dengan gayanya yang angkuh, pongah, galak khas serigala berbulu domba. Pernah dalam upaya meredakan keganasan Budi Asali, seusai satu sesi debat, saya sempat tegaskan demikian: “Pak Budi, umur anda sepantaran dengan ayah saya, jadi kalau bisa anggaplah saya dan Tim sebagai anak anda, yang artinya walaupun menurut anda kami ini sesat, tetapi hendaklah kita berdialog adu argumen dengan cara yang lebih kekeluargaan dan sehat dan saling menghormati secara intelektual”. Tapi ternyata upaya saya menyentuh hati Budi Asali dengan harapan agar suasana debat bisa lebih sehat tersebut sia-sia tak digubris samasekali, bahkan Budi Asali makin tampil kasar dan sangat jauh dari karakter sebagai seorang Pendeta Kristiani. Style (gaya, cara-cara) Budi Asali hanyalah menampilkan wajah Pendeta Kristen yang Palsu (benar-benar serigala berbulu domba!), hingga saudara Oktino Irawan benar-benar keheranan dengan berkata “Saya betul-betul heran, Frans, kok bisa orang seperti Budi Asali ini jadi Pendeta, aneh!”. Soal kekasaran Budi Asali ini belakangan juga saya dengar dari berbagai sumber bahwa ternyata di kalangan para penganut Trinitas sendiri banyak orang yang sangat tidak senang dengan Budi Asali.
Selanjutnya, dalam perdebatan-perdebatan itu, tampak sekali, tak bisa disembunyikan, Budi Asali kelihatan betul-betul takut kalah, dengan kelicikannya untuk menghindari ‘kedok terbongkar’, Pendeta Kristen Palsu ini mulai bertingkah makin licik dengan memberi aturan-aturan yang melarang kami (TIM UNITARIAN) agar tidak membagi-bagi makalah-makalah kami kepada para hadirin. Unitarian dilarang bagi-bagi makalah, ini jelas bukti ketakutan yang nyata! (Tampak sekali dia takut kalau-kalau anak-anak buahnya terpengaruh oleh pekabaran kami). Dan makin lama Budi Asali mulai makin banyak mengatur dan melarang-larang kami, padahal status kedua belah pembicara adalah sama haknya, Budi Asali bukan pimpinan kami, jadi tak seharusnya dia main ngatur-ngatur dan melarang-larang kami seenaknya sendiri. Maka akhirnya, setelah perdebatan yang ke 9 kali, karena kami tidak setuju dengan gaya ‘semau gue’ / sok ngatur ‘jangan begini-jangan begitu, tidak boleh begini-tidak boleh begitu’ yang makin gencar dilakukan oleh Budi Asali, maka kami pun memutuskan menghentikan debat tersebut, kendati belum tuntas. Sayangnya, pasca perdebatan 9 kali tersebut, secara licik Budi Asali dan Esra kemudian memelintir fakta dengan mempropagandakan bahwa TIM UNITARIAN TELAH KALAH DAN MENYERAH. Bahkan demi upaya menyebar kabar bohong Esra Soru melalui Koran TIMOR EXPRESS mengatakan bahwa “Perdebatan tersebut berlanjut hingga berakhir dengan menyerahnya FD, dkk pada pertemuan ke IX”. Suatu pemberitaan yang tidak fair. Begitu pula dengan Tabloid GLORIA yang beberapa kali sempat memberitakan kabar miring tentang ‘KEKALAHAN TIM UNITARIAN’ berdebat dengan Budi Asali, Tabloid GLORIA telah memelintir fakta, memberikan informasi licik pada publik, guna memberikan kesan yang berbeda (‘menipu’) opini publik.

Jika Unitarian Menghentikan Debat, apakah artinya = Unitarian menyerah?
“Unitarian menyerah di debat yang ke-9”.
Pernyataan ini hanyalah tipuan kekanak-kanakkan dari Esra Soru dan gurunya, Budi Asali, untuk menciptakan opini publik yang dianggap akan menguntungkan mereka berdua. Memang orang-orang yang tidak tahu dengan benar kronologi dan alasannya mengapa kami (Unitarian) terpaksa memilih menghentikan Debat di Surabaya tahun 2007 itu, bisa saja menyangka bahwa kabar “Unitarian menyerah di debat yang ke-9” seperti yang dikoar-koarkan Budi Asali dan Esra tersebut merupakan fakta adanya. Nah, tipuan Budi Asali dan Esra Soru ini perlu diklarifikasi.
Mengapa dan apa sih alasan utama kami (Unitarian) terpaksa memilih untuk menghentikan debat? Karena kalah atau karena apa, tentu yang berhak mengklarifikasi jawabannya adalah dari pihak Unitarian (sebagai Tim yang menghentikan debat) dan bukannya pihak lain (apalagi kabar miring dari Tim Trinitarian) yang mungkin hanya bisa menerka-nerka alasannya saja, tanpa kebenaran fakta yang bisa dipertanggung jawabkan di hadapan manusia dan Allah. Nah, perhatikanlah saudara-saudari sekalian, jawabannya mengapa Unitarian memilih berhenti adalah (tiga alasan utama):
Pertama, karena Budi Asali telah nyata-nyata berlaku sebagai ‘pengecut’ intelektual yang sangat licik dan curang, yaitu dengan berkali-kali mengatur-ngatur (memerintah dan melarang) kami (Unitarian) untuk tidak membagi-bagikan makalah yang kami buat dalam setiap acara debat. Lucu, adu argumen dalam debat terbuka kok tidak boleh bagi-bagi makalah kepada hadirin, fakta ini hanya makin membuktikan ketakutan (tepatnya kepengecutan) Budi Asali akan tulisan-tulisan kami (Unitarian) yang nyata-nyata sanggup mengguncang iman para penganut Trinitas (dan memang terbukti banyak penganut Trinitas yang kini sudah jadi penolak Trinitas), terlebih lagi secara terang-terangan di depan kami Budi Asali menegaskan kalimat-kalimat yang intinya demikian “kalian (Unitarian) jangan bagi-bagi makalah atau tulisan agar jangan sampai di luar sana nama Gereja saya (gerejanya Budi Asali) tercoreng dan disangka menyesatkan orang oleh akibat tulisan-tulisan yang kalian bagikan!”. Oi..oi.. pernyataan Budi Asali tersebut hanyalah menunjukkan pernyataan dari seorang PENDETA PENGANUT TRINITAS PALING PENGECUT yang pernah kami hadapi. Apapun dalih atau alasannya untuk menghindari ‘pembagian makalah Unitarian’, Budi Asali kelihatan sekali sangat tidak gentle secara intelektual dan sangat ketakutan terhadap ‘tulisan-tulisan / makalah’ pihak Unitarian. Dalam zaman keterbukaan terhadap informasi seperti sekarang ini, e..e..e, Budi Asali sebagai ‘guru dan pendeta’ kok malahan bertindak sebagai ‘penjahat intelektual’ dengan tegas-tegas mencegah (mencekal) pembagian informasi (makalah dan tulisan) dari pihak Unitarian. Kalau memang Unitarian benar kalah selama perdebatan-perdebatan dengan Budi Asali lantas mengapa makalah / tulisan kami (Unitarian) harus anda ‘cekal’ wahai Budi Asali? Sebagai orang terpelajar (apalagi sampai bergelar M. Div.) semestinya Budi Asali sangat tidak patut melarang-larang beredarnya tulisan / karya-karya yang berisi pandangan-pandangan Unitarian terhadap kesalahan Trinitas! Apapun isi tulisan Unitarian tidak perlu disembunyikan apalagi sampai dilarang! Bahkan saya sempat mendapat laporan dari distributor Gramedia saya di Surabaya yang menginformasikan kalau pihak toko buku Gramedia telah mendapat teror intimidasi dari beberapa orang yang mengaku Kristen di Surabaya agar tidak lagi memajang buku-buku Frans Donald dengan alasan buku itu sesat. Entah apakah oknum-oknum yang mengintimidasi Gramedia tersebut adalah dari pihak (kroni) Budi Asali dan Esra ataukah dari pihak lainnya yang juga tampaknya sangat kebakaran jenggot atas kehadiran buku-buku karya Frans Donald yang telah menelanjangi kerapuhan (bahkan sanggup meruntuhkan) doktrin Trinitas yang mereka ajarkan selama ini, siapapun oknum (tukang teror yang mengintimidasi toko buku Gramedia) itu hanyalah seorang ‘PENGECUT INTELEKTUAL’ yang sama pengecut dan liciknya dengan Budi Asali yang telah juga melarang Unitarian membagi-bagi tulisan / makalah. Kalau memang buku-buku saya dianggap kontroversi atau sesat, maka buatlah karya buku tandingannya, bung! Masyarakat kita banyak yang cerdas dan terpelajar, yang tentunya ketika membaca suatu tulisan maka orang-orang yang jujur akan bisa menimbang dengan nurani dan intelektualnya mana karya tulisan (buku / makalah) yang benar dan mana yang sesat. Dan juga kalau makalah-makalah Unitarian oleh Budi Asali dianggap sebagai sesat, ya silakan secara intelektual dan gentleman Budi Asali buat tulisan tandingannya juga dong, pak M Div.! Jangan main ‘intimidasi intelektual’ seperti yang telah anda lakukan terhadap kami (Unitarian) yang justru hanya makin membuktikan bobot kerdil intelektual dan kepengecutan, kelicikan dan kecurangan anda Budi Asali!
Kedua, dalam acara debat di Surabaya tahun 2007 itu, sebagai nara sumber, posisi Budi Asali dan posisi kami (Unitarian) adalah sama. Artinya, Budi Asali samasekali bukan pimpinan kami, sehingga sangat tidak proporsional samasekali (sangat memalukan!)dan hanya makin menampakkan kepengecutan serta kecurangannya yang nyata-nyata, ketika Budi Asali bertindak melarang-larang Tim Unitarian untuk tidak membagi-bagi makalah atau membagi tulisan apapun kepada hadirin. Kalau saudara Benny dan Oktino berwewenang tegas melarang saya (Frans Donald) agar tidak melayani aturan atau kemauan Esra Soru, maka itu wajar sebab Benny Irawan dan Oktino Irawan memang adalah anggota Tim serta senior (sekaligus guru-guru penolak Trinitas) bagi saya (Frans Donald). Tapi jika seorang Budi Asali (dan juga Esra yang kerap mempermasalahkan kelemahan Frans Donald karena tidak mahir bicara) kemudian malah ketakutan dengan tulisan dan makalah-makalah saya, maka ini hanyalah wujud nyata kepengecutan dan kecurangan Budi Asali terhadap suatu debat yang dewasa sehat dan cerdas.
Ketiga, bagaimanapun cara-cara Budi Asali yang selalu tampil emosional, berkata-kata kasar, hingga selalu menciptakan situasi debat yang panas, tidak sehat, argument-argumen yang sangat tidak intelektual, gaya-gaya kampungan, premanisme, dllnya, maka dengan sangat terpaksa kami (Unitarian) memutuskan untuk menghentikan dengan pertimbangan agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
Dari ketiga alasan utama itulah yang akhirnya TERPAKSA membuat kami mengambil keputusan untuk menghentikan Debat yang sangat tidak sehat dan penuh kecurangan tersebut. Keputusan berhenti itu benar-benar terpaksa (sesungguhnya kalau bisa kami tidak ingin berhenti samasekali sebelum Budi Asali cs bertobat semuanya), sebab pada hakikatnya kami (TIM UNITARIAN: Benny Irawan, Oktino Irawan, Tirto Sujoko dan Frans Donald) adalah orang-orang yang sangat gemar (suka, cinta) berdialog atau debat sehat perihal kekeliruan Trinitas.
Nah, setelah setahun melihat perkembangan pasca debat di Surabaya, kini perlu kami (Unitarian) tegaskan bahwa, kami (Tim Unitarian) siap dan sangat berharap untuk bisa kembali melanjutkan debat dengan Budi Asali cs namun dengan aturan main yang fair dan sehat, misal beberapa poin yang penting di antaranya: Acara Debat mutlak harus pakai Moderator pemimpin acara yang netral / benar-benar moderat (agar Budi Asali tidak sok memimpin dan sembarangan main ngatur-ngatur), dan Debat harus terbuka secara hadirin maupun terbuka secara intelektual (TIDAK BOLEH MELARANG NARA SUMBER MEMBAGI-BAGI MAKALAH!).

Esra getol berupaya menyerang pribadi Frans Donald
Dalam tulisan-tulisan dan opininya Esra kerap kali menyerang Frans Donald secara pribadi (padahal debat di Surabaya 2007 lalu adalah atas nama PANDANGAN TIM TRINITARIAN vs PANDANGAN TIM UNITARIAN, bukan pribadi Esra Soru vs pribadi Frans Donald). Serangan terhadap pribadi Frans Donald oleh Esra Soru di antaranya:
Satu hal yang menarik dalam perdebatan perdana (8 Maret 2007) adalah bahwa FD tampil sebagai orang bisu. Ia tak berbicara satu kata pun. Hanya senyum-senyum dan terus menulis. Hingga akhirnya ada interupsi yang datang dari seorang hadirin. “Kita hadir dalam perdebatan ini gara-gara Frans Donald tapi dari tadi kami lihat Frans Donald belum mengeluarkan satu kata pun. Tolong Pak Frans berbicara dulu!” Barulah setelah itu FD memberikan pendapatnya beberapa kalimat dan sampai akhir perdebatan sama sekali tetap membisu hingga membuat saya heran. Mengapa waktu di Timex ia beralasan tidak mau menanggapi semua serangan saya dan ingin bertemu dalam debat terbuka tapi pada saat debat terbuka dilaksanakan ia hanya diam bagaikan patung? Ia hanya bersembunyi di balik ketiak kawan-kawannya.
Untuk itu perlu sedikit dijawab dan ditegaskan bahwa:
Pertama, ditinjau dari sisi mengapa sampai Frans Donald memilih bersikap diam; Wahai Esra Alfred Soru, ketahuilah bahwa oleh karena kau adalah bekas kawan baik dari Pdt. Teddy dan Ibu Teddy, maka saya (Frans Donald) -setelah membaca tulisan pertama Esra (tulisan di TIMEX yang sangat pongah dan curang, hingga layak dan cukup beralasan untuk tidak digubris)- kemudian memilih beritikad baik dan merasa perlu dan penting untuk jumpa temu darat denganmu untuk ‘debat sehat’ sebagai kawan yang berbeda paham dan bukan sebagai musuh yang musti dihancurkan seperti sesumbarmu dan gurumu yang ternyata adalah ‘serigala’ itu. Tapi sayang sekali, itikad baik kami ternyata malahan kau jadikan senjata untuk menyerang Frans Donald secara pribadi. Sadarlah kau, kalau saya (Frans Donald) kala itu sampai tiba-tiba diam membisu, yang katamu bagaikan patung dan kau merasa heran, itu justru membuktikan (dan semestinya kau sadar diri, bung!) bahwa sesungguhnya Frans Donald-lah yang saat itu sedang kaget heran atas aksi pongah dan sangat kasar dari orang-orang yang mengaku PENDETA Kristen dan SARJANA TEOLOGI yang tampil bagaikan serigala itu, yaitu kau wahai Esra Soru dan gurumu yang samasekali tidak kristiani dan tidak layak menyandang gelar ‘pendeta’ itu. Lagakmu dan gurumu yang memuakkan itulah yang membuat saya (Frans Donald, jemaat biasa) yang semula menganggap kau sebagai kawan bukan musuh (dengan pertimbangan bahwa karena kau juga kawannya Pdt. Teddy, sahabat saya, maka seyogyanya kau juga bisa jadi kawan) apalagi kau jelas-jelas bergelar S. Th. (SARJANA TEOLOGI) yang tentunya gelar ‘sarjana’ yang kau sandang tersebut layak dihormati oleh siapa saja, akhirnya saya malah memilih bersikap diam karena hilang mood setelah melihat gaya-gaya kalian yang tampak sekali ingin benar-benar menganggap kami sebagai musuh yang harus dihancurkan, dipermalukan, dihabisi, dan sebagainya. Dan sadarkah kau Esra Soru SARJANA TEOLOGI, bahwa urusanmu kala itu adalah dengan pandangan UNITARIAN bukan dengan pribadi seorang Frans Donald (walaupun yang mengundang kau awalnya adalah Frans Donald, tetapi sebagai seorang yang SARJANA yang seharusnya tidak bodoh, tentu kau pahamlah bahwa yang kau hadapi adalah PANDANGAN UNITARIAN, dan bukan pribadi Frans Donald, kecuali kalau kau orang bodoh dan bukan SARJANA, bisa dimaklumi kebodohanmu itu). Kalau saja Esra Soru dan Budi Asali bisa tampil wajar (tidak sampai ‘nggonggong-nggonggong’ sangat kasar hingga menjadikan suasana debat sangat tidak sehat) maka tentu kita akan terus bisa berdebat yang sehat, walaupun jelas-jelas sangat beda paham tapi mari kita saling jujur tukar data dan argumen secara intelektual, dan bukan sentimen-sentimen penuh kegeraman dan kecurangan pemelintiran ayat seperti yang Esra dan Budi Asali tampilkan kala itu hanya demi ‘menang-menangan menguasai panggung’, yang akhirnya hanya menghasilkan suasana debat menjadi keruh dan sangat memuakkan. Andai saja Esra dan Budi Asali bukanlah guru atau pengajar atau pendeta dan tokoh gereja yang mengaku Kristen (apalagi bergelar M. Div dan SARJANA TEOLOGI), maka kalaupun terpaksa anda berdua tampil seperti ‘serigala berkepala ular beludak’ mungkin masih bisa dimaklumi, tapi sadarkah kalian wahai Budi Asali dan muridnya, Esra Alfred Soru, bahwa gaya aksi kalian sangat memuakkan dunia gerejawi dan kristiani dan sangat memalukan gelar-gelar yang kalian sandang itu? Sadarlah, bung!
Kedua, ditinjau dari sisi debat TIM VS TIM; Pernyataan Esra yang menyerang pribadi Frans Donald adalah sangat tidak proporsional dan hanya menunjukkan jiwa kanak-kanak Esra Soru, sebab DEBAT TRINITARIAN VS UNITARIAN DI SURABAYA ITU ADALAH DEBAT ANTARA PANDANGAN TIM TRINITARIAN VS PANDANGAN TIM UNITARIAN, dan samasekali BUKAN DEBAT PINTAR-PINTARAN BICARA ANTARA PRIBADI ESRA SORU VS PRIBADI FRANS DONALD! Semua orang yang jujur tentu tahu bahwa dalam suatu perdebatan antar TIM pasti ada juru bicara (bagian bicara), juru tulis (bagian mencatat), bagian memberi pertimbangan atau pikiran tambahan, dsbnya. Dan terus terang memang sudah berkali-kali saya katakan di setiap kesempatan bahwa saya (Frans Donald) memang bukanlah seorang ‘pembicara seminar’ yang fasih jika dibandingkan dengan anggota TIM UNITARIAN yang lain (yaitu Benny Irawan, Oktino Irawan, Aryanto Nugroho, Tirto Sujoko, yang ke-4nya adalah senior sekaligus guru-guru bagi saya). Tetapi ketidak fasihan saya (Frans Donald) dalam berbicara dalam seminar tentulah samasekali tidak perlu dipermasalahkan ketika saya tampil bersama TIM saya (yang terdiri dari beberapa rekan saya yang memang lebih fasih, lebih kontruktif, lebih sistematis dalam berbicara daripada saya). Artinya, tentu saja UNITARIAN sebagai satu TIM, maka baik anggota TIM TRINITARIAN (Budi Asali, Esra, dkknya.) maupun hadirin adalah jelas sangat tidak proporsional dan sangat kekanak-kanakkan jika kemudian berupaya menyerang / mempermasalahkan tentang ‘siapa pribadi yang bicara’. Dan ajakan debat secara TIM sudah jauh-jauh hari saya (Frans Donald) sampaikan, sehingga seharusnya Esra Soru paham dan sadar betul bahwa debat di Surabaya adalah musti dipandang secara proporsional sebagai debat TIM TRINITARIAN vs TIM UNITARIAN, dan samasekali bukan debat ‘adu pintar omong’ antara seorang pribadi Esra Alfred Soru VS pribadi Frans Donald. Kalau seandainya saya (Frans Donald) memang mau mengajak adu argumen dengan Esra Soru untuk ‘adu pintar omong’ secara pribadi-pribadi, maka tidak mungkin sejak awal saya mengharapkan adanya DEBAT TIM sebagaimana yang saya sampaikan di awal undangan debat dengan Esra. Oleh karena itu ketika di perdebatan ke-6 Budi Asali menyampaikan bahwa Esra Soru kembali berupaya menantang Frans Donald untuk secara pribadi (sendiri, tanpa TIM) debat melawan Esra Soru, sebagaimana Esra berkata: saya meminta kepada Pdt. Budi Asali agar menyampaikan dalam forum debat bahwa saya secara pribadi menantang FD dalam debat berikutnya. Maksud saya adalah bahwa dalam debat berikutnya, 1 jam pertama hanya khusus buat saya dan FD. Yang lain tidak boleh ikut ngomong. Biarkan kami berdua saja! Tapi permintaan tersebut ditolak oleh pihak Unitarian dengan alasan bahwa FD tidak pandai bicara tetapi menulis. Aneh memang, waktu debat tertulis ia tidak menanggapi dengan alasan maunya debat langsung. Waktu debat secara langsung, alasannya hanya bisa menulis. Nampak sekali bahwa FD tidak lebih daripada seorang pengecut!!! Hal ini tambah meyakinkan saya karena beberapa hari yang lalu saya menelpon FD dan menantangnya untuk berdebat satu lawan satu di Kupang. Semula ia bersedia tapi meminta saya menanggung seluruh biaya transportasi, akomodasi, konsumsi, dll dari anggota timnya sebanyak 5 orang. Saya menolaknya dan bersedia menanggung keseluruhan biaya untuk 1 orang saja yakni FD tapi FD lalu menolak dengan alasan bahwa bagaimanapun teman-temannya harus ikut. Saya menawarkan lagi, saya menanggung biaya untuk anda, jika teman-teman anda ingin ikut, silahkan tanggung biaya sendiri. Lagi-lagi FD menolak dengan alasan bahwa ia biasa berdebat bersama rekan-rekannya. Saya pun menghentikan pembicaraan tersebut dan yakin bahwa FD sama sekali tidak punya nyali dalam perdebatan langsung satu lawan satu.
Untuk itu tanggapan saya: Wahai Esra, saya (Frans Donald) dan TIM tentu tidak bisa anda atur-atur semau otak ular anda. Anda dan Budi Asali sudah seenaknya saja menghina dan menyebarkan kabar bohong tentang kekalahan TIM UNITARIAN kepada orang-orang di NTT, maka TIM UNITARIAN (seluruh anggotanya) berhak bicara dan temu muka dengan masyarakat NTT dan wawancara dengan wartawan Koran TIMEX (guna meluruskan segala kabar bohong yang berkembang akibat ulah Esra di NTT) jika anda memang serius mau menggelar debat di NTT . Dan perlu Esra Soru ketahui, bahwa saya (Frans Donald) akan sangat bersemangat dan SANGAT PUNYA NYALI (WALAUPUN BUKAN LULUSAN SEKOLAH TEOLOGI dan tidak fasih / mahir bicara) SIAP melayani orang (SARJANA atau PROFESOR teologi sekalipun) untuk berdialog atau ‘debat sehat’ soal kekeliruan Trinitas, tapi, jika kemudian saya tahu bahwa orang tersebut adalah bukan bersemangat debat untuk adu argumen / saling tukar data guna mencari kebenaran, melainkan hanya untuk ambisi menang-menangan dengan menghalalkan segala cara (seperti cara-cara curang dan gaya-gaya ‘serigala’ yang sudah Esra dan Budi Asali lakukan dan tampilkan selama ini), maka jangan harap saya mau ikut aturan main anda, bung! Apalagi Esra Soru kentara sekali ingin menyerang Frans Donald secara pribadi, ini jelas-jelas mental kerdil yang tidak perlu dilayani sebab hanya akan menghasilkan sentimen-sentimen pribadi belaka! Dan rekan TIM saya, Oktino Irawan, kala itu juga langsung berkata kepada saya: “Jangan mau Frans, sebab Esra jelas mau menyerang Frans secara pribadi karena kelihatan sekali ada sentimen pribadi dan bukan secara TIM, padahal inti debat adalah PANDANGAN TIM TRINITARIAN VS PANDANGAN TIM UNITARIAN dan bukan debat pribadi lawan pribadi, ajakan Esra sangat tidak sehat jadi tidak perlu dilayani, Frans”.
Kalau Esra (yang adalah seorang SARJANA TEOLOGI) kemudian menyebut Frans Donald (yang adalah jemaat biasa dan BUKAN SARJANA) sebagai ‘pengecut’ hanya karena Frans Donald tidak mau melayani ‘permainan dan aturan panggungnya’, maka tuduhan Esra itu hanya makin menampilkan jiwa kekanak-kanakkannya dan tuduhan yang sangat tidak proporsional dari seorang SARJANA TEOLOGI yang ditujukan kepada seorang BUKAN SARJANA (yaitu Frans Donald). Wahai Esra, ketahuilah dengan seksama, bahwa saya (Frans Donald) samasekali TIDAK ADA RASA TAKUT KALAH seperti perkiraan dan tuduhan anda yang picik, sebab perdebatan soal Trinitas bagi Frans Donald adalah bukan untuk menang-menangan, tapi untuk mencari kebenaran Alkitab dan kejujuran! Dan juga ketahuilah wahai Esra Alfred Soru, bahwa, jika andai oleh orang-orang (termasuk oleh anda Esra Soru) Frans Donald akhirnya dianggap kalah debat dengan Esra Alfred Soru yang bergelar SARJANA TEOLOGI, maka “kekalahan” itu (andaikan memang terjadi) jelas sangat-sangat wajar dan samasekali tidak memalukan (malahan bisa jadi membanggakan) bagi seorang Frans Donald yang adalah orang biasa dan samasekali BUKAN SARJANA TEOLOGI yang berbeda halnya dengan Esra Alfred Soru yang “S. Th.” ataupun Pdt. Budi Asali yang “M. Div.” Tetapi kalau sampai Esra Alfred Soru SARJANA TEOLOGI dan PENDETA Budi Asali M Div. yang telah terbukti sudah jelas-jelas “kebakaran jenggot” atas buku-buku tulisan seorang Frans Donald (yang adalah orang biasa dan BUKAN LULUSAN SEKOLAH TEOLOGI), maka fakta ini telah amat sangat menampar, memerahkan muka dan memalukan, menelanjangi Doktrin / Ajaran yang anda berdua sebarkan selama ini. Sadarkah anda berdua wahai “pakar-pakar” pengajar Trinitas?

Saya sempat berpikir. Entah mengapa Esra Soru (seorang SARJANA TEOLOGI) begitu kelihatan geram dengan Frans Donald (yang hanyalah ORANG BIASA, BUKAN SARJANA), ada apa gerangan? Ah .. entahlah! Niat baik Frans Donald mengajak Esra Soru bertemu TIM Unitarian untuk debat sehat dengan pertimbangan bahwa Esra Soru adalah kawan baik dari Pendeta Teddy S. Th. dan Ibu Teddy (yang adalah sahabat Frans Donald dan keduanya Unitarian juga, yang mana Pdt Teddy beserta istri sudah lebih dahulu menjadi seorang Unitarian sebelum saya) ternyata pertimbangan tersebut tidak disambut dengan cara kristiani melainkan justru disambut dengan geram dan kesumat pribadi oleh Esra si SARJANA TEOLOGI yang kerap mengaku pakar iman Kristen dan suka menggurui orang melalui siaran Radio RRI di NTT itu.
Perlu disampaikan pula bahwa seusai debat di Surabaya itu beberapa kali Esra Soru kembali mengajak Frans Donald untuk debat via Koran TIMOR EXPRESS (Jawa Pos Grup) di NTT. Entah apa maksud Esra Soru kembali mengajak debat Frans Donald melalui Koran Harian yang dibaca oleh masyarakat NTT, padahal bukankah menurut Esra Soru telah tegas seolah yakin sekali mengungkapkan (berkoar-koar) bahwa: Frans Donald dan Tim Unitarian sudah kalah telak, babak belur, kebingungan, hancur-hancuran, bahkan dalam websitenya mereka dengan bangga menyebut diri Pdt. Esra Alfred Soru dan Pdt. Budi Asali sebagai ‘The Winning Team’. Lha kalau sudah merasa yakin (berani sesumbar, berkoar-koar, mengaku-ngaku) sebagai ‘The Winning’ (Pemenang) kok malahan mau ngajak debat lagi pak Esra Alfred Soru? Ketahuilah bahwa orang-orang yang jujur (bukan kroni-kroninya Budi Asali dan Esra Soru yang tukang dusta) tentu akan tahu betul bahwa tantangan Esra Alfred Soru (yang bergelar SARJANA TEOLOGI) untuk debat di Koran adalah SANGAT JELAS MEMBUKTIKAN BAHWA TIM TRINITARIAN (yang telah terbukti nyata orientasinya dalam berdebat hanya demi menang-menangan secara pribadi semata) SEBENARNYA TELAH SADAR AKAN KEKALAHANNYA TERDAHULU SEHINGGA KINI MENGAJAK DEBAT LAGI DEMI AMBISI MERAIH KHAYALAN KEMENANGAN YANG DIIMPI-IMPIKANNYA SELALU BAGAI MIMPI DI SIANG BOLONG!
Tetapi ajakan Esra Soru untuk debat dengan Frans Donald melalui Koran TIMOR EXPRESS samasekali tidak digubris oleh Frans Donald sebab sudah sangat terbukti banyak sekali pernyataan-pernyataan UNITARIAN yang dipelintir, dikorupsi, oleh Esra Soru dan gurunya (Budi Asali), maka Frans Donald hanya buang-buang waktu saja jika terus-menerus menanggapi ‘serigala-serigala berkepala ular’ yang jelas-jelas hanyalah SARJANA TEOLOGI TUKANG PELINTIR DAN KORUPTOR DATA itu. Bahkan beberapa pembaca TIMOR EXPRESS (orang-orang di NTT) yang membaca tulisan Esra Soru segera menghubungi saya (Frans Donald) dan mengatakan tidak perlu Frans Donald menanggapi tulisan-tulisan Esra Alfred Soru sebab tulisan Esra sangat penuh dengan pemelintiran, curang, licik dan ketidak jujuran intelektual. Seseorang berkata “Saudara Frans, Esra dan Budi Asali itu pendeta tetapi mereka sangat licik dan curang!”, orang yang lain berkata pula “Pak Frans, biarlah anjing (Esra & Budi Asali) menggonggong, sementara kafilah (Frans Donald dan TIM UNITARIAN) terus berlalu”, begitulah orang-orang pernah berkata kepada saya tentang dua serigala berbulu domba itu.

Hasil Debat
Setelah sekian lama mengenal gaya (style) aksi Budi Asali M.Div dan Esra Alfred Soru SARJANA TEOLOGI, kami menjadi tahu bahwa ke dua tokoh Gereja Reformed ini adalah ahli / jago pelintir ayat, koruptor dan samasekali bukan orang jujur, maka setelah akhir perdebatan pun kami (Unitarian) akhirnya makin tahu bahwa kedua orang, pendeta dan penginjil ini benar-benar samasekali bukanlah orang gereja yang jujur adanya. Budi Asali ternyata samasekali bukanlah seorang berbudi yang asali. Gelar ‘Pendeta’, ‘pengajar’, ‘pengkotbah’ yang Budi Asali kenakan hanyalah bulu domba dari jiwanya yang adalah serigala licik. Tujuan mereka berdebat terkuak sudah, samasekali bukan untuk mencari kebenaran tapi hanya berambisi ingin menjatuhkan dan mempermalukan lawan demi keegoisan kepentingannya sendiri. Suatu kenyataan terhadap Budi Asali dan Esra Soru jelas tersingkap sudah, hati mereka ternyata BUSUK dan mental mereka hanyalah MENTAL KERDIL YANG LICIK. Hal tersebut terbukti nyata yaitu: Seusai perdebatan yang panjang dan belum tuntas itu, Budi Asali cs akhirnya makin mengejek-ejek, menghina, berupaya ingin mempermalukan kami (TIM UNITARIAN) dengan jurus “ANAK KECIL YANG MERASA PUAS BERHASIL MENIPU TEMANNYA” yaitu yang mereka lakukan adalah memajang / mempublikasikan foto-foto kami (Frans Donald, Benny Irawan dan Oktino Irawan) di internet (di blog websitenya, www.pelangikasihministry.blogspot.com. dengan ditulisi komentar-komentar yang berisi ejekan dan hinaan dengan tujuan hanya untuk mempermalukan / mengejek-ejek Unitarian, yaitu di antaranya:
“Beginilah ekspresi wajah-wajah Tim UNITARIAN (dari atas ke bawah: Benny, Oktino, Frans Donald) ketika hancur-hancuran dalam menjawab serangan bertubi-tubi dari Tim TRINITARIAN.
(Foto) Benny... menutup mata kebingungan mencari jawaban terhadap serangan bertubi-tubi Trinitarian.;
(Foto) Oktino.. hancur-hancuran dalam menjawab serangan bertubi-tubi Trinitarian sambil mengangkat kedua tangannya. ;
(Foto) Sementara kedua rekan disebelahnya menjelaskan dengan mulut "berbusa-busa", Frans Donald bergaya santai dan tebar senyum PEPSODENT.
THE WINNING TEAM Pdt. Budi Asali & Pdt. Esra Alfred Soru.”

He..he..he… saya beserta TIM dan kawan-kawan lainnya hanya tertawa melihat semua polah tingkah ANAK-ANAK KECIL YANG LICIK DAN BERJUBAH PEMIMPIN GEREJA itu. Pernyataan ejekan-ejekan tersebut makin membuktikan tampak sekali Budi Asali yang bergelar PENDETA, M. Div. dan Esra yang SARJANA TEOLOGI rupanya sudah sangat frustasi- stres berat dan kehabisan akal liciknya, oleh karena dusta-dusta ajaran kedua pendeta itu makin terbongkar selama 9 kali debat dengan kami, dan fatalnya yang telah berhasil membongkar dusta-dusta Trinitas yang mereka berdua ajarkan ternyata hanyalah orang-orang yang samasekali bukan lulusan sekolah teologi (yaitu Frans Donald, Benny Irawan, Oktino Irawan dan Tirto Sujoko, yang ke-4nya hanyalah jemaat biasa saja, yang mempelajari Alkitab secara otodidak dari ajaran Yesus yang bertaburan dalam Alkitab yang samasekali tidak pernah mengaku bahwa dirinya [Yesus] adalah Allah sejati!). Dikalahkan oleh “orang biasa” membuat mereka berdua menjadi sangat frustasi, panas dan ‘kebakaran jenggot’ hingga terpaksa tanpa mereka sadari justru tingkah polah mereka guna mengejek-ejek TIM UNITARIAN akhirnya justru membuka aibnya sendiri dengan berlaku sangat kekanak-kanakan, memalukan dan menjatuhkan harga dirinya sendiri dengan bertingkah persis ANAK KECIL YANG PUAS BERHASIL MENIPU MEREBUT PERMEN TEMAN-TEMANNYA.

Hingga kini Budi Asali cs mungkin masih bisa saja main kibul berdalih dan berkoar-koar kesana-kemari di komunitasnya bahwa TIM UNITARIAN sudah dikalahkannya, persis komentar ANAK KECIL YANG EMOSI DAN BERUSAHA MEMBELA HARGA DIRINYA YANG SUDAH HANCUR BERKEPING-KEPING, “Heee Unitarian kalah, kalah, kalah, kalah, kalah …” begitu kira-kira gambaran sesumbar mereka, sambil Esra Soru berkata dan tertawa lebar “Benny kebingungan …, Oktino hancur-hancuran, mulutnya berbusa-busa …”, tapi, Budi Asali dan Esra lupa, padahal, kalau saja mau dengan jujur dan tulus mengukur hasil “menang-kalah”-nya perdebatan tersebut berdasar fakta-fakta selama setahun ini, maka jelas-jelas TIM BUDI ASALI (Trinitarian)-lah yang sesungguhnya telah KALAH TELAK dengan kenyataan yang sangat menampar dan memerahkan mukanya, yaitu terbukti nyata bahwa beberapa hadirin dari pihak Trinitarian yang beberapa kali hadir di acara debat tersebut akhirnya telah memutuskan meninggalkan doktrin Trinitas ajaran Budi Asali dan Esra Alfred Soru, dan kemudian MENJADI UNITARIAN alias jadi orang-orang yang MENOLAK TRINITAS, dan sebaliknya tak seorang pun kawan-kawan kami (kaum Unitarian) yang terpengaruh sedikit pun oleh argumen-argumen Trinitarian yang ternyata terbukti sangat ngawur (yang hanya menang ngototnya dan ahli pelintirnya) disajikan oleh Pdt. Budi Asali M. Div dan Esra Alfred Soru S.Th. Bahkan dengan adanya perdebatan di Surabaya itu iman kaum Unitarian makin kokoh, serta makin banyak di berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke, pendeta-pendeta, teolog-teolog, tokoh-tokoh gereja, jemaat-jemaat, dan segala macam orang-orang Kristen maupun Katolik yang tadinya menganut Trinitas kini telah menyatakan diri sebagai Unitarian alias tegas menolak doktrin Trinitas yang mengajarkan Yesus sebagai Allah Sejati!
Perlu pula saya (Frans Donald) informasikan bahwa andai saja kini Budi Asali dan Esra Alfred Soru masih saja berani berkoar-koar sesumbar bahwa Unitarian telah kalah, maka silahkan suruh mereka berdua menulis tanggapan yang akurat-Alkitabiah (DAN JANGAN PAKAI JURUS MEMELINTIR DAN JANGAN JADI KORUPTOR!) terhadap buku saya yang judul “MENJAWAB DOKTRIN TRITUNGGAL” yang sejak terbit Agustus 2007 hingga saat ini (sampai cetakan ke-5) belum ada satu-pun orang penganut Trinitas yang bisa SECARA JUJUR (JANGAN MEMELINTIR DAN KORUPSI SEPERTI ESRA DAN BUDI ASALI!) membuktikan bahwa argumen-argumen kami (Unitarian) dalam buku tersebut bisa dipatahkan (digugurkan), sebaliknya malahan makin banyak penganut Trinitas yang sudah beralih tegas menolak Trinitas!

Sekali lagi kami tegaskan, Wahai Esra Alfred Soru SARJANA TEOLOGI dan gurunya, PENDETA Budi Asali yang bergelar M. Div., kalau anda-anda berani berkoar-koar bahwa argumen-argumen UNITARIAN sudah dihancur leburkan oleh anda, silahkan tanggapi dengan bikin buku tertulis sebagai tanggapan terhadap buku kami yang berjudul MENJAWAB DOKTRIN TRITUNGGAL, silahkan buktikan, argumen-argumen UNITARIAN yang mana yang sudah anda hancurkan? Bukankah justru buku MENJAWAB DOKTRIN TRITUNGGAL tersebut justru banyak menghancur leburkan doktrin ajaran kalian? Ambil contoh soal Yohanes 1:1, sudah kami kupas dan patahkan teori Trinitarian melalui buku tersebut halaman 1 – 14; Juga misal, dalam buku MENJAWAB DOKTRIN TRITUNGGAL halaman 86-90 kami buktikan bahwa argumen Trinitarian (=argumen Budi Asali) yang kekeuh nekad mengklaim bahwa ‘Yesus bangkit atas kuasanya sendiri’, teori itu sudah kami buktikan sebagai sangat mengada-ada alias ngawur!* (*Istilah menyebut orang lain 'ngawur' ini adalah bahasa gaya Budi Asali yang sesungguhnya sangat tepat untuk dikembalikan / disematkan pada diri Budi Asali sendiri) dan masih banyak lagi teori bualan Trinitarian yang kami buktikan salah doktrin adanya. Lantas argumen-argumen UNITARIAN yang mana yang katanya sudah anda hancurkan???!!! Kami tunggu! Dan jika buku ‘Tanggapan atas buku MENJAWAB DOKTRIN TRITUNGGAL’ (yang TANPA PELINTIRAN DAN TANPA KECURANGAN) karya anda berdua itu sudah jadi atau terbit, saya (Frans Donald) siap membantu memberikan jalur distribusi buku karya anda berdua (yang berisi tanggapan atas buku MENJAWAB DOKTRIN TRITUNGGAL) tersebut untuk disebarkan ke Gramedia dan toko-toko buku besar di seluruh Indonesia agar masyarakat publik seluruh Indonesia bisa tahu dan membaca buku tanggapan anda berdua terhadap buku MENJAWAB DOKTRIN TRITUNGGAL yang saya (Frans Donald) tulis, hingga akhirnya masyarakat luas bisa menyimpulkan sendiri siapakah yang benar-benar Alkitabiah sesungguhnya, Unitarian atau Trinitarian?. Dan saran saya (jika andaikan memang ingin buku karya anda tersebut nantinya bisa diterima oleh Gramedia dan toko-toko buku lainnya) sebaiknya anda berdua tidak perlu memakai kebiasaan gaya kebanggaan anda yang suka mengklaim orang lain sebagai ‘goblok’, ‘tolol’, ‘gila’, ‘ngawur’, dsbnya, karena jika kata-kata semacam itu terus anda lontarkan di tulisan-tulisan dan atau di kesempatan mana pun, maka semua orang akan semakin cepat menyadari bahwa sebenarnya anda berdua-lah yang sesungguhnya mencerminkan pernyataan anda sendiri yang adalah teolog-teolog (M. Div dan SARJANA TEOLOGI) yang sangat ‘goblok’, ‘tolol’, ‘gila’, ‘ngawur’, dsbnya .
Ok, kami tunggu aksi anda wahai Budi Asali dan Esra Alfred Soru!!!

19 comments:

GK said...

baca juga tulisan saya tentang Pdt. Budi Asali dan Ezra, di http://gkmin.net/?p=89

salam,
www.gkmin.net
(beda pendapat tidak masalah, yang penting tidak main "kasar", sebab Yesus tidak mengajarkan demikian)

DEDE WIJAYA said...

http://pelangikasihministry.blogspot.com/2008/12/membongkar-inkonsistensi-kecurangan.html

http://pelangikasihministry.blogspot.com/2008/12/benarkah-doktrin-tritunggal-produk_11.html

odes said...

Kalau saya lihat, gaya dan perilaku orang yang namanya Budi Asali bukan hanya sangat memalukan dan memuakkan, tetapi juga telah mencemarkan iman Kristen. Perhatikan gaya dia yang sepertinya kritis terhadap berbagai pendapat, tetapi tidak pernah kritis terhadap diri sendiri dan terhadap Steven Tong dkk. Bagi saya, tulisan dan pemikiran mereka sangat provokatif, menyudutkan dan menghakimi pihak lain tanpa rasa hormat.

Saya sempat menganalisis tulisan-tulisan dia dari pendekatan psikologi. Kog rasanya dia menderita split of personality, alias mental yang tidak seimbang. Sayangnya orang seperti dia kog bisa ya jadi pendeta.

Odes Suryono

Papa said...

Untuk orang-orang yang dirasuk roh Feminisme, apa yang dilakukan Esra Soru dan Budi Asali tidak benar.

adiput said...

Yap, saya juga gak setuju kalo debat pake kekerasan.
Saya jemaat Gereja Baptis Independen Alkitabiah(GBIA) John The Baptist, yang menganut doktrin tritunggal.
Saya pernah baca buku anda, yang saya lupa judulnya, tapi topiknya tentang alkitab dan alquran yang satu sumber. Saya tertarik membaca buku anda karena anda menggunakan kata "Alkitabiah" yang sebelumnya pernah saya dengar waktu ikut seminar "Bagaimana membedakan mukjizat Allah dan mukjizat iblis" di pontianak, dari situ lah saya mengenal doktrin alkitabiah dan Graphe lalu bergabung dengan gerejanya, sebelumnya bisa dibilang saya kristen KTP.
Saya tertarik untuk membaca bagaimana anda dapat menjelaskan bahwa Alkitab dan alquran satu sumber secara Alkitabiah. Pada awalnya anda menjelaskan tentang baptis yang harus selam (ini saya setuju), lalu Yesus yang adalah malaikat (ini membuat saya terkejut dan goyah dengan doktrin tritunggal), tapi yang tidak anda jelaskan, adalah bagaimana cara masuk surga. Kalo kristen, pada Alkitab sudah jelas yaitu lewat Yesus Kristus (juru selamat yang diurapi) tidak ada jalan lain selain lewat Dia, sedangkan alquran..
Saya anjurkan anda berdebat dengan orang yang tepat, jangan dengan orang yang belum lahir baru. Coba undang Dr. Suhento Liauw, gembala GBIA GRAPHE.
Alamat website :
www.graphe-ministry.org

adiput said...

Satu hal lagi saya sempat bingung juga dengan doktrin Tritunggal tapi sekarang gak lagi.. Kalo anda bingung tanya aja dengan Dr. Suhento Liauw

James Lola said...

Frans, kamu sebenarnya sudah benar-benar tidak memiliki dasar untuk melandaskan ajaran kamu tentang unitarian namun kamu masih saj berdalih dan memutar kata untuk menunjukkan bahwa kamu mengalah...!!!

dimana kamu selama 5 bulan ini dalam perdebatan di Timor Express koq tidak pernah muncul lagi, takut ya???

Judy Husin said...

Saya tidak kenal siapa itu Pdt. Budi Asali maupun Pdt. Esra Alfred Soru. Saya juga tidak kenal dengan Fran Donald. Saya mengetahui informasi perdebatan Unitariant dan Trinitariant, tetapi tidak mengikutinya karena saya tinggal di Jakarta. Saya juga tidak melihat VCD perdebatan tersebut. Saya hanya tahu melalui artikel-artikel yang saya temukan di internet baik itu yang di tulis oleh Pdt. Budi Asali, Pdt. Esra maupun Frans Donald serta blog Pdt. Esra dan Frans Donald ini.

Menariknya, membaca kedua blog ini saya melihat sesuatu yang sangat aneh pada blog Frans Donald. Artikel yang saya komentari ini yang merupakan tulisan Frans Donald sangat terlihat sekali seperti seseorang yang ketakutan tetapi memaksakan diri untuk berani.

Alasan-alasan yang dikemukakan Frans Donald saat berdebat dengan Trinitarian terlihat begitu di buat-buat. Alasan diamnya Frans Donald saat debat, alasan penolakan ketika diajak berdebat hanya berdua dengan Pdt. esra, dan alasan-alasan lainnya, menurut penilaian saya hanya menunjukkan ketakutan seorang Frans Donald.

Cobalah untuk jujur, tidak usah berpura-pura berani dengan memberikan alasan-alasan yang lucu. Saya pikir tidak apa-apa kalau memang anda pendiam, tapi jangan sok memberikan tantangan.

Rigan said...

Tahukah anda kalo Yesus Kristus berkata :

LA ILLAHA ILLALLAH YESUS KRISTUS RASULULLAH

"sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan Yesus Kristus adalah utusan Allah" [Yoh 17:3]

=inilah hidup yang kekal=

(sebarkan ke 10 orang teman anda dan diskusikan)

Yahshua said...

Buat James Lola, Judy Husin, dkknya, langsung saja anda hub Frans Donald di HPnya 08179719991 Jika anda-anda sopan dan bukan pendusta seperti esra dan Budi Asali, pasti anda-anda akan dilayani ...!

blank said...

aow,aow...,aow, pak frans terhormat, saya memang juga tidak mengenal pak budi asali dan pak esra yang anda katakan serigala berbulu domba, namun jika anda menyimak berbagai macam bentuk debat,memang begitulah cara berdebat yang sesungguhnya, hal ini mungkin mengagetkan anda yang biasa berdialog tanpa hasil absolut, namun berakhir dengan harapan untuk memahami masing2 pihak. keras dalam berucap itu sah untuk menekankan pendapat, apalagi yang diperdebatkan adalah alkitab dengan case sensitifnya, jadi semestinya andalah yang mengambil inisiatif untuk mempelajari terlebih dahulu gaya berdebat lawan anda, dengar dari pak teddy misalnya, yang menurut anda kenal baik dengan pak esra, tidak lantas menerima saja debat tersebut.
nah karena anda menerima bahkan terus menerima hingga beberapa kali debat terbuka, maka sungguh tidak pantas bagi anda memberikan sebutan serigala berbulu domba kepada mereka,
tidak pantas menjelek-jelekan mereka di forum anda, karena menurut saya pribadi, anda sudah bertemu berkali-kali dengan mereka tapi tidak mampu mengubah pemikiran mereka,menggeser sedikitpun tidak dan anda justru merasa terintimidasi oleh gaya bicara mereka,anda berkata mereka suka memutarbalikan fakta,seperti apa contohnya, kalo kenyataan bahwa anda memilih diam dan tidak bereaksi sebagaimana perdebatan pada umumnya, anda jelas kalah dalam hal ini, sekali lagi jika debat yang anda inginkan maka bereaksilah dalam perdebatan, tapi kalo mau dialog, ya datang aja sendiri ke tempatnya, saya yakin itu pasti beda hasilnya, sekali lagi, berdialog dengan mempertahankan prinsip dan disaksikan awam, jelas debat namanya, jadi tidak ada kristen ato bukan kristen, serang dan bertahan dalam opini itu biasa.

blank said...

satu hal lagi, jika Yesus bukan Tuhan, lalu apa beda kepercayaan anda dengan saksi yehovah dan islam, karena menurut saya mereka juga berdiri di sudut kutub berbeda dengan kristen trinitas, masakan kepercayaan anda diciptakan untuk berada pada posisi grey area, agar tidak dimusuhi islam dan saksi yehovah misalnya, sehingga pemikiran tsb muncul, yohanes 10 ayat 30 sudah dibaca belum?

Masami Ichijo said...

Kepada saudaraku Frans D.
saya menghargai perbedaan pendapat dan saya suka bersahabat.
saya memiliki rekan-rekan theolog yang sangat memahami Firman Tuhan dan bila saya share argumen mereka mengenai pemahaman anda, mungkin cukup untuk 'mematahkan' argumen biblical anda (mereka sendiri hanya tersenyum membaca tulisan2 anda tanpa ingin 'mematahkan' semangat anda belajar). tapi saya rasa tidak perlu sejauh itu, karena ketika anda menyuguhkan argumen anda saya bisa memperhatikan bahwa anda memang sangat kokoh dalam argumen, namun anda kurang teliti. Saya senang dengan semangat anda belajar Firman Tuhan, hanya anda masih perlu banyak belajar lagi, sama seperti saya juga masih perlu terus belajar dan meneliti. mari kita sama2 meneliti dan belajar Firman Tuhan. teliti lah sampai anda menemukan 'KEBENARAN'.
Pesan saya...waktu saya berbicara di beberapa pertemuan saya katakan...: "saya bisa saja salah"...karena itu anda juga bisa saja salah. Kita bisa saja salah, tetapi intinya adalah apabila kita menemukan 'sesuatu' atau pendapat yang jauh ternyata lebih baik dari pendapat/kebenaran yg selama ini kita pegang teguh, jangan 'bertahan', kita harus berani rendah hati menerima-nya. itulah sikap 'ksatria'.

ini ada 'sedikit saja' uraian yang biasa dengan bahasa biasa (bukan bahasa theolog), semoga sharing ini memberkati kita semua.

"Setiap ada yang berkata pada saya bahwa Yesus bukan Tuhan/Allah, saya hanya bisa tersenyum karena mereka berbicara ke orang yang salah, jika mereka mengatakan pada orang belum memiliki "perjumpaan dengan Yesus" mungkin bisa saja, tapi kepada saya? Mustahil! saya masih hidup hingga sekarang karena Yesus adalah Tuhan/Allah.

Sebelum saya bertobat saya adalah orang sangat bejat, penipu kelas tinggi, hampir kebayakan dosa saya adalah dosa2 yang tak dilakukan orang, kehidupan saya sangat gelap. sewaktu saya dalam titik terparah dari hidup saya, "theofani" Yesus hadir di samping saya dan berkata mulai hari ini layani lah aku.., saya bertanya: "siapa Engkau"...Dia menjawab: "Aku adalah Tuhan Allahmu, Yesus Kristus, berikanlah seluruh hidupmu kini bagi KerajaanKU". Dan tau apa yang terjadi? saya bertobat, saya sadar, saya sembuh dan saya dipulihkandengan ajaib. Kehidupan saya semakin hari semakin membaik di dalam Tuhan/Allah bahkan Tuhan/Allah memberkati hidup saya yang luarbiasa, yang dulu dikatakan orang: 'manusia sampah tak berguna, mati lebih baik agar tak menyusahkan'...namun kini saya sangat berharga, setiap orang yang mengenal saya, melihat hidup saya kini pasti memuliakan Tuhan/Allah karena mampu mengubahkan seseorang yang begitu bejat dan jahat.

Ilustrasi nya seperti ini: jika ada orang yang berkata: Aku kenal bapakmu, bapakmu bukan laki2, hahahaha yah pasti saya tertawa, sangat jelas dia adalah laki2 karena saya yang bertemu dia hampir setiap hari dan saya lah yang pernah 'melihat' dia sebagaimana dia ada. Lucu kan kalau orang ngotot sama saya bahwa bapak saya bukan laki2?

sama konyolnya dengan seseorang yang berkata bahwa Yesus Bukan Tuhan/Allah kepada orang yang pernah "bertemu" dengan DIA secara pribadi.

Masami Ichijo said...

sambungan:

Iman Kristen bukan sekedar pengetahuan dalam teks2 ayat ayat yang diteliti saja tapi ‘pengetahuan’ yang disertai dengan pengalaman pribadi, itulah mengapa orang2 kristen banyak disebut sebagai 'saksi'. Dalam sebuah kasus pembuktian yang paling kuat adalah fakta+saksi.

Pertanyaan saya bagi yang merasa bahwa Yesus bukan Tuhan/Allah,pernahkah "bertemu" dengan apa yang kamu sebut TUHAN/ALLAH mu? lalu bagaimana kamu yakin bahwa itu TUHAN/ALLAH mu?

Itulah mengapa Paulus sangat yakin di dalam Injil karena dia telah bertemu dengan Yesus yang adalah Tuhan/Allah dalam perjalanannya ke damsyik ketika ingin mengejar orang kristen untuk dibunuh, namun pertemuannya dengan Kristus membawa nya pada pertobatan lalu dia menjadi saksi Kristus, bukan hanya pengetahuan namun juga pengenalan akan Kristus.

pernahkah kamu melihat angin?pasti tidak, tapi kamu pasti dapat merasakannya bukan?bahkan saat dia menjadi angin puting beliung sekilas kamu dapat melihat'bentuknya' sehingga kamu tau itu pasti angin!

Biarpun saya mengatakan fakta apapun, jika kita tidak membuka hati...percuma saja untuk berusaha mengerti dan memahami bahwa Yesus itu Tuhan/Allah karena untuk mengerti hal itu kita membutuhkan "Iman", bukan sekedar ‘pintar’
sama seperti kita berusaha memahami matematika dan bahasa inggris. kalau kita tidak suka gurunya pasti sulit untuk menerima ajarannya, namun jika kita mengawali hati kita terbuka dan positif terhadap guru kita, niscaya pelajarannya akan lebih mudah untuk kita pahami.

dalam keKristenan ada 3 hal yg menarik.
1. dogma
2. doktrin
3. Opini

opini kita pasti tau, berbeda boleh tapi jangan bertengkar karenanya, hargai saja.
doktrin muncul bisa karena situasi, keadaan, pemahaman, sejarah dll. tapi lagi2 jangan bertengkar karenanya.
dogma mutlak kita pegang teguh. karena tidak perlu kita debatkan.
contoh dogma ( yoh 10:30 )

(jika kita tukang kebun yg disuruh memotong rumput, ayo kita potong rumput, pemilik rumah/tuan kita tidak akan senang bila kita malah mengecat rumah, meskipun terlihat perlu...karena yg dia mau kita potong rumput)Mari kita lebih memusatkan diri dengan hal yang lebih berguna daripada terlalu lama 'berputar' di satu tempat, contoh nya berbuat baik bagi semua orang, melakukan kebenaran-Nya (karena banyak manusia lebih rajin/semangat meneliti/membaca Firman Tuhan daripada rajin/semangat mempraktekkannya dalam kehidupan setiap hari), membantu kaum papa, anak yatim dan banyak lagi hal2 yang sosial yg bisa kita lakukan.

Salam sejahtera bagi kita semua, saya sangat mengasihi kalian semua.

Masami Ichijo.

zack@u said...

om donald. klo dalam debat anda tidak bs encounter pressure lebih baik anda tidur dan jangan lupa cuci kaki. kenapa anda hanya mengutip "serigala berbulu domba"? lupakah anda dengan "CERDIK SEPERTI ULAR, TULUS SEPERTI MERPATI"?
after losing ur point then u condemned others. ck ck ck.
sampe sekarang saya masih tertawa terpingkal-pingkal dengan statement "pemikir bebas"..
hanya mengingatkan nih om..
john 8:32
"And you will know the truth, and the truth will set you free.”
which truth r u in???

God Bless..

NERV said...

Saya nonton video debat seri 1, saya cukup terbiasa dgn cara debat seperti itu.
Di kampus saya (UKSW), kami mahasiswa sering debat akan berbagai masalah dalam forum resmi kemahasiswaan. Ada yang berapi-api (mungkin lebih dari pdt Budi), ada yg tenang dan dingin, tapi toh di luar kami tetap bersahabat. Dan memang seperti itulah cara berdebat.
Cara debat yang anda inginkan mungkin hanya sekedar untuk mengetahui perbedaan saja sambil tersenyum manis dengan pihak lawan, tanpa mengharapkan kesimpulan akan kebenaran.
Kalau pdt Budi mengatakan tidak percaya trinitas pasti masuk neraka, ya memang seperti itulah pandangan dia dan trinitarian pada umumnya, apa harus disimpan dalam hati sambil tersenyum manis karena tidak enak dgn pihak2 tertentu? Menurut saya justru beliau-beliau sambil berdebat juga melakukan pemberitaan injil.

bram philetas said...

Kafirkah Kristen ? TIDAK MENURUT USTADZ FIRDAUS: http://youtu.be/KC5Bh-DdNW0

Mr Jidat said...

1 Korintus 4:20
Sebab kerajaan Allah bukan terdiri atas perkataan,tetapi dari kuasa.

GT Production said...

Alamatnya boleh mas... biar bisa diskusi santai