Sunday, September 21, 2008

BENARKAH YESUS ITU TUHAN?

BENARKAH YESUS ITU TUHAN?
Ditinjau dari Perspektif Alkitabiah

Tulisan ini telah dimuat dalam Koran TIMEX (Harian TIMOR EXPRES - Jawa Pos Grup, koran di NTT)pada 11-12 Agustus 2008. Dan mendapat banyak apresiasi dari pembacanya yang beraneka ragam menghubungi saya.


Pengantar:
Hari ini masih banyak orang yang sering bertanya-tanya perihal seputar ke-Tuhan-an Yesus. Ada yang yakin Yesus itu Tuhan, tapi tidak sedikit yang tegas berkata: Yesus itu bukan Tuhan. Berbicara masalah tentang ke-tuhan-an Yesus adalah hal yang sangat penting untuk dipahami dengan benar dan jujur. Tanpa kejujuran, suatu kebenaran akan dengan mudah diputar balikkan. Sedangkan tanpa kebenaran, maka kejujuran hanya akan berdiri rapuh tanpa dasar yang kuat. Kejujuran dan kebenaran pun harus ada standarnya. Jujur menurut standar siapa? Benar menurut standar apa? Ini harus jelas dan ada kesepakatan dulu, supaya sama-sama bisa memahami dan tidak bertikai nantinya.
Analogi: Kalau anda semua dan saya mau sama-sama mengukur panasnya suhu di suatu ruangan yang sama, maka sebelum mengukurnya, kita musti sepakat dulu bahwa standar yang akan kita pakai mengukur suhu harus sama dulu, parameternya musti sama, yaitu anda-anda dan saya harus sama-sama sepakat untuk pakai thermometer udara (atau alat pengukur suhu yang benar). Kalau saya memutuskan mengukur memakai thermometer udara, sementara ada orang yang mau mengukur pakai hitungan suhu badan, sedang yang lainnya ada juga yang mengukur berdasar angka-angka derajat celcius yang muncul di mesin AC, ada juga yang mengukur berdasar ilmu kira-kira, atau standar ukuran lain-lainnya sesuai hasrat masing-masing orang (semaunya sendiri), maka dapat dipastikan yang akan terjadi adalah: tidak akan ada titik temu disebabkan standar alat ukurnya -masing-masing orang- berbeda-beda.
Nah, demikian juga dalam hal menelaah “ke-tuhan-an Yesus” ini. Standar-ukurannya (parameter) apa yang mau kita pakai, musti jelas dulu. Yesus itu disebut Tuhan menurut siapa? Atau, Yesus itu bukan Tuhan menurut apa? Standar ukurannya musti jelas. Dan pada kesempatan ini Saya, tampil sebagai seorang Kristen (dalam arti: pengikut Yesus Kristus), maka akan memfokuskan ukuran / standarnya berdasar pada kitab-kitab Kristen yang telah terukur keabsahannya (terkanonisasi), yaitu Alkitab. Sekali lagi, standarnya Alkitab! Bukan targum-targum Yahudi, tulisan-tulisan teolog zaman dulu, atau kitab yang lainnya, tidak! Saya akan sampaikan hal Ke-tuhan-an Yesus fokus dari perspektif Alkitab. Dengan cara jujur dan benar serta cermat mengkaji Alkitab, maka masalah ke-tuhan-an Yesus akan lebih mudah dan gamblang untuk dipahami. Tidak perlu teori filsafat atau ilmu teologi yang berputar-putar. Bagi Saya, ayat-ayat Alkitab cukup jelas terang-benderang menjawab pertanyaan tema kita: Benarkah Yesus itu Tuhan?



Kata Kunci Sebelum nanti kita melihat kesaksian-kesaksian Alkitab soal ke-tuhan-an Yesus, ada 2 (dua) istilah kata penting -yang banyak muncul di Alkitab- yang perlu kita bahas terlebih dulu. Dua kata itu adalah “Tuhan” dan “Allah”. Berdasar pengamatan Saya selama ini, hampir selalu kata “Tuhan” dan “Allah” ini-lah yang sering menjadi pemicu kesalah pahaman atau perdebatan perihal ke-tuhan-an Yesus. Pemahaman yang benar terhadap dua kata tersebut akan menjadi kunci utama bagi para pembaca Alkitab, guna mendapatkan pandangan yang jelas tentang siapa Tuhan, siapa Allah dan siapa Yesus. Tanpa pemahaman yang tepat terhadap istilah “Tuhan” dan “Allah” di Alkitab ini, maka ayat-ayat Alkitab akan bisa tampak rancu, terkesan kontradiksi, membingungkan, bahkan tidak sedikit orang yang karena bingung atau tidak bisa paham sepenuhnya, akhirnya menabrak pada kesimpulan: Alkitab itu menyesatkan!

Istilah “Tuhan” dan istilah “Allah” dalam Alkitab berbeda dengan kitab suci lainnya.
Dalam kitab suci lain, umumnya istilah “Tuhan” dan “Allah” menunjuk pada satu hal atau substansi yang sama. Kamus Bahasa Indonesia juga tampak menerjemahkan ke-dua istilah tersebut sebagai satu substansi yang sama. Itu sebabnya kini sebagian besar orang tidak lagi mempermasalahkan substansi kata “Tuhan” dan “Allah”. Orang sering berkata: “Tuhan” ya “Allah”, “Allah” ya “Tuhan”, sama saja. Namun, khusus dalam Alkitab terjemahan Indonesia, ternyata kata “Tuhan” dan “Allah” ini mengandung makna yang sangat berbeda substansi maknanya! Mari kita telaah:

Memahami pengertian kata “Tuhan” dalam Alkitab. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata “Tuhan” berarti:
1)yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai Yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb; Allah; Yang Maha Esa;
2)Sesuatu yang dianggap sebagai Tuhan.

Sedangkan kata “Tuhan” dalam Alkitab maknanya ternyata ada perbedaan dengan KBBI. Kata “tuhan” dalam Alkitab, bahasa aslinya adalah “adon [adonay]” (Ibrani), atau “kurios” (Yunani). Bahasa Inggrisnya “lord”.
Nah, “adonay” / “kurios” / “lord” ini, ternyata padanannya yang tepat dalam bahasa Indonesia adalah: “Tuan” (tanpa huruf “h”). Sebagai contoh akan kita lihat jelas di ayat berikut:
“as Sarah obeyed Abraham calling him lord” (1Petrus 3:6) Terjemahan Indonesianya: “Sama seperti Sarah taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya”. Kata “lord” / “tuan” di ayat tersebut dalam bahasa Yunaninya = kurios, Ibrani= adonay.
Artinya, Abraham layak disebut sebagai “lord” / “kurios” / “tuan”, sebuah gelar yang persis juga dikenakan kepada Yesus. Dalam Alkitab Yesus berulangkali disebut sebagai “lord” / “kurios” yang arti sejatinya adalah “tuan”. Tapi mengapa kini kata “lord” / “kurios” yang dikenakan pada Yesus kok ditulis sebagai “Tuhan”? Apakah ada beda “tuan” dengan “tuhan” dalam Alkitab?
Alkitab Indonesia tampak sekali tidak konsisten ketika menerjemahkan kata “lord” / “kurios”. Ada yang diterjemahkan sebagai “Tuhan” tapi ada juga yang “tuan”. Untuk hal itu ahli bahasa Remy Silado pernah menjelaskannya dengan sangat gamblang tentang asal-usul kata “Tuhan”, dalam tulisannya yang berjudul: “Bapa jadi Bapak, Tuan jadi Tuhan, Bangsa jadi Bangsat” (Kompas 11 September 2002). Di situ Remy Silado menjabarkan:
Dalam Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ bahwa: arti kata Tuhan ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik (alias bos). Setelah diselidiki, ternyata kata “Tuhan” ini pertama muncul dalam peta kepustakaan Melayu beraksara Latin lewat terjemahan kitab suci Nasrani. Artinya, sesungguhnya orang Nasranilah penemu atau pencipta kata “Tuhan”.
Remy Silado membuktikan, dalam kitab suci Melayu terjemahan Brouwerius tahun 1668, kata Yunani “kurios” (yang adalah gelar bagi Yesus/Isa Almasih) masih diterjemahkan sebagai “tuan” (tanpa huruf “h”). Kemudian VOC menyuruh Pendeta Melchior Leijdecker untuk menerjemahkan ulang seluruh Alkitab. Nah, pada terjemahan Leijdecker inilah ditemukan secara akurat perubahan harafiah dari kata “tuan” menjadi “Tuhan” untuk padanan kata “adonay” atau “kurios”. Mengapa Leijdecker mengubah kata “tuan” menjadi “tuhan”? Ternyata tujuannya adalah agar bunyi “n” dapat diucapkan dengan baik. Sebab kala itu banyak orang yang baru belajar bahasa Melayu (bekas budak Portugis asal Goa) terpengaruh oleh bahasa Portugis mengucapkan “n” menjadi “ng”. Misal: di Ambon sampai sekarang “tuan” dibaca “tuang”; Tuang Ala artinya Tuhan Allah.
Nah, inti dan hakikatnya dari segi penelusuran bahasa yang akurat, ilmiah dan tepat serta sangat bisa dipertanggung jawabkan, dapat dipastikan bahwa kata “Tuhan” yang dipakai dalam Alkitab bahasa Indonesia sama maknanya dengan “Tuan”. Oleh karena itu, maka, musti dipahami betul bahwa:
Tuhan Yesus (Yunani: kuriou Iesou), artinya = Tuan Yesus (BUKAN ALLAH YESUS!)
Tuhan Allah (kuriou ho theou), artinya = Tuan Allah
Poin yang sangat perlu dipahami benar: bahwa gelar “Tu(h)an” beda maknanya dengan “Allah”. Kata “Tuhan” dan “Tuan” di Alkitab sebetulnya tidak ada perbedaan arti, sama-sama berasal dari kata “adonay” atau “kurios”. Konsekuensinya jelas, saat membaca Alkitab, maka “Tuhan” tidak boleh sembarang disamakan dengan “Allah”.

Memahami Pengertian kata “Allah” dalam Alkitab.
Kata “Allah” sejatinya adalah kata serapan dari bahasa Arab. Padanannya di dalam Alkitab istilah kata yang dipakai adalah “elohim” (bhs. Ibrani) atau “theos” (bhs. Yunani), atau “god” (bhs. Inggris) yang mengandung makna “sesembahan” atau “yang patut diibadahi”.
“elohim” atau “theos” atau “God” di Alkitab (yang kemudian di Alkitab Indonesia kini diterjemahkan juga sebagai “Allah”), selain bisa dipakai untuk menunjuk pada YAHWEH (Allahnya Israel)*, ternyata kerap kali juga dipakai untuk menunjuk pada pribadi-pribadi yang tampil sebagai utusan dari YAHWEH. Artinya, “Allah / elohim / Theos / God, di Alkitab, memiliki dua makna utama,
Pertama: “elohim”(Allah) menunjuk kepada YAHWEH. Misal: Keluaran 20:2-3 :
“Akulah YAHWEH, Allah (elohim)-mu, … jangan ada padamu allah (elohim) lain di hadapan-Ku”
Syahadat iman Israel berdasar Ulangan 6:4 “… Yahweh elohenu, Yahweh ekhad, artinya Yahweh itu Allah kita, Yahweh itu esa”.
Kedua: “elohim” (Allah) menunjuk pada utusan-utusan YAHWEH yang tampil atau datang atas nama YAHWEH.
Lebih jelas bisa kita lihat dari ayat-ayat berikut:
YAHWEH adalah Allah segala allah / YAHWEH elohim ha elohim – Ulangan 10:17.
Dari frase “segala allah” di ayat itu, tersurat jelas bahwa ternyata “elohim” (allah) di Alkitab ada banyak, hingga bisa dikatakan: YAHWEH adalah Allah dari segala allah.
Di ayat lain juga dikatakan:
“Allah (elohim) berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah (elohim) Ia menghakimi, … Aku (YAHWEH) sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah (elohim), dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian” – Mazmur 82:1,6.
“Berfirmanlah YAHWEH kepada Musa: “Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah (elohim) bagi firaun, … “- Keluaran 7:1
Keluaran 22:8-9 terjemahan Indonesia menuliskan: Jika ada kasus pencurian maka penyelesaiannya harus dibawa menghadap “Allah (elohim)”. Sementara untuk kata “Allah / elohim” di ayat itu, Alkitab King James Version menuliskannya dengan kata: “judges” artinya hakim-hakim. Artinya, para hakim di zaman itu yang secara fungsional menjadi wakil YAHWEH, akan disebut juga sebagai “Allah / elohim”.
Sementara menurut kata-kata Yesus sendiri, di kitab Yohanes berbahasa Yunani, disebutkan pula bahwa ‘Penerima dan Pembawa Firman’ juga boleh disebut sebagai “Theos (Allah)” – sebagaimana tertulis: “Kata Yesus kepada mereka: ... kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah [theos]” ( baca: Yohanes 10:34-35). Itu pula sebabnya di Yohanes 1:1 ‘Sang Firman’ –yang mengacu pada sosok Yesus- disebut sebagai “theos” (Yunani: kai theos en ho logos), yang oleh L.A.I diterjemahkan sebagai: [Sang] Firman itu adalah Allah.

Dari Mazmur 82:1,6, Keluaran 7:1, Keluaran 22:8-9 serta Yohanes 1:1 dan Yohanes 10:35 tersebut jelas sekali Alkitab mengungkap secara eksplisit dan implisit, tersurat dan tersirat, bahwa ternyata memang ada banyak pihak yang bisa disebut “elohim / theos / allah” menurut Alkitab.
Nah, pemahaman yang kita dapat tentang adanya banyak “allah / elohim / theos / god” di Alkitab ini, ternyata juga sesuai dengan kesaksian Rasul di Perjanjian Baru:
1 Korintus 8:5: “Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah / theos”, baik di sorga, maupun di bumi – dan memang benar ada banyak “allah /theos” dan banyak “tuhan” yang demikian - …”
Jelas sudah, Alkitab mengungkapkan cukup gamblang istilah “Allah / elohim / theos / god”, dapat dikenakan juga kepada sosok-sosok lain selain Yahweh (selain Allah Sejati) yang secara fungsional mereka tampil sebagai wakil utusan Yahweh. Namun, bagi sebuah pengakuan iman, orang-orang percaya akan mengatakan: Yahweh-lah Allah, tidak ada sesembahan lain selain Yahweh - Kel 20:2-3 (setara: La illaha ilallah). Seperti juga pengakuan iman Rasul Paulus: “Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah / theos”, baik di sorga, maupun di bumi – dan memang benar ada banyak “allah /theos” dan banyak “tuhan” yang demikian – namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa (Yahweh), yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan (lord, kurios, pemimpin) saja, yaitu Yesus Kristus, yang melaluinya (Inggris: through, Yunani: dia) segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena dia kita hidup” – 1 Kor 8:5-6.


“Allah” dan “Tuhan”
Dalam Alkitab, jelas “Allah” tidak boleh sembarang disamakan dengan “Tuhan”. Kata “Allah” (elohim / theos) berarti mahluk ilahi atau sesembahan, sedangkan “Tu(h)an” (adonay / kurios) berarti seseorang yang berkuasa, atau pimpinan atau orang terhormat. Allah pasti Tu(h)an, tetapi Tu(h)an belum tentu Allah. Sesembahan pasti dihormati, tetapi orang yang kita hormati belum tentu kita sembah. Sekali lagi harus diingat betul, kata “Allah” dengan “Tuhan” di Alkitab bukanlah dua kata yang sepadan maknanya!
Nah, setelah bisa membedakan makna kata “Tuhan” dan “Allah” dalam perspektif Alkitab, sekarang kita bisa menelaah lebih jauh tentang makna ke-tuhan-an Yesus dalam Alkitab.

Apa kesaksian Alkitab perihal ke-tuhan-an Yesus?
Perkataan Yesus sendiri, tercatat dalam Yohanes 13:13:
“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan”. Di sini Yesus sendiri mengaku bahwa dia adalah Guru dan Tuhan bagi murid-muridnya. “Guru dan Tuhan” dalam Alkitab bahasa Inggris adalah “Master and Lord” (guru dan tuan). Guru adalah pengajar, Tuan adalah pemimpin.

Kisah 2:32,36:
Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi, … Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus. (Alkitab terjemahan L.A.I)

There let all the house of Israel know assuredly that God has made this Jesus, whom you crucified, both Lord and Christ. (Acts 2:36, King James Version).

Alkitab di ayat itu sangat jelas mengatakan bahwa Allah (God) – lah yang menjadikan Yesus sebagai Tuhan (lord, pemimpin) dan Kristus. Allah (God) yang dimaksud di sini adalah Allahnya Israel yaitu Allah yang di kitab Taurat dikenal dengan nama YAHWEH. Jadi secara Alkitabiah, YAHWEH-lah yang mengangkat Yesus menjadi Tuhan (lord, pemimpin). Yesus menjadi Tuhan (lord, pemimpin) bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi karena diangkat oleh Allah (Yahweh).
Ayat Kisah 2:36 dalam Alkitab RSTNE (Restoration Scriptures True Name Edition) menerjemahkan kata “Theos” (Allah) sebagai “Yahweh”, sedang kata “kurios kai kristos” (Tuhan dan Kristus) sebagai: “Melech and Moshiach” (makna artinya = “Raja dan Mesias/orang yang diurapi Allah”). Maka ketika membaca ayat tersebut, pembacanya akan langsung mendapat pemahaman yang sangat jelas sebab di situ dikatakan bahwa: Yahweh telah membuat Yesus menjadi Raja dan orang yang diurapi-Nya. Yesus oleh Yahweh diurapi menjadi juruselamat.
Yesus adalah Tuhan dan kristus, artinya Yesus adalah pemimpin dan orang yang diurapi menjadi juruselamat manusia, oleh Allah. Hal itu sama juga dengan yang tertulis dalam Kisah 5:31:
“… Dia (Yesus)-lah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi pemimpin (Tuhan) dan juruselamat (kristus)…”
Allah menjadikan Yesus sebagai Tu(h)an (kurios) dan kristus (mesias, penyelamat manusia). Mesias secara fungsional memang adalah ‘pemimpin’, bandingkan Matius 23:10 “..hanya satu Pemimpinmu yaitu Mesias”. Mesias adalah Pemimpin! Memimpin orang kemana? Memimpin orang menuju kepada Allah (Yoh 14:6).
Kisah 2:22 “Yesus dari Nasaret, seorang yang ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan dia di tengah-tengah kamu”. Yesus adalah “agen” (pekerja perantara) dari Allah untuk berkarya menyelamatkan manusia. Dalam karya penyelamatan, Allah adalah “tokoh utama” dan Yesus adalah “agen perantara” yang diutus Allah, maka sesuai yang tertulis dalam surat Yudas 25 mengatakan: “Allah yang Esa (Yahweh), Juru selamat kita melalui (through) Yesus Kristus, Tu(h)an (pemimpin, kurios) kita”. Artinya: Juruselamat/penebus yang sejati adalah Allah (Yahweh) yang Esa, namun Ia berkarya melalui orang yang diurapi-Nya (mesias-Nya) yaitu Yesus, utusan-Nya.

Yesus Kristus Jelas Bukan Allah Sejati (Yahweh)! Statement / ajaran / doktrin dari pendeta-pendeta (teolog-teolog) yang mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah Allah Sejati atau Yahweh yang menjelma jadi manusia, itu jelas suatu statement yang sangat keliru. Kelirunya di mana?
Pertama, dari nama “YESUS KRISTUS” sebenarnya [kalau mau jujur], sudah cukup jelas nama tersebut merepresentasikan bahwa dia bukanlah Allah Sejati, sebab arti dan makna kata “KRISTUS” itu = “orang yang diurapi / disahkan / dilantik oleh Allah (Bapa / Yahweh)”. Yesus Kristus = Yesus yang diurapi oleh Allah (Bapa / Yahweh). Maka, karena Yesus “diurapi / disahkan / dilantik oleh Allah (Bapa)”, tentu dia bukanlah Allah (Yahweh) itu sendiri. Yesus adalah pribadi “yang diurapi / dilantik”, sedangkan Allah (Bapa / Yahweh) adalah “yang mengurapi / melantik”. Yesus adalah utusan, sedangkan Allah adalah “yang mengutus”.
Kalau Yesus dipandang sebagai Allah sejati, maka akan membuat nama (gelar) “Kristus” pada diri Yesus itu gugur maknanya, sebab “YESUS KRISTUS” = “YESUS YANG DIURAPI OLEH ALLAH”. Maka artinya: kalau andai kata benar “Yesus = Allah Sejati” maka nama Yesus Kristus akan menjadi bermakna sebagai “ALLAH SEJATI YANG DIURAPI OLEH ALLAH SEJATI”. Allah Sejati mengurapi Allah Sejati??? Jadi di sini akan ada 2 pribadi Allah sejati di mana Allah yang satu mengurapi / mengesahkan / mengutus Allah yang lain. Nah, pertanyaannya: Apakah benar adanya Allah sejati harus diurapi oleh Allah sejati yang lainnya? Kalau Allah sejati musti diurapi / dilantik / disahkan oleh Allah yang lain maka dengan sendirinya hal itu justru akan menggugurkan kesejatiannya!
Seperti ungkapan “masa jeruk minum jeruk?”, begitu pula mana ada “Allah sejati diurapi oleh Allah sejati?”. Artinya, dia (Yesus) yang diurapi (Kristus) itu jelas bukan Allah sejati adanya, sebab Allah sejati tidaklah perlu diurapi. Allah sejati tidak butuh pengurapan / pengesahan dari siapapun. Sedangkan Yesus, dia jelas-jelas mengalami ‘pengkristusan’ alias pengurapan / pengesahan / pelantikan dari Allah. Di sini jelas dia bukan Allah sejati! Dan lagi pula Alkitab tidak pernah menyatakan adanya lebih dari satu pribadi Allah sejati, apalagi tiga pribadi sebagaimana diajarkan oleh doktrin Tritunggal.
KRISTUS = DIURAPI / DISAHKAN OLEH ALLAH. Maka, YESUS KRISTUS = YESUS YANG DIURAPI / DISAHKAN OLEH ALLAH. Jelas Dia bukan Allah Sejati! Dari nama “Yesus Kristus” jelas terang benderang sudah dengan sendirinya membuktikan Dia bukan Allah sejati adanya. Dengan demikian, jika ada orang-orang yang ngotot mengklaim Yesus sebagai Allah sejati (Yahweh), sebenarnya mereka telah keliru fatal dan tidak layak menyebut Yesus sebagai Kristus. Tidak patut mereka menyebut Kristus, karena kata “Kristus” justru membuktikan secara langsung dan akurat maknanya bahwa dia bukan Allah sejati, melainkan utusan yang diurapi / disahkan oleh Allah. Kesimpulannya tegas: seorang Kristus jelas bukan Allah sejati! Kalau Yesus = Allah sejati, maka dia bukanlah Kristus!
Yang kedua. Hari ini banyak orang mengatakan: “Yesus adalah Allah sejati” atau “Yesus adalah Allah sejati yang menjelma menjadi manusia”. Itu pandangan-pandangan banyak orang yang mengaku Kristen hari ini. Tetapi Saya tegaskan, bahwa sebenarnya orang yang berpandangan semacam itu bukan didasarkan pada Alkitab, melainkan semua itu hanya dihasilkan dari tradisi dan filsafat-filsafat hasil ide-ide pikiran manusia. Itu bukan ajaran Kristen sejati! Seorang Kristen sejati pasti mendasarkan segala ajarannya berdasar Alkitab. Sedangkan bagaimana dengan kesaksian Alkitab tentang siapa Yesus itu? Nah, mari kita lihat, untuk kasus ini, hal yang serupa tercatat sangat jelas di Matius 16:13-17 (baca di Alkitab anda):
Hari itu, di zaman itu, Yesus bertanya kepada orang-orang di sekitarnya kira-kira demikian: Hai sobat-sobat, bapak-bapak, ibu-ibu sekalian, menurut kamu dan menurut orang-orang siapakah aku? Maka orang-orang mulai menjawab dengan ide-ide cemerlang dan pemikirannya masing-masing. Ada yang bilang: “o… Yesus, engkau adalah Yohanes pembaptis”, yang lain berkata “engkau Elia”, “engkau Yeremia”, “engkau seorang dari para nabi”. Ada berbagai ide dan pendapat orang tentang SIAPA YESUS.
Nah, demikian juga kondisinya hari ini, di zaman ini, ketika membahas soal Yesus, ketika ada pertanyaan ‘Siapakah Yesus itu?’ Atau andai kata Yesus datang di zaman ini di hadapan kita, kemudian dia bertanya kepada kita: “Menurutmu siapakah aku?” maka kemungkinan akan banyak pendeta-pendeta dan orang-orang yang akan menjawab demikian:
“o.. Yesus, engkau adalah Allah sejati”
“Engkau adalah Allah sejati yang menjelma menjadi manusia”
Seorang pendeta dengan idenya yang mempesona dan penuh karisma mungkin akan berkata:
“O Yesus, engkau Allah sejati yang karena begitu besar kasihmu akan dunia ini maka demi menyelamatkan manusia, maka bagaikan manusia yang mau menyelamatkan semut ia menjadi semut pula, Engkau Allah sejati rela turun dari surga menjadi manusia dan mati di kayu salib”
Sementara seorang pendeta terkenal penggagas doktrin Trinitas, mungkin akan berkata: ”Yesus engkau adalah pribadi kedua dalam Allah yang memiliki tiga pribadi Tritunggal!”.
Nah, benarkah jawaban-jawaban itu semua? Benarkah ide-ide pikiran yang mengatakan bahwa Yesus adalah pribadi ke-2 dari Allah yang tritunggal adanya? Benarkah ide pikiran yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah sejati yang menjelma menjadi manusia? Benarkah jawaban-jawaban para teolog dan pendeta-itu sesuai dengan kesaksian Alkitab? Sekarang mari kita simak jawaban apakah yang paling tepat dan Alkitabiah untuk pertanyaan ‘Siapakah Yesus?’
Di Matius 16: 16, Simon berkata bahwa Yesus adalah MESIAS (KRISTUS). Yesus adalah Kristus, Yesus adalah seorang yang diurapi oleh Allah! Itu jawaban Simon. Dan apa komentar Yesus sendiri terhadap jawaban Simon tersebut? Ayat 17: “ …berbahagialah engkau Simon, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapaku yang di surga …” Di sini Yesus menegaskan bahwa yang menyatakan kepada Simon bahwa “Yesus itu adalah Mesias (Kristus)” adalah Bapa (Allah Yahweh) yang di surga.
Yesus adalah Mesias / Kristus. Yesus adalah seorang yang diurapi / dilantik oleh Allah, itu bukan pernyataan dari Simon atau manusia, bukan pula pernyataan dari pendeta-pendeta atau teolog-teolog atau filsuf-filsuf, bukan pernyataan dari professor atau doktor-doktor teologi, bahkan itu bukan pernyataan dari Yesus sendiri, tapi, itu adalah pernyataan dari Bapa (Allah) di surga! Allah sendirilah yang menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias! Allah sendiri yang menyatakan bahwa Yesus adalah seorang yang diurapi (disahkan / dipilih / diutus) oleh Allah!
Dalam Injil Matius 16:15-17 ini, Alkitab bersaksi sangat jelas bahwa: tentang ‘Siapakah Yesus itu?’ Allah (Bapa / Yahweh) sendiri menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias (Utusan yang diurapi oleh Allah). Allah (Bapa / Yahweh) dalam Alkitab, tidak pernah menyatakan bahwa Yesus adalah Allah sejati yang menjelma menjadi manusia, tidak pernah! Tapi jelas-jelas Allah menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias (Kristus)! Allah (Bapa / Yahweh) tidak pernah menyatakan bahwa Yesus adalah pribadi ke-2 dari Allah Tritunggal, tidak pernah!!! Tapi Alkitab tegas berulang kali menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Yesus adalah utusan yang diurapi oleh Allah. Nah, kalau Bapa (Allah) sendiri menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias (orang yang diurapi oleh Allah), maka ajaran Tritunggal yang mengklaim Yesus adalah Allah sejati akan tampak jelas tidak sesuai kesaksian Alkitab. Doktrin Tritunggal jelas melompati kesaksian-kesaksian Alkitab!



Kesimpulan: Untuk memahami Alkitab dengan baik dan benar kita musti terlebih dulu paham istilah-istilah di dalamnya. Khususnya istilah “Tuhan” dan “Allah” dalam Alkitab, yang berbeda dengan kitab suci lainnya. Tanpa pemahaman yang tepat maka Alkitab akan terkesan membingungkan – kontradiksi – bahkan ada yang menganggap menyesatkan!

Untuk menjawab pertanyaan: Benarkah Yesus itu Tuhan?, pertanyaan ini bisa di jawab dari dua sudut pandang yang berbeda. Jawabannya akan tergantung dari sudut makna “Tuhan” yang dipahami oleh penanyanya. Pertanyaan tersebut bisa dijawab “benar”, bisa juga “tidak”.
Pertama, (Dijawab: Benar). Bagi orang-orang yang melihat dari perspektif Alkitab atau pandangan secara Alkitabiah, Benarkah Yesus itu Tuhan? akan terjawab: Ya benar! Yesus itu Tuhan (namun harus segera disusul dengan catatan penting bahwa “Tuhan” yang dimaksud adalah “lord” atau “adonay” atau “kurios” atau “tuan” atau “Pemimpin” alias “Bos”). Yesus itu Tuhan = Yesus itu pemimpin.
Kedua, (Dijawab: Tidak). Untuk pandangan orang umum yang menganggap bahwa kata “Tuhan” artinya = “Allah sejati” atau kata “TUHAN” dimaksud sebagai YAHWEH, maka pertanyaan Benarkah Yesus itu Tuhan? akan terjawab: Tidak, Yesus bukan “Tuhan / YAHWEH” melainkan Yesus itu “tuan” alias “pemimpin” yang datang sebagai utusan YAHWEH. Yesus adalah Tuan dan Mesias (orang yang diurapi) oleh Yahweh.

Penting juga dipahami betul, demikian juga ketika ada pertanyaan: Apakah Yesus itu Allah?. Jawabannya akan tergantung juga dari sudut pandang si penanya-nya, sebagai berikut:
Pertama, bagi orang-orang yang memandang dari perspektif Alkitab (dan tentunya mengacu pada istilah kata “Allah/elohim/theos” yang ada di Alkitab), Apakah Yesus itu Allah (elohim / theos)? Jawabannya adalah: Ya! Yesus adalah termasuk golongan “elohim” atau “theos” yang bermakna sebagai ‘Penerima dan Pembawa Firman’ (baca: Yohanes 10:35, Yohanes 1:1), yang begitu juga halnya dengan Musa sebagai “elohim” (baca: Keluaran 7:1), Hakim-hakim sebagai “elohim” (baca: Keluaran 21:6; 22:8-9), atau pun mahluk-mahluk surgawi yang juga disebut sebagai “para elohim” (baca: Mazmur 82:1 dan 6).
Kedua, bagi pandangan orang umum yang biasanya memaknai kata “Allah” dalam arti “Allah Sejati” (The true God) atau dengan maksud menunjuk pada “Satu-satunya Allah yang benar”, maka pertanyaan Apakah Yesus itu Allah? jawabannya jelas adalah: Bukan! Yesus bukan Allah Sejati, tetapi Yesus adalah utusan dari Allah yang sejati. Satu-satunya Allah yang benar (Allah sejati, The True God) adalah YAHWEH (atau Bapa), yaitu Allah yang mengutus Yesus, sebagaimana ada tertulis:
Inilah hidup yang kekal itu, mengenal Bapa (maksudnya: Yahweh) sebagai SATU-SATUNYA ALLAH YANG BENAR, dan mengenal Yesus Kristus utusan Allah (baca: Yohanes 17:3). Yesus sendiri bersaksi bahwa YAHWEH yang oleh Yesus disebut “Bapa” itu adalah Allahnya Yesus dan juga Allah kita (Yohanes 20:17b: “..Aku [Yesus] akan pergi kepada Bapaku dan Bapamu, kepada Allahku dan Allahmu” ).
YAHWEH adalah Allah segala allah, YAHWEH adalah elohim dari segala elohim (baca: Ulangan 10:17)
YAHWEH adalah Allah (elohim) yang benar (baca: Yeremia 10:10).


*Catatan Penting: baca Alkitab L.A.I bagian kamus (halaman belakang Alkitab anda, sebelum gambar Peta), pada entri kata “TUHAN” (T-U-H-A-N huruf besar) menjelaskan: kata “TUHAN” adalah salinan dari nama Allah Israel, yaitu Yahweh.

Kemudian soal adanya ayat-ayat Alkitab (yang sering ditafsirkan bahwa Yesus adalah Allah Sejati) yang biasanya menjadi bahan perdebatan antara penganut Trinitas dan AntiTrinitas, selengkapnya silahkan baca buku: MENJAWAB DOKTRIN TRITUNGGAL, Frans Donald, Borobudur Indonesia Publishing, 2007/2008.

5 comments:

GK said...

Anda mengakui "allah" israel = YAHWEH,

apakah 'allah'nya orang Arab (muslim) juga YAHWEH?

apakah 'allah'nya Israel = 'allah'nya kaum Muslim?

saya tidak lagi mengunakan kata "allah", melainkan ganti menjadi 'tuhan'.
saya menyebut Tuhan Yahweh, bukan Tuhan Allah,

salam
www.gkmin.net

DEDE WIJAYA said...

APAKAH YESUS ALLAH?
Filed under: teologi sistematik — admin @ 1:45 am

fides reformata perspective
Menanggapi Danny Meilandy
oleh : Pdt. Rudolfus Antonius

Membaca Gloria edisi 285/Minggu IV Januari 2006 hal 31 membuat saya tergelitik. Sangat menarik, sebuah tabloid Kristen memuat – dalam rubrik ‘Refleksi’ – tulisan seorang yang menyebut dirinya ‘kristolog muslim dari Madura’. Tulisan tersebut adalah buah karya dari Sdr. Danny Meilandy, yang bertajuk “Apakah Yesus Allah”.

Bagi saya, hal ini sangat menggembirakan. Nampaknya kita, setidak-tidaknya saudara-saudara di tabloid Gloria, membuka pintu dengan berlapang dada dan berbesar jiwa, untuk berdialog dengan kawan-kawan yang berkepercayaan lain. Kita ingin mendengarkan secara langsung pandangan mereka tentang pokok-pokok keyakinan kita. Dan sebaliknya, kita juga bersedia dengan santun dan gembira mengemukakan dan menjelaskan isi keyakinan kita kepada mereka. Setiap pihak berkesempatan mengapresiasi pandangan dan keyakinan pihak lain, pun mengkritisi dengan penuh rasa hormat. Itulah, saya kira, yang akan mempercerdas umat beragama. Besar harapan saya hal yang sama juga dilakukan oleh kawan-kawan di tabloid muslim.

Terus terang, saya sangat menghargai buah pikiran Sdr. Danny Meilandy. Sebagai ‘kristolog muslim’, Sdr. Danny coba mendekati Kristologi dengan datang langsung kepada Alkitab. Kawan kita ini melakukan tafsir terhadap teks-teks sebuah kitab suci yang diyakini sebagai firman Allah oleh umat kristiani.

Kendati demikian, sebagai seorang Kristen yang oleh anugerah-Nya semata dipanggil untuk menjadi gembala sebuah jemaat, terdoronglah saya untuk membuat beberapa catatan terhadap buah karya Sdr. Danny Meilandy. Tujuan saya, pertama, menjernihkan pemahaman kita bersama tentang Kristologi kristiani sendiri, yakni yang berakar dalam kesaksian Alkitab dan diekspresikan dalam formula-formula pengakuan iman bapa-bapa Gereja sebagaimana dianut oleh Gereja Kristen yang historik, serta ditegaskan kembali oleh para reformator Protestan.

Kedua, saya bermaksud menunjukkan bahwa pendekatan yang selektif terhadap teks-teks Alkitab akan menghasilkan konsepsi yang pincang, yang lebih merupakan karikatur daripada kebenaran yang dimaksudkan oleh Alkitab sendiri. Kawan kita Danny mengaku diri sebagai kristolog muslim. Ia berkristologi dengan menggunakan ayat-ayat Alkitab dengan menggunakan prapaham tentang Yesus yang sudah ada dalam benaknya sebagai seorang muslim yang tentu saja menganut Al-Quran sebagai firman Allah dan ajaran Islam tentang Yesus. Karena itu tak heran, pendekatannya terhadap Alkitab selektif. Ia menggunakan ayat-ayat yang mendukung prapahamnya. Ayat-ayat tersebut dicabut dari konteks sastrawi dan teologisnya, lalu ditafsirkan menurut prapahamnya. Sementara ayat-ayat yang tidak bersesuaian dengan prapahamnya dilewati,atau malah dinyatakan tidak otentik – dengan merujuk pada referensi yang tidak dibaca secara utuh. Menurut pendapat saya, ‘proyek’ kristologi semacam ini tidak konstruktif, juga tidak jujur. Seorang kristolog hendaknya terdorong untuk mengenal atau bahkan lebih mengenal figur Kristus, baik melalui pernyataan iman gerejawi, maupun – kalau memungkinkan – dari sumber-sumber yang terdini tentang Yesus. Boleh-boleh saja seorang kristolog menggunakan metode kritis terhadap Alkitab, misalnya dengan menelusuri traditiongeschichte alias sejarah tradisi iman di balik teks-teks Perjanjian Baru. Analisis-historis, analisis-bentuk, analisis-sumber-sumber juga sah digunakan. Akan tetapi seorang kristolog sejati tidak akan membaca sebuah teks untuk menyesuaikan teks tersebut dengan prapahamnya sendiri. Sesungguhnya, ia tidak akan semakin mengenal figur Kristus. Ia hanya sekadar tahu tentang sejumlah ayat tentang Yesus yang bila dicabut dari konteks sastrawi dan teologisnya sesuai dengan prapahamnya sendiri.

Ketiga, saya merindukan semakin banyak umat Kristen bergairah untuk belajar teologi. Tentu, hal ini bukan berarti setiap orang Kristen harus menempuh pendidikan formal di sekolah tinggi theologia. Tetapi setiap orang Kristen berhak mengerti dengan sungguh-sungguh pokok-pokok kepercayaannya, sebagai bagian dari amaran Kristus “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22.37). Juga, setiap orang Kristen wajib bersiap sedia “pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu”. Tentunya harus “dengan lemah lembut dan hormat” (1Pet 3.15). Dengan belajar teologi, baik teologi sistematika (dogmatika) maupun biblika, kita semakin mengenal kepada Siapa kita percaya dan mengerti apa yang kita percaya, bahkan menghidupi keyakinan kita dengan bersaksi penuh gembira.

Berikut beberapa catatan saya tentang tulisan Sdr. Danny, “Apakah Yesus Allah”.

1. Data-data tekstual yang menyebutkan perbedaan antara Yesus dengan Allah

Kawan kita Danny menginventarisir dan menafsirkan data-data yang menunjukkan perbedaan antara Yesus Kristus dengan Allah. Hal itu disajikannya seraya mengatakan bahwa Alkitab ‘sangat teliti dalam membedakan antara ALLAH ini dengan Yesus Kristus’ (Terimakasih, Bung Danny, pengakuan Anda tentang ketelitian Alkitab – setidaknya soal perbedaan antara Yesus dan Allah – adalah konstruktif untuk berdialog). Data-datanya sebagai berikut:

… Allah lebih besar daripada Yesus (Yoh 14.28), Allah lebih baik daripada Yesus [?] (Mrk 10.18), Yesus berteriak memanggil Allah (Mrk 15.34), Yesus bersyukur kepada Allah (Mat 11.25), Yesus diutus oleh Allah (Yoh 17.3), Yesus tidak mengetahui hal-hal yang diketahui oleh Allah (Mrk 13.32), Yesus berada di sebelah kanan Allah (Luk 22.69), Yesus menerima wahyu dari Allah (Yoh 8.26, 17.8), Yesus disetir oleh Allah [?] (Yoh 5.30), Yesus takluk di bawah Allah (1Kor 15.28), Yesus menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah (Luk 23.44-46), dan ketika Allah mengeluarkan suara-Nya dari dari sorga, Yesus berada di sungai Yordan (Mrk 1.10-11).

Perlu kita pahami bersama, bahwa Gereja Kristen yang historik, baik itu Gereja Katolik Roma, Gereja Ortodoks Timur, Gereja-gereja Asia Barat, dan Gereja-gereja Reformasi, meyakini perbedaan antara Allah dengan Yesus Kristus. Allah, yang sering disapa ‘Bapa’ oleh Yesus, jelas bukan pribadi yang sama dengan Yesus Kristus. Perbedaan pribadi antara Allah Sang Bapa dengan Yesus Kristus merupakan keyakinan iman yang am. Hanya para bidatlah yang mengajarkan bahwa Allah Sang Bapa merupakan pribadi yang sama dengan Yesus Kristus. Dan Gereja Kristen yang historik menentang hal itu.

Gereja Kristen yang historik juga tidak menolak kesaksian Alkitab bahwa Allah Sang Bapa lebih besar daripada Yesus Kristus. Menurut Alkitab, bahwa Sang Bapa lebih besar daripada Kristus merupakan salah satu bentuk relasi antara Sang Bapa dengan Kristus. Itulah relasi antara Yang Mengutus dan Yang Diutus. Sebagai Yang Diutus, kedudukan Yesus adalah sebagai Mesias, ‘Yang Diurapi’ atau yang ditahbiskan alias dinobatkan oleh Allah. Tatkala Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, Allah menahbiskan Yesus (Mat 1.11) sebagai Mesias Raja (‘Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi’, bdk. Mzm 2.7) dan Mesias Hamba (‘kepada-Mulah Aku berkenan’, Yes 42.1).

Mengekspresikan penghayatan akan perutusan-Nya, Yesus sendiri gemar menyebut diri-Nya ‘Anak Manusia’, suatu istilah yang sarat-makna. Ditinjau dari akarnya di dalam tradisi apokaliptik (berawal dari Dan 7.13-14), Yesus menggunakan sebutan itu untuk mencirikan kemesiasan rajawi-Nya. Sedangkan bila ditinjau dari penggunaan sehari-hari, sebutan itu lebih mencirikan kemesiasan hambawi-Nya, yang solider dengan sesama yang tertindas, bahkan mengalami kehinaan sebagai yang tertindas guna menjadi tebusan pengganti bagi banyak orang (lihat Mrk 10.45).

Selaku Mesias, Yesus memang menjalani dua tahap. Pertama, tahap perendahan-Nya, di mana aspek hambawi-Nya lebih mengemuka, sementara aspek rajawi-Nya agak terselubung. Kedua, tahap peninggian atau pemuliaan-Nya, di mana aspek rajawi-Nya lebih mengemuka. Tahap perendahan itu berlangsung seumur hidup-Nya sampai kematian-Nya, sedangkan tahap peninggian berlangsung sejak kebangkitan-Nya, yang disusul dengan kenaikan-Nya ke sorga dan pencurahan Roh Kudus (simak Mat 28.18, juga Kis 2.22-36).

2. Arti gelar Tuhan untuk Yesus

Kawan kita Danny menjabarkan arti gelar ‘Tuhan’ yang lazim kita pergunakan untuk menyapa Yesus Kristus. Menilik bahasa aslinya, kurios, kawan kita ini mengemukakan bahwa sebutan itu sepadan dengan gelar ‘Tuan’ dalam bahasa Indonesia atau ‘Gusti’ dalam bahasa Jawa.

Kurios bisa digunakan untuk menyapa ‘orang-orang yang terhormat seperti: Kaisar, Raja, Dokter, Filsuf dan orang terpandang lainnya’. Bisa digunakan untuk menyapa dewa-dewa Yunani, seperti ‘Zeus, Bacchus (Dyonisus)’. Rupanya, ‘ratusan dewa lainnya juga disebut Kurios’. Bahkan, ‘kepada ALLAH (ELOI) pun mereka menyebut-Nya dengan panggilan Kurios’. Akhirnya, ‘Sebutan Kurios ini juga merupakan sapaan sopan terhadap sesama manusia’. Danny merujuk pada Luk 16.8, yang ‘dalam bahasa Yunani menceritalam bahwa seorang pembantu memanggil majikannya dengan sebutan Kurios’.

Implikasinya jelas. Mestinya – menurut Sdr. Danny – Yesus itu disapa ‘Tuan’, bukan ‘Tuhan’. Bung Danny pun menyayangkan ‘kata Kurios yang berarti Tuan ini diterjemahkan Tuhan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)’.

(Bagi saya ini menarik sekali, LAI, sebuah lembaga penerjemah dan penerbit Alkitab yang terdiri dari sejumlah pakar dalam bahasa-bahasa asli san sejarah kuna Alkitab yang sanggup menelisik penggunaan suatu kata secara diakronik maupun sinkronik, disesalkan oleh Sdr. Danny. Bukan tidak mungkin Sdr. Danny memiliki kepakaran yang mengungguli kaum penerjemah LAI).

Saya setuju dengan observasi Danny terhadap penggunaan kata kurios, tuan. Bahkan saya tidak keberatan kalau Cak Danny menyebut Yesus itu ‘Tuan Yesus’. Akan tetapi saya menyayangkan, Danny tidak membahas mengapa Yesus sampai disebut kurios oleh Gereja Kristen Perdana (the early Church) dan Perjanjian Baru. Lalu muatan apa yang terkandung di dalam kata kurios itu, manakala Gereja Kristen Perdana dan Perjanjian Baru menggunakannya. Observasi istilah secara sinkronik dan diakronik Danny tentu saja baik, namun harus dilengkapi dengan penelusuran terhadap perkembangan pemahaman Gereja Kristen Perdana tentang Yesus sebagaimana terekam di dalam Perjanjian Baru.

Selanjutnya sobat kita ini merujuk pada versi Alkitab King James (KJV) alias Authorized Version (AV) dari tahun 1769, yang di dalamnya ‘Yesus disebut Lord (Tuan) bukan God (Tuhan), Yesus Lord (Tuan) bukan Lord God (Allah)’. Menarik juga. Tapi saya menemui kesulitan untuk menyetujui Bung Danny. Persoalannya, bagaimana Sdr. Danny bisa yakin bahwa kata ‘Lord’ dalam KJV secara semantik harus diartikan ‘Tuan’ dan bukan ‘Tuhan’, sedangkan ‘God’ berarti ‘Tuhan’, dan ‘Lord God’ berarti ‘Allah’?

Bagaimana misalnya dengan Yoh 20.28 saat Tomas si bimbang akhirnya percaya kepada Yesus dan menyapa Sang Guru “Ya Tuhanku dan Allahku”? Bukankah dalam KJV kita membaca: And Thomas answered and said unto him, My Lord and my God. Sedangkan dalam Novum Testamentum alias Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani, pada ayat yang sama kita membaca: avpekri,qh Qwma/j kai. ei=pen auvtw/|\ o` ku,rio,j mou kai. o` qeo,j mou (garis-bawah dari saya, RA). Perhatikan: Tomas memang memanggil Yesus dengan sebutan kurios, bahkan kurios-ku, my Lord. Baiklah, terjemahkan saja dengan ‘tuanku’. Tapi ia juga menyebut Yesus [o` qeo,j mou], my God. Diterjemahkan ‘Allahku’? Itu LAI. Diterjemahkan ‘Tuhanku’? Bukti tekstual ini menganulir ‘pembuktian’ Danny dari KJV. (Lebih menarik lagi, Yesus tidak membantah atau mengoreksi sapaan Tomas terhadap dirinya, o` ku,rio,j mou kai. o` qeo,j mou.)

Kita boleh mengindra, nampaknya terjadi kekacauan semantik dalam penggunaan kata ‘tuan’, ‘Tuhan’, dan ‘Allah’. Kekacauan semantik terjadi ketika orang mencampuradukkan penggunaan kata-kata tersebut tanpa mempedulikan bagaimana dua tradisi religius yang berbeda, yakni Kristen Indonesia dan Muslim Indonesia, memahami kata-kata tersebut. Bung Danny menerapkan pemahamannya sebagai seorang muslim Indonesia terhadap kata-kata yang dipergunakan dengan pengertian yang berbeda dalam tradisi Kristen Indonesia. Akan segera kentara bahwa Gereja Kristen Perdana menghayati kurios sebagai gelar mesianik Yesus dari Nazaret: ku,rioj VIhsou/j Cristo.j eivj do,xan qeou/ patro,j, Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Fil 2.11, TB-LAI)

3. Yesus dan Allah adalah satu

Mengutip Yoh 10.30, 38, Sdr. Danny berkata, “Kebanyakan orang Kristen awam mengartikan dua ayat diatas secara hurufiah bahwa Allah Yang Mahakuasa berada di dalam tubuh manusia Yesus Kristus.”

Perlu kita kemukakan bahwa pandangan bahwa ‘Allah Yang Mahakuasa berada di dalam tubuh manusia Yesus Kristus” bukanlah keyakinan Gereja Kristen yang historik. Bahkan Gereja Kristen yang historik menentangnya sebagai bidat. Sebut saja bidat Apolinaris, yang mengajarkan bahwa Yesus Kristus itu berbadan dan berjiwa manusia, tetapi didiami oleh Roh Yang Ilahi. Katakan juga versi karikatur kristologi Nestorian, bahwa Yesus Kristus adalah dua pribadi dalam satu tubuh, pribadi insani dan pribadi ilahi.

Lanjut Danny: “Kalau dua ayat ini digunakan sebagai alasan pemenuhan bahwa Yesus Kristus adalah Allah maka alasan yang demikian sangatlah tidak berdasar, sebab dikatakan pula dalam Alkitab bahwa tidak hanya Yesus yang bisa satu dengan Allah tetapi murid-murid Yesus (Yoh 17:21) dan kitapun bisa satu dengan Allah (1Yoh 4.15).” Dan, “Menyatu bukan secara dzat (esensi) tetapi dalam visi dan misi karena terbukti saat Yesus berada di sungai Yordan Allah tetap berada di sorga dan mengeluarkan suara-Nya (Mrk 1.10-11).”

Kita dapat menyetujui Sdr. Danny bahwa dalam ayat-ayat itu kesatuan antara Yesus Kristus dan Allah adalah kesatuan visi dan misi. Kita pun dapat bersatu dengan Allah dalam visi dan misi. Tapi tetap ada perbedaan. Kesatuan visi dan misi Yesus dengan Allah karena secara hakiki Ia adalah ‘Anak Tunggal Allah, yang berada di pangkuan Bapa’ (Yoh 1.18), yang ‘telah turun dari sorga … untuk melakukan kehendak Dia, yang telah mengutus Aku’ (Yoh 6.38). Sedangkan kita bersatu visi dan misi dengan Allah melalui iman yang menjadikan kita milik Kristus. Inilah ajaran unio mystica atau persatuan spiritual antara orang percaya dengan Kristus dan karena itu dengan Allah pula, yang mungkin luput dari observasi Sdr. Danny.

4. Yesus adalah Jalan Kebenaran

Bagaimana dengan klaim Yesus bahwa Dia adalah Jalan dan Kebenaran dan Hidup dalam Yoh 14.6? Bung Danny berkomentar: “Menurut ayat diatas tujuan akhir kita dalah Bapa dan Yesus hanyalah jalan menuju ke sana.”

Menarik. Jelas, Sdr. Danny melemahkan klaim Yesus yang tidak ada taranya itu. Berarti Yesus hanyalah jalan menuju Allah. Padahal, “Setiap nabi yang pernah ada misinya adalah untuk mengajak umat manusia berada di jalan Allah, sehingga bisa dekat dan sampai kepada Allah.”

Baiklah. Tetapi mengapa hanya Yesus yang pernah menyatakan diri-Nya sebagai jalan menuju Allah? Mengapa nabi-nabi agung lainnya tidak? Barangkali Bung Danny kurang teliti dengan kata-kata yang ditulisnya sendiri. Sebab – sesuai dengan kata-kata Danny sendiri – “setiap nabi yang pernah ada misinya adalah untuk mengajak umat manusia berada di jalan Allah…” Padahal, bukankah Yesus sendiri menyebut diri-Nya jalan? Tanpa menyangkali perbedaan antara Yesus dan Allah, bukankah jelas bahwa Yesus memiliki kualitas yang berbeda – lebih tinggi – daripada nabi-nabi agung penunjuk jalan itu?

Lalu, dengan cerdik Danny memberikan tafsiran terhadap klaim Yesus itu: “Dan pernyataan Yesus bahwa tak seorangpun sampai kepada Bapa kalau tidak melalui dia ini sangatlah tepat sekali karena dialah satu-satunya nabi saat itu sedang nabi Zakaria dan Yohanes Pembaptis sudah mati terbunuh.”

Lagi, tafsiran yang menarik. Akan tetapi perlulah kita renungkan mengapa Yesuslah satu-satunya nabi yang menyebut Allah ‘Bapa-Ku’ dan berulangkali menyebut diri-Nya Anak dari Sang Bapa? Mengapa Zakaria dan Yohanes Pembaptis tidak, demikian pula semua nabi agung? Apalagi dalam bahasa Arami, bahasa yang lazim digunakan oleh Yesus dan masyarakat-Nya, kata Bapa, Yun, path,r, pat?r, adalah abba, suatu sapaan akrab-mesra meski sarat hormat. Kecuali Yesus, tidak ada nabi agung yang menyapa Allah dengan panggilan itu. Setelah Yesus, orang-orang Kristen memanggil Allah sebagai Bapa atas dasar Yesus Kristus, unio mystica itu (simak Rom 8.14-17).

Juga, luputkah Mat 11.25-27/Luk 10.21-22 dari pengamatan Cak Danny? Bukankah dalam Mat 11.27 itu Yesus berkata kepada Allah: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”

Lagi-lagi benar, Yesus adalah pribadi yang berbeda dengan Allah, Sang Bapa. Tapi posisi Yesus dalam hubungan manusia dengan Allah sangatlah unik, tidak terbandingkan dengan nabi-nabi agung lainnya. Siapakah nabi agung yang pernah mengatakan “semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku?” Musakah? Tidak. Siapakah nabi agung yang pernah berkata “tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.” Daudkah? Yesayakah? Yeremiakah? Zakhariakah? Yohanes Pembaptiskah? Kejujuran akan menjawabA: tidak ada! Hanya Yesus saja!

5. Yesus duduk di sebelah kanan Allah

Mengenai ‘Yesus duduk di sebelah kanan Allah’ (Luk 22.69), sobat Danny menyitir pandangan Pdt. Jusuf BS: “Pada waktu Putra Manusia (Yesus) bangkit dari kematian, Ia kembali di sebelah kanan Allah Bapa dalam posisi sebagai Allah.” Lalu komentarnya, “Kalau keberadaan Yesus di sebelah kanan Allah menyebabkan penyebutan Allah kepada Yesus, lalu bagaimana dengan tentara-tentara sorga yang disebutkan juga di dalam Alkitab bahwa mereka pun berada di sebelah kanan Allah? (1 Raj 22.19)”

Saya setuju dengan sobat Danny bahwa perihal duduknya Yesus, Anak Manusia itu, di sebelah kanan Allah, tidak dapat menjadi dasar untuk menyatakan Yesus sebagai Allah. Naiknya Yesus ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah harus dipahami dalam konteks mesianik. Kemesiasan Yesus adalah kemesiasan hambawi yang menderita dan kemesiasan rajawi yang memerintah sorga dan dunia selaku mandataris Allah. Sebagai Mesias Hamba, Ia menjalani tahap kehinaan dan penderitaan sampai mati di kayu salib. Tahap pemuliaan-Nya mulai saat kebangkitan. Kenaikan-Nya ke sorga berarti pentakhtahan-Nya sebagai Mesias Rajawi. Dengan kata lain, Yesus naik takhta sebagai Mesias Rajawi. Sedangkan duduk di sebelah kanan Allah berarti Sang Mesias, mandataris kepercayaan Allah itu, memerintah atas nama Allah (lihat Mzm 110.1; 1Kor 15.24-28). Jadi, bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Allah tidak menunjukkan bahwa Dia Allah, tetapi menunjukkan kedudukan-Nya sebagai Mesias Raja yang memerintah demi Allah.

Sedangkan mengenai ‘tentara-tentara sorga yang disebutkan juga di dalam Alkitab bahwa mereka pun berada di sebelah kanan Allah’, kita perlu memperhatikan seutuhnya kesaksian Nabi Mikha bin Yimla: “Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas takhta-Nya dan segenap tentara sorga berdiri di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya dan di sebelah kiri-Nya.” Kita dapat segera mafhum, itulah gambaran tentang TUHAN sebagai Raja yang dikawal oleh segenap bala tentara sorga, ‘ada yang di sebelah kanan dan ada juga yang di sebelah kiri-Nya’.

6. Yesus menebus dosa manusia

Kawan kita Danny menyoal keyakinan Kristen bahwa Yesus menebus dosa manusia. Ia mengutip Yoh 6.54, 56 dan Mat 26.28. Katanya, “Beberapa ayat di atas memang berisikan cara atau jalan keselamatan, tetapi apakah dengan minum darah dan makan daging Yesus dalam arti kata yang sesungguhnya? Ingat, menurut Alkitab darah jenis apapun itu adalah haram (Im 7.26). Juga dalam menyampaikan ajarannya Yesus selalu menggunakan kata-kata perumpamaan yang bahkan kadang murid-muridnya sendiri saja kebingungan mengartikannya …”

Sempat tersenyum geli juga saya membaca kata-kata Danny, apalagi ketika sobat kita ini mengutip Im 7.26 sembari mengingatkan kita bahwa dalam menyampaikan ajarannya Yesus selalu menggunakan kata-kata perumpamaan. Aha, memang Yesus sering mengajar dengan menggunakan perumpamaan. Tapi tidak selalu. Kita semua mafhum tentang hal itu. Tentu saja kita setuju bahwa Yoh 6.54, 56 merupakan kiasan. Baik. Makan daging Anak Manusia dan minum darah Anak Manusia adalah kiasan. Tapi soalnya, yang tidak dijelaskan oleh Danny, kiasan tentang apa? Kiasan tentang iman alias penyerahan hidup secara total kepada Yesus Kristus. Simak saja dari uraian Yesus sendiri menurut konteksnya.

Orang-orang Yahudi mengagung-agungkan mukjizat pemberian manna kepada nenek moyang mereka sementara mengembara di padang gurun di bawah pimpinan Musa. Sebaliknya, Yesus menunjukkan bahwa faedah manna bersifat sementara. Manna adalah makanan jasmani, tidak memberikan hidup yang kekal atau keselamatan kepada orang-orang yang memakannya. Tidak demikian halnya dengan roti hidup, demikian Yesus mengumpamakan diri-Nya (6.35, 48, 51). ‘Roti hidup’ adalah roti yang telah turun dari sorga (6.51, 58). Faedahnya kekal, memberikan hidup yang kekal bagi setiap orang yang memakannya. Tentulah ‘roti hidup’ itu merupakan kiasan. Ya, kiasan tentang Yesus. Kalau begitu, ‘memakan roti hidup’ tentunya kiasan pula.

Jadi, apa arti ‘memakan roti hidup’? Di sinilah kita perlu mengerti tentang paralelisme, suatu cara bertutur yang menggunakan istilah-istilah yang berbeda namun bermuatan hampir sama guna mengekspresikan kekayaan pikiran sang pembicara. Dalam 6.58, Yesus berkata, “Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Dalam 6.35, “barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” Kita lihat kesejajaran: ‘makan roti ini’, ‘datang kepada-Ku (Yesus)’, ‘percaya kepada-Ku (Yesus). Juga: ‘ia akan hidup selama-lamanya’, ‘ia tidak akan lapar lagi’, dan ‘ia tidak akan haus lagi’.

Simak lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab, daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia… barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.”

Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai roti hidup, kemudian bicara tentang daging dan darah-Nya. Dengan begitu Yesus menyatakan bahwa Ia datang ke dunia untuk memberikan diri-Nya secara total melalui pengurbanan yang mencapai puncaknya pada sengsara dan kematian di kayu salib. Ya, Yesus memberikan diri-Nya secara total untuk keselamatan manusia berdosa. Sungguh, Dialah ‘roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia’ (6.33). Datang kepada Yesus, percaya kepada-Nya, itulah artinya ‘makan daging dan minum darah’ Anak Manusia. Melalui percaya atau iman itulah kita beroleh keselamatan alias hidup yang kekal.

Danny juga mengutip kata-kata penetapan Perjamuan Kudus dari Mat 26.28: “Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” Di sinilah dikemukakan secara ringkas tentang jalan pengampunan dosa bagi umat manusia. Kristus menyebut darah-Nya sebagai darah perjanjian. Bukankah itu mengingatkan kita pada upacara kuno yang dipimpin Nabi Musa manakala ia mengikat perjanjian antara TUHAN dengan bangsa Israel? Bacalah Kel 24.1-8. Perhatikan ay 8: Kemudian Musa mengambil darah itu (lihat ay 5, darah lembu jantan) dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini (lihat ay 7).”

Apakah artinya kata-kata Yesus dalam Mat 26.28? Allah mengadakan perjanjian dengan banyak orang berdosa. Perjanjian itu mengikatkan orang-orang berdosa dengan Allah. Mereka menjadi umat-Nya. Dengan kata lain Allah menerima orang-orang berdosa untuk menjadi umat-Nya. Penerimaan itu bercirikan pengampunan atas dosa-dosa mereka. Adapun dasar pengampunan tersebut adalah darah Yesus. Hal ini berkenaan dengan sifat Allah yang mahakudus-adil dan kasih. Dengan kasih-Nya Ia bersedia menerima orang berdosa, namun kekudusan dan keadilan-Nya yang tidak berkompromi dengan dosa itu harus terlaksana pula. Yesus Kristuslah satu-satunya yang dapat memenuhi tuntutan kekudusan dan keadilan Allah. Melalui sengsara dan kematian-Nya di kayu salib, Ia menanggung murka Allah sebagai demi orang-orang berdosa. Sengsara dan kematian-Nya itu diungkapkan dengang kata-kata “Inilah darah-Ku, darah perjanjian”. Karena tuntutan kekudusan dan keadilan Allah terpenuhi, bukan oleh orang-orang berdosa, tetapi oleh Yesus Kristus, maka Allah menerima orang-orang berdosa, mengampuni mereka dan menjadikan mereka umat-Nya. Nah, setiap kali kita merayakan Perjamuan Kudus, kita diingatkan akan kata-kata dan karya Yesus Kristus: pengampunan atas dosa-dosa kita semata-mata berdasarkan pengurbanan Kristus.

Itulah ajaran Yesus. Sangat dalam? So pasti. Kata Danny, “bahkan murid-muridnya sendiri saja kebingungan mengartikannya…”

Wah, Yesus pun menyadari hal itu. Karena itu Ia berkata kepada mereka: “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya” (Yoh 16.12). Syukurlah, Yesus menjanjikan datangnya Roh Kebenaran, yang ‘akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran … segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya daripada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya daripada-Ku” (16.13-15).

Yesus juga pernah berkata kepada murid-murid-Nya: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (14.25-26). Puji Tuhan! Roh Kudus itulah yang kemudian menerangi rasul-rasul Kristus sehingga mereka mengerti betul ‘peristiwa Yesus’, sehingga mereka dapat memberitakan kebenaran tentang Kristus dan karya-Nya sebagai kabar baik!

Danny pun tak lupa menyinggung soal Rasul Paulus: “…apalagi Paulus yang tidak pernah bertemu dengan Yesus dan tidak pernah belajar ilmu Injil dari Yesus? Paulus mengajarkan bahwa penebusan dosa bisa diperoleh hanya cukup dengan beriman kepada penyaliban Yesus mencucurkan darahnya di salib (Efesus 1:7). Sedang Yesus mengajarkan bahwa penebusan dosa itu adalah dengan menyesal dan bertobat kepada Allah (Mat 4:17, Luk 15:7).”

Klise sebetulnya, mempersoalkan perbedaan Paulus dengan Yesus seolah-olah ada pertentangan di antara mereka. Itulah faham liberal tempo dulu gaya Adolf von Harnack. Syukurlah, penelitian yang kian mendalam tentang Perjanjian Baru dan Kekristenan Perdana justru memperlihatkan yang sebaliknya. Agaknya Danny tidak tahu tentang konsep paradosis alias tradisi iman injili yang sangat kuat di Gereja Kristen Perdana itu. Bahkan Paulus pun tunduk pada paradosis itu. Ajarannya harus diuji apakah selaras dengan paradosis atau pengajaran Injil murid-murid Kristus sendiri. Siapapun, termasuk dirinya, tidak boleh mengajarkan hal lain, entah memodifikasi entah bertentangan dengan paradosis itu. Simak misalnya 1Kor 15.3-7, yang berisikan paradosis Gereja Kristen. Simak juga Gal 2.6-10 dan Gal 1.6-10. Tidak ada alasan untuk menuduh Paulus membikin ‘injil’nya sendiri, yang berbeda bahkan bertentangan dengan Yesus dan rasul-rasul-Nya yang lain.

Yesus sendiri juga memandang diri-Nya sebagai tebusan pengganti: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.” Kata yang digunakan untuk ‘tebusan’ adalah lu,tron avnti. (lutron anti). Sementara lu,tron berarti sarana penebusan atau sarana pembebasan, preposisi-genitif avnti berarti ‘bagi’, ‘pada tempat’, ‘alih-alih’, ‘demi kepentingan’, ‘karena’. Gunakan kata-kata itu dalam kalimatnya. Maksud kata-kata Yesus jelas: Ia sendiri menyadari tujuan kedatangan-Nya, yakni untuk menjadi Penebus, dan dengan demikian menjadi jalan satu-satunya bagi manusia berdosa untuk datang kepada Bapa.

7. Yesus Firman yang jadi manusia

Last but not least, Sdr. Danny mengomentari Yoh 1.1, 14. Katanya, kedua ayat tersebut ‘tidak menunjukkan ucapan Yesus’. Sebab, katanya ‘setiap perkataan Yesus dalam Alkitab selalu diberi tanda kutip dan ayat ini tidak ada tanda kutipnya.’

Saya setuju bahwa kedua ayat terebut bukan ucapan Yesus. Tapi mohon perhatikan catatan teknis ini: dalam teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani alias bahasa aslinya, kita tidak akan menjumpai tanda kutip yang menandai kalimat langsung. Jadi meskipun tujuannya benar, dasar keberatan Danny tidak relevan.

Selanjutnya lagi Sdr. Danny menggunakan pendekatan yang sangat selektif untuk membuktikan bahwa faham yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri. Kata Danny, “Tetapi apakah Yesus mengajarkan hal yang demikian kepada muridnya bahwa firman itu adalah Allah? Kalau menurut Yesus sendiri firman itu berarti ucapan yang keluar dari mulut Allah (Mat 4:4). Memang firman itu selalu sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah tetapi secara esensi (dzat) firman itu bukanlah Allah itu sendiri sebab menurut Yesus Allah itu adalah Roh” (Yoh 4:24).

Tentu saja benar Yesus pernah berkata bahwa manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Benar pula bahwa firman itu selalu sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Juga benar bahwa menurut Yesus Allah adalah Roh.

Tetapi apakah itu berarti Yoh 1.1, 14 bertentangan dengan ajaran Yesus hanya karena berbeda dengan data-data yang dikumpulkan, diseleksi, dan disajikan oleh sobat Danny? Juga, apakah kalau bukan ucapan Yesus sudah pasti salah? Bagaimana kalau ternyata ‘Kristologi Firman’ dalam Yoh 1.1-14 (bukan hanya ayat 1 dan 14) merupakan formulasi yang mengekspresikan penghayatan Yesus sendiri akan diri-Nya sekaligus iman Gereja kepada-Nya?

Suatu formulasi meski dengan kata-kata yang berbeda namun mempunyai kandungan arti yang sama dengan yang dimaksud oleh Yesus sendiri? Bukankah berkali-kali Yesus – dalam Injil Yohanes – menyatakan diri-Nya “Akulah Dia” (ego eimi, misalnya Yoh 6.20; 8.58; 13.19), suatu ungkapan yang kendati tidak menghapuskan perbedaan pribadiah antara diri-Nya dengan Sang Bapa, tetapi sekaligus juga menyatakan bahwa Ia memiliki kualitas esensial yang sama dengan Sang Bapa? Bukankah Yesus jugalah yang mengatakan kepada orang-orang Yahudi: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini” ? Bukankah Ia menyatakan dengan tegas: “Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku?”

Ketika Gereja Kristen Perdana mengidungkan syair pujian tentang Yesus Kristus dengan menyebut Dia Sang Firman, jelas Gereja Kristen Perdana menghormati Dia sebagai Jurubicara yang terakhir, final, dari Allah, yang menyatakan seutuhnya siapakah Allah bagi kita, karya-Nya demi keselamatan kita, dan kehendak-Nya atas kita (bdk. Yoh 1.18 dan Ibr 1.1-2).

Lalu kata Danny: “Yesus juga tidak pernah mengajarkan bahwa firman telah menjadi manusia, malah sebaliknya, Yesus mengakui bahwa dirinya hanyalah penerima firman seperti layaknya nabi-nabi yang lain. Yesus berkata kepada Allah: Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka (Yoh 17:8). Yesus juga bilang sama murid-muridnya: Aku telah memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yoh 15:15). Jadi Yesus itu juga menerima firman atau wahyu dari Allah seperti layaknya nabi-nabi yang lain.”

Pertanyaan saya, dalam kapasitas apakah Yesus menyampaikan firman Allah? Dalam kapasitas sebagai Dia yang diutus Bapa. Baik. Dia adalah Sang Anak yang datang dari sorga ke dalam dunia karena diutus oleh Sang Bapa. Benar, Yesus menerima firman dari Allah dan menyampaikannya kepada umat. Benar, Yesus berdiri dalam jalur tradisi kenabian dari Musa sampai Yohanes sang pembaptis. Tapi kalau kita jujur, kita juga harus mengakui bahwa Yesus membawa klaim yang melebihi para nabi agung. Tidak ada seorang pun di antara para nabi agung adalah Sang Anak dan berani-beraninya mengklaim relasi personal yang sangat khusus dengan Allah sehingga memanggil Allah Abba, Bapa. Tidak ada seorang pun di antara nabi agung yang mengklaim diri ‘Akulah Dia’ (ego eimi), juga mengklaim kendatipun untuk zaman mereka sendiri ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku’. Tidak ada seorang pun di antara para nabi agung yang berani menyatakan: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu” dalam menyampaikan firman Allah. Mereka hanya berani berkata, “Demikianlah firman TUHAN…” Apakah perbedaan ini luput dari pengamatan Danny? Mungkin ya. Mungkin juga tidak. Yang jelas, minat selektif yang dikontrol dengan prasuposisi tertentulah yang kita lihat dari ‘kristologi’ Bung Danny.

Lalu tibalah kita pada ‘analisis kritis’ Danny mengenai otentisitas Yoh 1.1-18.

Katanya,

“Setelah diselidiki asal-usulnya ternyata Yohanes 1:1-18 ini bukan dibuat oleh Yohanes murid setia Yesus tetapi merupakan hymna Platonis yang baru dikutip dan diedit kemudian dimasukkan sebagai pembuka Injil Yohanes. Siapa yang mengatakan demikian? Catatan kaki The New Testament of the New American Bible, 1970 hal 203 dan kesaksian bapa gereja Santo Agustinus dalam bukunya The Confession of St. Augustine.

Catatan kaki The New Testament of the New American Bible, 1970 hal.203 menuliskan:

Yohanes 1:1-18, pembukaan ini merupakan hymne berbentuk syair mungkin berasal dari karya bebas, yang kemudian baru dikutip dan diedit untuk berperan sebagai pembuka Injil.”

Baiklah. Mari kita cek langsung dari referensi yang dirujuk oleh Danny:

Prolog ini menyatakan tema-tema utama Injil ini: kehidupan, terang, kebenaran, dunia, kesaksian, dan praeksistensi Yesus Kristus, Logis yang berinkarnasi, yang menyatakan Allah Sang Bapa. Asal-muasalnya, barangkali ini merupakan sebuah hymne Kristen awali. Paralel terdekatnya adalah hymne-hymne kristologis lainnya, Kol 1.15-20 dan Fil 2.6-11. Intinya (Yoh 1:1-5,10-11,14) berstruktur puitis, dengan frasa-frasa pendek yang dikaitkan dengan “paralelisme tangga”, yang di dalamnya kata terakhir dari frasa yang satu menjadi kata pertama dalam frasa selanjutnya. Prose sisipan (setidaknya Yoh 1:6-8,15) berkenaan dengan Yohanes Pembaptis.

Bagaimana? Pembaca sendiri bisa menilainya. Sebagai orang Kristen yang tidak menafikan penelitian historis-kritis terhadap Alkitab, saya meragukan kejujuran Sdr. Danny. Kita tidak menemukan kalimat yang ditulis Bung Danny! Astaga, Bung Danny mengintrodusir ‘penemuan’ –nya sendiri dengan mengatasnamakan para sarjana New American Bible yang memiliki kompetensi akademik luar biasa itu!

Selanjutnya, nah ini dia, nama bapa gereja Agustinus dibawa-bawa:

Dan bapa gereja Santo Agustinus mengatakan: Buku filsafat platonis yang telah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin. di dalamnya saya baca (Pertanyaan saya: siapa yang membaca, Augustinus atau Danny? Mengertikah Danny bahasa Latin?), walaupun tidak sama persis tetapi jalan pikirannya sama, didukung dengan berbagai argumen, bahwa: Padamulanya adalah firman, dan firman itu bersama Tuhan, dan firman itu adalah Tuhan. (tanggapan saya: lagi-lagi kekacauan semantik! Pasalnya, dalam bahasa Latin kata yang diterjemahkan dengan ‘Tuhan’ adalah Dominus, sedangkan kata yang diterjemahakn untuk ‘Allah’ adalah Deus?). Segala sesuatu dijadikan oleh dia (firman) dan tanpa dia (firman) tidak ada yang dijadikan. (Persoalannya, mana kutipan dari yang buku filsafat Platonis itu?). Kemudian penyalin kitab Yohanes mengadopsi hymne ini, menempatkannya sebagai pembuka Injil lalu merubah kalimat firman itu adalah dari Tuhan menjadi firman itu adalah Tuhan (Pertanyaan saya: adakah buktinya? Lalu, kapankan penyalin kitab Yohanes itu mengintrodusir nyanyian Platonik ini? Berasal dari tahun berapakah nyanyian Platonik itu? Sementara itu kita memiliki fragmen Injil Yohanes yang memuat prolog dari tahun 125 M, sekitar tiga puluh tahunan setelah Injil Yohanes ditulis. Padahal, sangat mungkin yang dimaksud oleh Augustinus adsalah tulisan-tulisan Plotinus [penggagas Neo-Platonisme, 204-270] dan Porphyrius [233-304], yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh C. Marius Victorinus. Perhatikan: beda lebih dari seratus tahun setelah salinan tertua dari Injil Yohanes yang memuat Yoh 1.1-18!)

Mari baca Confessions Pasal 9 paragraf 13-14a secara lengkap! Kita menemukan Bapa Gereja Agustinus sedang memperbandingkan faham tentang Logos alias Sang Firman dalam ‘kitab-kitab Platonik’ dengan Kekristenan. Augustinus memang menjumpai adanya kesamaan, misalnya tentang keberadaan kekal Sang Firman dan kesehakikatan Sang dengan Allah. Akan tetapi Augustinus juga menemukan perbedaan! Dalam buku-buku Platonik tidak terdapat ajaran bahwa Sang Firman menjadi manusia, datang kepada umat manusia yang telah diciptakan dan menjadi milik kepunyaan-Nya. Tidak juga terdapat ajaran bahwa sementara banyak orang yang menolak Sang Firman yang telah menjadi manusia itu, setiap orang yang menerima Dia, yakni percaya kepada Sang Firman yang telah menjadi manusia, dikaruniai kuasa atau hak untuk menjadi anak-anak Allah. Itu yang berkenaan dengan prolog Injil Yohanes. Ia juga membandingkan bacaan Platonik itu dengan hymne tentang Kristus dalam Fil 2-5-11. Perbedaan mencolok segera ia temukan. Faham Platonik tidak mengajarkan bahwa Kristus yang kekal itu rela merendahkan diri, turun ke dunia, menjadi manusia yang menghamba dengan setia kepada Allah, bahkan sampai mati di kayu salib. Silakan Saudara sendiri menyimaknya (edisi terjemahan: Augustinus, Pengakuan-pengakuan [Yogyakarta/Jakarta: Kanisius/BPK-Gunung Mulia, c.u. 1999] 193-194).

Dari awal mula Kau hendak memperlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati, dan betapa besar kerahiman-Mu apabila Kautunjukkan kepada manusia jalan kerendahan hati, melihat kenyataan bahwa Firman-Mu telah menjadi daging dan diam di antara manusia. Oleh karena itulah Kauberikan kepadaku, dengan perantaraan seorang laki-laki yang bongkak pongah bukan main, beberapa buku karangan para filsuf dari aliran Platonis, yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin.

Di sana kubaca – sudah tentu tidak dengan kata-kata yang sama, tetapi maknanya sama benar, didukung oleh alasan yang banyak dan rumit – bahwa padamulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Dia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia; terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Meskipun jiwa manusia memberi kesaksian tentang terang itu, jiwa itu bukanlah terang itu; Firman Allah itulah Terang yang sesungguhnya yang menerangi setiap orang yang sedang datang ke dalam dunia. Dia telah ada di dalam dunia ini dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Namun, yang ini, yaitu bahwa Dia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya; tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya, hal itu tidak kubaca dalam buku-buku itu.

Begitu pula kubaca dalam buku-buku itu bahwa Firman, yaitu Allah, diperanakkan bukan dari daging, bukan dari darah, bukan oleh keinginan seorang laki-laki, bukan pula oleh keinginan daging, melainkan dari Allah. Akan tetapi, bahwa Firman itu telah menjadi daging dan diam di antara kami, dalam buku-buku itu tidak kubaca.

Memang sewaktu membaca-baca tulisan-tulisan itu, telah kutemukan dalam berbagai ungkapan dan bermacam-macam bentuk bahwa Anak, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang dirampas, sebab dari kodrat-Nya memang demikianlah Dia. Akan tetapi, bahwa Dia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, dan dalam keadaan sebagai manusia Dia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib, dan bahwa itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dari antara mereka yang mati dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan dalam kemuliaan Allah, Bapa”, hal itu tidak terdapat dalam buku-buku itu.

Apa yang dapat kita katakan? Bukan tidak mungkin terdapat kesamaan formal di antara Platonisme dan Kekristenan. Perlu kita ketahui, faham tentang Logos bercorak Platonik juga sudah digagas oleh Philo, cendikiawan Yahudi di Alexandria. Manakala Gereja Kristen Perdana mengekspresikan imannya tentang Kristus, bukanlah hal yang mengherankan apalagi salah apabila mereka melakukannya secara kontekstual. Toh isi pemahamannya sangatlah berbeda. Platonisme, Gnostisisme, dan Neo-Platonisme sangat merendahkan aspek jasmaniah atau ragawi dari manusia. Itulah sebabnya mereka hanya menerima keberadaan spiritual dari Sang Firman. Akan tetapi Gereja Perdana, juga Yohanes, bukan hanya mengagungkan Kristus yang pra-eksisten, dengan menyebut-Nya Logos alias Sang Firman, tetapi juga bersaksi dengan penuh sukacita bahwa Sang Firman itu telah menjadi manusia dan dengan demikian menyatakan siapakah Allah bagi kita, karya-Nya demi keselamatan kita, dan kehendak-Nya atas kita.

Sisipan karya Platonik? Suatu kesimpulan yang dangkal dan dari sesat-pikir karena tidak cukup memahami latar-belakang sejarah pemikiran dan agama-agama pada zaman Gereja Kristen Perdana!

Penutup: Apakah Yesus Allah?

Sekarang tibalah saatnya kita – meski secara ringkas – menegaskan penghayatan dan pemahaman iman kita tentang Yesus Kristus.

Apakah Yesus Allah?

Apabila yang dimaksud dengan Allah adalah Sang Bapa yang mengutus-Nya ke dalam dunia, jelas, Yesus bukanlah Allah! Yesus adalah Sang Anak, pribadi yang berbeda dengan Sang Bapa. Yoh 1.1 sendiri – yang dikritisi secara imajinatif oleh Danny – membedakan keduanya. “Padamulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. Apabila kita mengindahkan tata bahasa Yunani, kita menemukan bahwa kata Firman didahului kata sandang penentu ho. Jadinya, ho logos, Sang Firman. Lalu untuk kata Allah, kata yang pertama didahului kata sandang penentu ho pula. Jadinya, ho theos, Sang Allah. Sedangkan untuk yang kedua, ‘Firman itu adalah Allah’, kata Allah tidak didahului oleh kata sandang penentu. Sehingga bisa diterjemahkan sebagai berikut: Padamulanya adalah Sang Firman; Sang Firman itu ada bersama-sama dengan Sang Allah; dan Sang Firman itu adalah Allah. Catatan kaki New American Bible sendiri berkomentar:

‘Bersama-sama dengan Allah’: preposisi Yunani di sini menyiratkan adanya komunikasi dengan yang lain. ‘Adalah Allah’: tidak memiliki kata sandang penentu untuk ‘Allah’ dalam bahaasa Yunani, menunjukkan predikasi daripada identifikasi.

Apakah artinya predikasi dan bukan identifikasi? Jelas, Sang Firman bukan Sang Allah alias Sang Bapa (bdk 1.18). Tetapi Sang Firman bersama dengan Sang Allah memiliki kesamaan substansial. Hukum Granville Sharp dalam tata bahasa Yunani mengajarkan bahwa kata sandang penentu mengidentifikasikan suatu kata benda, sedangkan kata benda yang tidak berkatasandang penentu menunjukkan natur dari sesuatu yang ditunjuknya. Berarti, Sang Firman memiliki natur ilahi, sebagaimana halnya Sang Allah alias Sang Bapa. Tetapi Sang Firman bukan pribadi yang sama dengan Sang Allah alias Sang Bapa. (Demikian juga Sang Firman dan Sang Bapa bukan pribadi yang sama dengan Roh Kudus. Inilah Ketritunggalan Allah: esa dalam natur ilahi, tiga dalam pribadi).

Keilahian Sang Firman ditunjukkan oleh Yohanes dengan beberapa hal. Pertama: padamulanya (ay 1 dan 2). Kapankah ‘padamulanya’ dalam ay 1 itu? Lalu kapankah ‘padamulanya’ pada ay 2? Kalau Sang Firman ada padamulanya, dan Ia ada bersama-sama dengan Sang Allah (juga) padamulanya, bukankah itu berarti Sang Firman kekal sebagaimana Sang Allah itu kekal? Itulah keilahian Sang Firman. Kedua: Sang Firman menciptakan segala sesuatu (ay 3). Ketiga, Sang Firman ‘mengeksegesis’ atau menyatakan seutuhnya tentang siapakah sebenarnya Sang Allah kepada umat manusia (ay 18). Siapakah yang dapat melakukan itu kecuali Dia yang sehakikat dalam keilahian-Nya dengan Sang Allah? Keempat, ‘Firman itu telah menjadi manusia dan berdiam di antara kita’. Kata berdiam di sana, ‘berkemah’ adalah salinan bahasa Yunani dari bahasa Ibrani PL yang menunjukkan kehadiran Yahweh di tengah-tengah umat-Nya. Bukankah Yahweh hadir di tengah-tengah umat-Nya melalui Kemah Suci manakala mereka mengembara di padang pasir selepas dari Mesir menuju Tanah Terjanji? Bukankah Ia hadir pula di tengah-tengah umat-Nya melalui Bait Suci pada masa Kerajaan? Kini Sang Firman menjadi manusia, itulah kehadiran ilahi di tengah-tengah umat manusia.

Menurut Alkitab, Allah yang esa senantiasa berada sebagai Bapa dengan Firman dan Roh-Nya. Memang, ketika berkata-kata tentang ‘Allah’ pada umumnya Alkitab merujuk pada Sang Bapa. Dialah Allah. Akan tetapi, Allah tidak pernah tanpa Firman dan Roh-Nya. Allah tanpa Firman dan Roh-Nya bukanlah Allah yang hidup dan benar. Suatu saat dalam sejarah, Ia mengutus Sang Firman untuk menjadi manusia, itulah Yesus Kristus. Kemudian Ia mengutus pula Roh Kudus-Nya untuk memimpin setiap orang yang telah dipilih-Nya sebelum dunia dijadikan dan ditebus oleh Kristus agar mereka percaya kepada Sang Juruselamat. Bahkan, Roh itu berdiam di dalam diri setiap orang yang telah percaya kepada Yesus sebagai Tuhan (Gusti) dan Juruselamat, untuk menyertai dan menguduskannya. Luar biasa.

Jadi, apakah Yesus itu Allah? Yesus bukan Allah, Sang Bapa. Tetapi Dia adalah Sang Anak alias Sang Firman, yang ilahi sepenuhnya seperti Allah Sang Bapa. Dalam bahasa kredo, Allah Sang Putera.

Salam persahabatan untuk Bung Danny Meilandy!

http://forumteologi.com/blog/2008/07/28/apakah-yesus-allah/

arek said...

menurut keimanan kristen (3nitarian) yesus itu adalah allah itu sendiri, dengan segala kelebihannya dan saya dapati ayat2 yg tertulis dalam bible seperti dibawah ini.


1.(allah) diciptakan dari keturunan daud
"Tentang anakNya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud." (Surat Paulus kepada Jemaat di Roma 1:3)

"Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhta-Nya." (Kisah para Rasul 2:30)

2. nenek moyang (allah) berdasarkan silsilah yesus
"Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham..." (Matius 1:1 )

3. jenis kelamin (allah), pake sunat lagi.
"Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus." (Lukas 2:21)

4. bagian maria mengandung dan melahirkan (allah)
"Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki." (Lukas 2:6- 7)

"Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan." (Wahyu kepada Yohanes 12:2)

5. (allah) menetek pada seorang perempuan
"Ketika Yesus masih berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepadaNya: "Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau." (Lukas 11:27)

6. tanah air (allah)
"Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada jaman raja Herodes." (Matius 2: i )

7. (allah) memiliki profesi?
" Bukan Ia ini anak tukang kayu." (Matius 13:55) " Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria?" (Markus 6:3)

8. kendaraan (allah)
"Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda." (Matius 21:5)

"Yesus menemukan seekor keledai muda lalu ia naik ke atasnya." (Yohanes 12:14)

9. (allah) minum anggur (jika lahir di jawa pasti minum tuak) dan makan,
"Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata, " Lihatlah , Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa." (Matius 11:19)

"Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata, "Lihatlah, ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa." (Lukas 7:34)

10. kemiskinan (allah) yg tidak punya bantal
"Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya." (Matius 8:24)

11. milik (allah) yang remeh
"Aku membabtis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripadaku akan datang dan membuka tali kasutNya pun aku tidak layak." (Lukas 3:16)

"Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaianNya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian dan jubahNya juga mereka ambil. JubahNya itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja." (Yohanes 19:23)

12. (allah) berkehangsaan yahudi yang taat
"Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana ." (Markus 1:35)

13. (allah) loyal kepada pemerintah kaisar roma
"Berikan kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." (Matius 22:21 dan Matius 17:24-27)

I4. (allah) anak yusuf ?
"Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." (Yohanes 1:45)

15. ibu dan saudara-saudara (allah)
"Setibanya di tempat asalNya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperolehNya hikmah itu dan kuasa untuk mengadakan mukjizat- mukjizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibuNya bernama Maria dan saudara-saudaraNya perempuan semuanya ada bersama kita? ]adi dari mana diperolehNya semuanya itu?" (Matius 13:5456)

16. perkembangan hidup (allah)
"Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah ada padaNya." (Lukas 2:40)

17. perkembangan akal dan hikmat (allah)
"Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya dan besarNya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia." (Lukas 2:52)

18. dalam usia 12 tahun (allah) dibawa ke yerusalem
"Tiap-tiap tahun orangtua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berusia 12 tahun, pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu." (Lukas 2:41-42)

19. (allah) tidak berdaya
"Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriKu sendiri." (Yohanes 5:30)

20. (allah) tidak mengetahui waktu
"Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, Malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapak saja." (Markus 13:32)

21. (allah) tidak mengetahui musim
"Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas muridNya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau la mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daunan saja, sebab memang bukan musim buah ara." (Markus 11:12-13)

22. (allah) tidak terpelajar
"Waktu pesta itu sedang berlangsung, Yesus masuk ke Bait Allah lalu mengajar di situ. Maka heranlah orang-orang Yahudi dan berkata: "Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar! (Yohanes 7:14-15)

23. (allah) belajar dari pengalaman
"Dan sekalipun la adalah Anak, la telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya." ( Surat kepada Orang Ibrani 5:8)

24. (allah) diuji oleh iblis
"Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu Ia ditinggal empat puluh hari lamanya dicoba oleh lblis." (Markus 1:12-13)

25. iblis berulang kali menguji (allah)
"Sesudah iblis mengakhiri semua percobaan itu, ia mundur dari padaNya dan menunggu waktu yang baik." (Lukas 4:13)

26. (allah) sama dengan orang awam, diuji juga
"Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa." (Ibrani 4:151)

27. (allah) yang benar, tidak dicobai oleh yang jahat
"Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang fahat, dan la sendiri tidak mencobai siapapun." ( Surat Yakobus 1:13)

28. selain (allah ) diuji dengan kejahatan
"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya." ( Surat Yakobus 1:14)

29. (allah) mengakui dan bertobat
"Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibabtis olehnya." (Matius 3:13) Ini menunjukkan pengakuan atas dosa (Matius 3:6), bertobat daripadanya (Matius 3:11 ) ,

30. (allah) tidak datang untuk menolong orang-orang berdosa
" Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikutNya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. JawabNya: Kepadamu telah diberikan rahasia kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya:
"Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipum mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun." (Markus 4:10-12)

31. (allah) Datang Hanya untuk Bangsa Yahudi Saja
"Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel ." (Matius 15:24)

32. (allah) memecah-belah dan berat sebelah
"Keduabelas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria melainkan pergilah ke domba-domba yang hilang dari umat Israel ." (Matius 10:5-6)

33. selain dari yahudi, hanyalah anjing di mata (allah)
"Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." (matius 15:26)

34. kerajaan (allah)
"Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaannya tidak akan berkesudahan." (Lukas 1:33)

35. gelar kebesaran (allah)
"Raja orang Yahudi" (matius 2:2) "Engkau raja orang Israel " (Yohanes 1:49 dan 12:13)

36. (allah) yang tidak menyerupai tuhan
"Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus." (Matius 4:2)

"Pada pagi-pagi hari dalam perjalananNya kembali ke kota , Yesus merasa lapar." (Matius 21:18)

"Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas muridNya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar." (Markus 11:12)

38. (allah) haus
"Aku haus!" (Yohanes 19:28)

39. (allah) tidur
"Tetapi Yesus tidur." (Matius 8:24)
"Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur." (Lukas 8:23)
"Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam." (Markus 4:38)

40. (allah) letih
"Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu." (Yohanes 4:6)

41. (allah) Menangis
"Maka menangislah Yesus." (Yohanes 11:35)

42. (allah) sedih dan gentar
"Maka mulailah la merasa sedih dan gentar, lalu kataNya kepada mereka: "HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya." (Matius 26:37-38)

43. (allah) takut dan gentar
"Ia sangat takut dan gentar, lalu kataNya kepada mereka: "Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah." (Markus 14:34)

44. (allah) lemah
"Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa." (Lukas 22:43-44)

45. (allah) MengusirPedagang dengan Kekerasan dan Cambuk
"Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ." (Lukas 19:45)

"Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam hati suci didapatiNya pedagang-pedagang lembu, kambing, domba, dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar itu dihamburkanNya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkanNya." (Yohanes 2:13-i5)

46. (allah) tukang perang
"]angan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya." (Matius 10:34-36)

"KataNya kepada mereka: "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan mernbeli pedang." (Lukas 22:36)

47. (allah) kabur
"Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuhNya." (Yohanes 7:1)

48. (allah) tidak berani tampil di depan yahudi
"Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi." (Yohanes 11:53-54)

49. (allah) lari dari hadapan mereka
"Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia lompat dari tangan mereka." (Yohanes 10:39)

50. (allah) dilempari batu dan ngacir
"Lalu mereka mengambil batu melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah." (Yohanes 8:59)

51. (allah) dikhianati muridnya
"Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-muridNya. Maka datanglah Yudas ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata." (Yohanes 18: 2-3)

52. (allah) ditangkap dan dihina
"Dan orang-orang.yang menahan Yesus, mengolok-olok Dia dan memukuliNya. Mereka menutupi mukaNya dan bertanya: "Cobalah katakan siapakah yang memukul Engkau?" (Matius 26:67-68)

53. muka (allah) ditampar seorang penjaga
" Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar mukaNya sambil berkata: "Begitukah jawabmu kepada Imam besar? Jawab Yesus kepadanya.

"Jikalau kataKu itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kataKu itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?" (Yohanes 18:22-23)

54. (allah) dijatuhi hukuman mati
"Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati." (Markus 14:64)

"Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati! (Matius 26:66)

55. (allah) seperti seekor domba yang dibawa ke pembantaian

"Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan Ia tidak membuka mulutNya. Dalam kehinaanNya berlangsunglah hukumanNya." (Kisah para rasul 8:32-33)

56.akhir kesudahan (allah)

a. (allah) mati
"Lalu bersuaralah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawaNya." (Markus 15:37)

b. kematian (allah) sudah ditentukan
"Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah." (Roma 5:6)

"Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati." (Yohanes 19:33)

c. minta mayat (allah)
"Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Pilatus memerintahkan untuk menyerahkannya kepadanya. Dan Yusuf pun mengambil mayat itu." (Matius 27:58-59)

d. kain kafan (allah)
"Dan Yusuf pun mengambil mayat itu, mengafaninya dengan kain lenen yang putih bersih, lalu membaringkanNya di dalam kuburNya yang baru, yang digalinya di dalam bukit batu, dan sesudah menggulingkan sebuah batu besar ke pintu kubur itu, pergilah ia." (Matius 27:59-60)

e. pernyataan berkabung dengan kematian (allah) "Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: "Sesungguhnya, orang ini adalah orang benar." (Lukas 23:47)


ya, itulah hasil yg saya baca dalam bible, mudah2an berkenan di hati anda semuanya. jika memang ada yg memilih yesus sebagai tuhannya itu adalah pilihannya sendiri, urusan dia sendiri, dan resiko ditanggung sendiri.

DEDE WIJAYA said...

Keallahan Yesus Dan Tritunggal (2)
(Tanggapan Untuk Frans Donald)

Oleh : James Lola
Penulis tinggal di Papua yang untuk sementara waktu berada di Kupang

Umat Allah di dalam Perjanjian Lama memang terus menerus diperingatkan bahwa “Allah itu esa (echad)” (Ulangan 6:4). Hukum Taurat pertama dari sepuluh Hukum Taurat menegaskan: “Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu” (Kel.20:3). Pengakuan kepada Allah yang esa merupakan pengakuan mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar, di dalam Injil Perjanjian Baru, kita juga menemukan penegasan akan keesaan Allah tersebut, baik oleh Yesus (Yoh.10:30) maupun oleh rasul-rasul (1Tim.2:5). Kaum Unitarian menjelaskan bahwa kata esa di sini berarti bahwa itu adalah menunjuk kepada satu yang adalah numeri, tetapi yang dilupakan oleh para kaum Unitarian bahwa kata ECHAD ini sering berarti 'satu gabungan / a compound one', bukan 'satu yang mutlak / an absolute one', bisa terlihat dari contoh-contoh di bawah ini:

• Kej 1:5 - gabungan dari petang dan pagi membentuk satu (ECHAD) hari.
• Kej 2:24 - Adam dan Hawa menjadi satu (ECHAD) daging.
• Ezr 2:64 - seluruh jemaat itu satu (ECHAD) tapi terdiri dari banyak orang. (Catatan: ini hanya bisa terlihat dalam bahasa Ibraninya).
• Yeh 37:17 - dua papan digabung menjadi satu (ECHAD) papan.
Sebetulnya ada sebuah kata lain dalam bahasa Ibrani yang berarti 'satu yang mutlak' atau 'satu-satunya'.

Kata itu adalah YACHID. Contoh: Kej 22:2,16. Kalau Musa memang mau menekankan tentang 'kesatuan yang mutlak' dari Allah dan bukannya 'kesatuan gabungan' (a compound unity), maka dalam Ul 6:4 itu ia pasti menggunakan kata YACHID dan bukannya ECHAD. Tetapi ternyata Musa menggunakan kata ECHAD, dan ini menunjukkan bahwa Allah itu tidak satu secara mutlak, tetapi ada kejamakan dalam diri Allah.

Perkenalan pertama akan diri Allah dalam kejadian 1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi merupakan statement Allah akan diriNya sendiri yang jamak. Kata Allah tersebut adalah Elohim, Kata 'ELOHIM' mempunyai bentuk tunggal / singular yaitu 'ELOAH' yang digunakan antara lain dalam Ul 32:15-17 dan Hab 3:3. Tetapi dalam Perjanjian Lama kata 'ELOAH' hanya digunakan sebanyak 250 x, sedangkan kata 'ELOHIM' sekitar 2500 x. Penggunaan kata bentuk jamak / plural yang jauh lebih banyak ini menunjukkan adanya 'kejamakan dalam diri Allah'.

Memang harus diakui bahwa ELOHIM sering dianggap sebagai bentuk tunggal, tetapi yang perlu dipertanyakan adalah: kalau memang Allah itu tunggal secara mutlak, mengapa tidak digunakan ELOAH saja terus menerus? Mengapa digunakan ELOHIM, dan lebih lagi, mengapa digunakan ELOHIM jauh lebih banyak dari ELOAH?

Kejadian 1;26 ; 3:22; 11:7 Yesaya 6:8 Alkitab menggunakan kata ganti Kita untuk menyebut dirinya Allah, bukan saya atau aku! Berfirmanlah Allah baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita (Kej 1:26). Ada yang menafsirkan ayat ini adalah rapat antara Allah dengan para malaikatnya untuk menciptakan malaikat! Tetapi benarkah malaikat memiliki andil dalam menciptakan manusia?? Tidak mungkin sebab malaikat adalah makhluk ciptaan yang harus tunduk kepada Allah, dan kalau ini adalah malaikat maka manusia secara otomatis diciptakan juga berdasarkan kepada gambar dan rupa malaikat, dan itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.

Di samping itu, kata ganti orang bentuk tunggal dan jamak untuk menyatakan Allah, keluar sekaligus dalam satu ayat, yaitu dalam Yes 6:8 yang dalam versi NASB menterjemahkan: "Whom shall I send and who will go for Us?" (= Siapa yang akan Kuutus dan siapa yang mau pergi untuk Kami?). (Dalam hal ini terjemahan bahasa Indonesia keliru). Dan juga sering kali Allah berbicara kepada umatNya melalui Alkitab dengan istilah jamak, walaupun tunggal Ia menyebutkannya sebanyak tiga kali.

TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau: TUHAN menyinari engkau dengan wajahNya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajahNya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. (Bilangan 6: 24-26). Penggunaan nama 'TUHAN' (YAHWEH / YEHOVAH) 3 x berturut-turut dalam Bil 6:24-26 dan sebutan 'kudus' bagi Allah 3 x berturut-turut dalam Yes 6:3. Tidak anehkah bahwa ayat-ayat itu menyebutkan 'TUHAN' dan 'kudus' sebanyak 3 kali?
Mengapa tidak 2 kali, atau 5 kali, atau 7 kali? Jelas karena ada hubungannya dengan Allah Tritunggal! Dan juga Berkhof dalam Teologi Sistematika menyatakan bahwa di dalam Perjanjian Lama ditemukan ada begitu banyak ayat yang membicarakan tentang Malaikat Yehovah (yang merupakan personifikasi dari pribadi kedua dari Allah Tritunggal), yang disatu pihak berbeda dengan Dia, tetapi dipihak lain identik dengan Yehovah.

Dalam Kej 16:7 - disebut sebagai Malaikat TUHAN. Dalam Kej 16:13 - disebut sebagai TUHAN sendiri. Dalam Kej 22:11 - disebut sebagai Malaikat TUHAN. Dalam Kej 22:12 - disebut sebagai Allah sendiri. Juga, dalam Kel 23:20-23, malaikat TUHAN ini mempunyai kuasa untuk mengampuni dosa. Semua ini menunjukkan bahwa Malaikat TUHAN itu adalah Allah / TUHAN sendiri.

Bahkan dalam beberapa hal ketika Allah berbicara tentang diri-Nya dalam Alkitab menggunakan frasa yang menunjuk kepada lebih dari satu pribadi (Mzm.33:6; 45:6-7) dan di tempat lain Allah adalah pembicaranya dan menyebutkan baik Mesias maupun Roh (Yes.48:16; 61:1; 63:9,10). Jadi Perjanjian Lama berisi antisipasi yang jelas dari wahyu yang lebih lengkap dari Tritunggal dalam Perjanjian Baru.

Di dalam Perjanjian Baru lebih jelas terlihat penggambaran Alkitab tentang ketritunggalan. Dalam Matius pasal 28:19-20, dalam amanat agung Yesus sebelum terangkat ke surga memberikan kepada kita suatu pemahaman mengenai ketritunggalan Allah, Allah yang esa dengan 3 pribadi. Dalam Mat 28:19 dikatakan 'dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus'. Sesuatu yang menarik adalah: sekalipun disini disebutkan 3 buah nama, tetapi kata 'nama' itu ada dalam bentuk tunggal, bukan bentuk jamak! Dalam bahasa Inggris diterjemahkan name, bukan names. Karena itu ayat ini bukan hanya menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu setingkat, tetapi juga menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu adalah satu! Dalam Yohanes 14:23 Tuhan berkata “ Jika seseorang mengasihi Aku ..... BapaKu akan mengasihi dia, dan kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia ... Dalam fasal 17:11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepadaMu.

Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Injil Yohanes mengungkapkan kebenaran penting tentang adanya Allah Tritunggal, bahwa Bapa sebagai sumber (13:3) Allah Bapa belum pernah terlihat siapapun (1:18; 5:37) segala sesuatu yang Bapa punya anak juga punya(16:15) Bapa terekspresi oleh anak (14:7-11). Bapa yang diam dalam Anaklah yang mengerjakan pekerjaanNya (14:10). Bapa dan anak adalah satu (10:30) Bahwa Anak adalah firman yang hidup yang bersama dengan Allah (1:1), mengekspresikan Bapa (1:18), Sama dengan Allah (5:18,23) Ia datang dari Allah (13:3; 7:29) menyatakan Bapa (14:8,9) hidup oleh Bapa (6:57)Menjadi manusia (1:14) dan anak domba (1:29) dan kemudian mati mencucurkan darahNya untuk menebus manusia dari dosa (20:22). Dalam surat-surat Paulus, Petrus dan Yohanes serta Rasul-rasul yang lain juga kita dapat melihat bagaimana para Rasul memberikan begitu banyak implikasi dan pernyataan-pernyataan di dalam Kitab suci mengenai Tritunggal bahwa Alkitab benar-benar mengajarkan kepada kita doktrin Tritunggal.

Gal 3:13 4:5 Tit 2:13, Gal 4:4 Ibr 1:6 1Yoh 4:9, Gal 4:6, 1Kor 12:4-6 2Kor 13:13 1Pet 1:2 Wah 1:4-5. Dari pengajaran Alkitab tersebut, kita melihat bahwa di satu sisi Alkitab menegaskan keesaan Allah, tapi di sisi lain, kita menemukan adanya kejamakan di dalam keesaan tersebut yang menunjuk kepada ketritunggalan.

Sehingga untuk menjawab pandangan Donald bahwa Alkitab tidak mengajarkan tentang tritunggal dan bahwa doktrin tritunggal adalah hasil konsili yang penuh dengan unsur politik dan tradisi pagan maka saya menyimpulkan bahwa ada begitu banyak ayat di dalam Alkitab yang mengajarkan tentang Yesus yang adalah Allah sejati dan juga mengenai tritunggal, dan sekali lagi tidak ada agama lain yang mempunyai konsep Tritunggal seperti yang dipaparkan oleh Alkitab bagi kita (1 hakekat, 3 pribadi yang setingkat). Yang ada pada mereka adalah kepercayaan terhadap 3 allah / dewa (Polytheisme / Tritheisme), dan ini sangat berbeda dengan konsep kristen tentang Allah Tritunggal.

Sebagai contoh, dalam agama Hindu, Syiwa dipercaya sebagai dewa perusak, Brahma sebagai dewa pencipta, dan Wisnu sebagai dewa pemelihara. Jelas bahwa mereka dipercaya sebagai tiga dewa, yang bahkan berbeda sifat-sifatnya satu dengan yang lain. Kaum Unitarian khususnya Donald itu betul-betul bukan main tololnya kalau mereka menyatakan bahwa ajaran ini bersumber dari tradisi pagan. Doktrin Allah Tritunggal jelas berasal dari Kitab Suci, karena dalam Kitab Suci / Firman Allah inilah Allah mewahyukan / menyatakan diriNya kepada kita supaya kita bisa mengenal Allah yang benar.

Manusia tidak bisa mengerti doktrin Allah Tritunggal itu secara keseluruhan; lalu bagaimana mungkin manusia bisa menciptakannya?
Dan pada akhirnya dengan sedikit berbeda sikap dengan saudara Anton Bele yang menanggapi tulisan saudara Donald dengan sedikit keras dengan berkata ‘Anathema Sit!’ (Terkutuklah dia!), saya mau mengatakan kepada saudara Frans Donald dengan mengutip seruan Yohanes pembaptis kepada setiap orang yang mengaku mengenal Allah namun pada kenyataannya masih jauh dari Allah bahkan menolak Allah yang benar “bertobatlah, sebab kerajaan sorga sudah dekat!”(Matius 3:2), jangan tunggu sampai kesempatan itu ditutup dan Anak Allah yaitu Yesus Kristus yang berkata kepadamu “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan”(Matius. 7:21). Solideo Gloria.

http://www.timorexpress.com/index.php?act=news&nid=28101

DEDE WIJAYA said...

Tanggapan dari Pdt. Esra Soru:
http://pelangikasihministry.blogspot.com/2008/12/membongkar-inkonsistensi-kecurangan.html

http://pelangikasihministry.blogspot.com/2008/12/benarkah-doktrin-tritunggal-produk_11.html